LIMA BELAS

1589 Kata
CANDY   Hari ini aku kembali bersekolah. Tidak ada yang menarik perhatian kecuali orang-orang sekitarku yang berteriak, tertawa, berlarian, membuatku pusing saja. Aku belum bertemu dengan Dirga. Sialnya pagi-pagi seperti ini aku justru bertemu dengan Nada. Dia menghadangku dengan raut muka kesal. “Candy! Bisa nggak sih ngasih tau kemana kamu ngilangnya? Biar orang rumah nggak kebingungan!” “Ya udah nggak usah nyari aku. Apa susahnya sih?” Saat kulanjutkan lagi langkahku, Nada menarik tanganku. “Eh, aku udah berusaha buat sabar sama kamu. Tapi lama-lama kamu itu bikin kesel tahu nggak!” Kuulaskan senyuman miring menanggapi kalimat Nada. Daripada lama-lama di sini, lebih baik aku menjawab secepatnya dan pergi meninggalkan Nada yang menyebalkan. “Kan udah aku bilang, nggak usah capek-capek nyariin aku. Nggak bakal ada yang tahu aku kemana. Papa aja nggak seheboh kamu sama Mama kamu kok.” “Papa nggak tahu kalau kamu suka kabur!” “Bagus.” Aku melenggang dengan langkah cepat. Dari belakang bisa kudengar Nada megumpat kesal, namun aku tidak memedulikannya. Biarkan saja dia mengatakan apapun pada Papa. Aku tidak peduli.   *   Kelas dalam keadaan masih sepi. Aku duduk membaca buku di bangkuku. Sepertinya aku datang terlalu pagi. Teman-teman sekelasku banyak yang belum datang. Hanya ada beberapa siswa yang sibuk bermain di bangku mereka. Ada juga yang bermain di belakang. Lalu ada juga yang masih berkeliaran di depan. Aku tidak begitu memedulikan keberadaan mereka. Yang kulakukan saat ini setidaknya bisa membuatku lebih tenang. Apalagi di jam-jam saat ini, aku bisa memiliki waktu yang tepat untuk menyelami kata-kata indah dari novel yang k****a. Buku puisi milik Kahlil Gibran. Aku suka saja membacanya. Dari ambang pintu kulihat Gisha melangkah masuk ke dalam kelas. Tangannya mencengekram tali tas selempangnya. Dia menggigit bibir bawahnya begitu sampai di meja kami. Diletakkan tasnya di atas meja, lalu duduk di sebelahku. Dia menyelipkan rambut ke belakang telinga, menampakkan sebuah anting kecil yang menghiasi telinganya. Aku memandangnya sekilas. “Hai, Dy,” sapanya. “Hai.” Lalu aku kembali membaca buku puisi di tanganku. Gisha masih mencuri-curi pandang ke arahku. Berulang kali dia mengaitkan rambutnya. Tangannya diremas-remas. Aku yang melihat tingkah anehnya jadi mengerutkan dahi. “Aku turut berduka ya atas meninggalnya Farah,” Gisha menggumam pelan. “Kok sama aku ngomongnya?” tanyaku dingin. “Kan kamu juga deket sama dia.” Gisha tampak aneh. Wajahnya terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Aku jadi penasaran apa yang sedang disembunyikannya. Belum-belum aku sudah berasumsi dia pasti tahu penyebab meninggalnya Farah. “Jangan bilang kamu tahu kenapa Farah meninggal?” tanyaku dingin. “Nggak, nggak, nggak kok.” Gisha menutupi eksresinya dengan senyuman lebar. “Aku nggak tahu, sumpah. Aku juga denger dia terkena komplikasi.” Kutatap tajam Gisha. Ekspresi Gisha saat itu antara ketakutan dan berusaha tetap tenang. Dari gelagatnya, aku bisa menebak pasti Gisha tahu soal kematian Farah. Dia pasti tahu penyebab pastinya Farah meninggal. Aku harus segera mencari tahu. Bisa-bisa semua orang akan menutupi hal itu dariku. Aku akan pergi ke rumah Farah sore ini juga.   *   Rumah Farah terlihat lengang. Tidak ada tanda-tanda kalau rumah itu nyaman ditinggali. Aku merasakan hawa aneh saat sampai di teras. Rasanya seperti tidak nyaman saja seolah ada ribuan rasa duka menyelimuti rumah ini. Kuketuk pintu pelan sambil mengucapkan salam berkali-kali sampai akhirnya seseorang menyahut dari dalam rumah dan membuka pintu. “Nak Candy?” Ternyata ibu tiri Farah. “Silakan masuk.” Aku melemparkan senyuman ramah, kemudian memasuki rumah Farah yang luas. Aroma bebungaan menyeruak di seluruh ruangan. Kucari penyebab munculnya aroma harum itu. Ternyata di rumah Farah terdapat berbagai macam bunga yang diletakkan di beberapa tempat. Mataku menangkap bunga kesukaan Mama di ujung dekat tangga. Mama menyukai bunga lily, sama sepertiku. Aku jadi teringat Mama kalau melihat bunga itu. “Mau minum apa, Nak Candy?” tawar ibu tiri Farah. “Nggak usah. Saya cuma pengen ketemu sama ibu kandung Farah.” Sepertinya kalimatku baru saja telah menusuk rahang ibu tiri Farah. Dia menampakkan raut muka aneh. Kelihatannya permintaanku tadi kurang disetujui olehnya. Namun akhirnya dia mengembangkan senyuman tulus. “Oh… Mari tante antar ke kamarnya.” Kukembangkan senyuman puas. Ibu tiri Farah mengantarkanku naik ke lantai atas. Tak lupa kuamati rumah Farah sepanjang perjalanan menuju kamar itu. Banyak foto berjejer-jejer di dinding. Aku melihat satu foto gadis cantik di sebelah foto Farah. Dia sangat mirip dengan ibu tiri Farah. Pasti itu yang namanya Tiara. Aku jadi teringat Nada. Ibu tiri Farah berhenti di depan sebuah kamar bertuliskan nama Farah di pintunya. Kurasa itu adalah kamar Farah. Akhirnya pintu di buka dan nampaklah seorang wanita yang duduk menghadap jendela yang terkuak dan menampakkan ranting pohon yang menjorok hampir ke dalam. Ibu tiri Farah meninggalkan aku di sana. Aku segera mendekati ibu kandung Farah dan mulai mengajaknya bicara. “Kamu mau menanyakan soal kepergian Farah?” tanyanya sebelum kubuka mulutku terlebih dahulu. Aku mengangguk perlahan. “Iya.” “Sebaiknya kita berkenalan saja dulu.” Ibu Farah menoleh ke arahku sambil menyelipkan senyuman lembut. “Siapa nama kamu?” “Candy, tante.” “Oh, jadi kamu Candy? Perkenalkan, saya Ira.” Tante Ira mengulurkan tangannya. Kusambut uluran tangan itu dengan canggung. Aku tidak melihat tanda-tanda depresi darinya. Mungkinkah mental dan batinnya kuat sehingga dia tidak merasakan kepedihan luar biasa ditinggal anak kandungnya? “Farah senang sekali punya teman. Sayangnya dia dan kamu hanya mengalami pertemanan singkat.” Aku tidak pernah tahu kalau Farah suka menceritakan tentang diriku pada orang-orang yang disayanginya. Bagaimanakah dia menceritakan diriku pada mereka? Apakah Farah bercerita kalau aku adalah gadis brutal yang sering keluar-masuk ruang BK, kena masalah, dan lainnya? “Farah bilang kamu adalah gadis badung di sekolah. Kamu sering terkena masalah.” Seperti yang kuduga sebelumnya. Tante Ira mengenalku sebagai gadis badung. Dia pasti menyalahkanku atas kepergian anaknya. “Tapi dia juga bercerita kalau kamu anak yang baik. Kamu selalu menemaninya kalau dia kesepian. Kamu hibur dia. Kamu belain dia…” Pandangan tante Ira nampak kosong. Namun senyuman merekah masih belum dihilangkannya. “Dia sangat berterima kasih sama kamu.” Aku bergerak lebih mendekat. Kuelus pundak tante Ira. Senyumannya sangat damai, seperti senyuman Mama. Dia tampak lelah kalau kulihat dari sinar matanya yang redup. Sepertinya tante Ira kurang tidur. “Saya kemari ingin menanyakan—” “Saya tahu kalau kamu akan menanyakan hal itu.” Tante Ira beranjak dari kursinya. Dia berjalan menuju sebuah meja kecil di sebelah ranjang Farah. Kemudian membuka laci bagian atas dan meraih sesuatu dari dalamnya. “Ini adalah tulisan Farah sebelum dia meninggal.” Diulurkannya benda berukuran sedang yang ternyata sebuah buku harian. Aku mengambil buku harian tersebut dari tangan tante Ira. Kubuka isinya, terdapat coretan-coretan bernada amarah. Seperti Mama. Dia menulis semua hal yang dirasakannya. Farah terlihat sangat kesal, kalau kulihat dari tulisannya yang berantakan; aku pernah melihat tulisannya, tidak seberantakan ini. Aku sampai pada satu halaman, terakhir kali Farah menulis di buku harian itu.   16 Desember Aku capek! Nggak ada yang sayang sama aku! Semua orang jahat! Semua orang nggak peduli! Sudah sering aku mendapatkan cacian, ejekan, sikap kasar, semuanya yang bikin aku kesel! Mereka udah tahu kalau aku sering mencoba bunuh diri! Dan mereka menyebarkannya di f*******:! “Kenapa nggak dari dulu aja sih kamu matinya?” “Alah… sok caper kamu! Kamu kira kita bakal peduli gitu?!” Itu kata-kata yang aku terima dari mereka! Kenapa ya Tuhan? Kenapa mereka jahat? Apa salahku? Aku berusaha buat mengalah dan diam. Tapi mereka makin ngelunjak. Tadi temen-temen nemuin obat asmaku di tas. Mereka ngerjain aku. Mereka ngambil obat-obat itu dan ngebuangnya di tempat sampah sambil ketawa-ketawa. Jahat! Gisha cuma ngelihat kejadian itu, nggak ngebantuin. Nggak kayak Candy yang bakal bantuin aku! Aku beruntung pernah kenal sama Candy. Tapi aku nggak bisa sekuat dia. Aku terlalu lemah. Aku gampang putus asa. Aku gampang sakit hati. Aku pengen bisa sekuat Candy. Tapi nggak bisa. Aku capek ya Tuhan. Mungkin ini yang terakhir kalinya. Aku udah nggak kuat. Maafin Farah, Pa, Ma, Candy. Makasih udah peduli. Aku capek. Aku nggak tahan. Sebelumnya, aku pengen meluk Mama, nyium Mama buat yang terakhir kalinya. Aku nggak mau ngelihat Mama sedih lagi. Aku nggak bisa ngelihat Mama sedih. Kalau aku nggak ada, siapa yang hibur Mama? Tapi aku nggak kuat. Mudah-mudahan Candy bisa bantuin Mama. Mudah-mudahan Candy bisa ngehibur Mama. Maaf buat semuanya kalau kehadiranku di kehidupan kalian bikin kalian susah. Maafin Farah…   Mendadak kakiku lemas dan lututku bergetar membaca bagian terakhir di buku harian Farah. “Farah meninggal bukan karena komplikasi. Dia bunuh diri.” Tante Ira memandangku sedih. Dia berusaha mempertahankan senyumnya walaupun kelihatan sekali kalau itu adalah senyuman palsu. Aku masih berdiri, mengamati tulisan Farah dengan amarah yang merambat di sekujur tubuhku. Benar seperti dugaanku. Farah meninggal pasti ada penyebabnya. Kini pertanyaanku telah terjawab. Bukannya lega, aku justru marah. Marah terhadap semua orang yang menyebabkan hal ini terjadi. “Kemarin malam tante merasa seperti bermimpi.” Tante Ira duduk di kursi tadi. Dia kembali memakukan pandangannya ke luar jendela. “Ada yang mencium dahi tante. Rasanya memang seperti nyata. Atau itu memang nyata, Farah yang mencium dahi tante, entahlah. Dan besok paginya saat tante bangunin dia, tidak ada jawaban sama sekali sampai akhirnya tante buka pintu kamarnya dengan kunci cadangan. Farah gantung diri di kamarnya.” Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua ini membuatku syok. Ingin kuhajar semua anak yang menyebabkan Farah tertekan hingga mengambil tindakan bunuh diri. Aku memang sering mencoba mengakhiri hidupku tanpa sepengetahuan siapapun. Tetapi Tuhan masih memberikanku kesempatan hidup. Farah dan aku sama-sama korban di sini. Korban bullying. Dan aku berharap, hal seperti ini segera berakhir sebelum jatuh korban lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN