TUJUH BELAS

1569 Kata
CANDY   Ketika aku pulang, kulihat Papa pulang. Bagus, aku sudah merindukannya. Tetapi yang membuatku sedih adalah saat dia, Nada, dan Mama Rosa saling bercandaan. Mereka tertawa-tawa melihat album foto. Mereka tampak sangat bahagia sampai tidak menyadari kepulanganku. Aku hanya memandang mereka dari pintu. Lancang rasanya kalau aku ikut ke dalam kebahagiaan mereka. Mungkin aku yang tidak tahu diri di sini. Aku bukan lagi bagian dari mereka. Aku hanya suka membuat keributan dan membuat nama keluargaku jelek di mata orang. Bagaimana bisa aku menuntut kebahagiaan dari mereka kalau aku sendiri berkelakuan jelek? Maka, kulangkahkan kakiku menjauh dari sana, menuju kamarku dan bisa menyendiri. Mereka masih tidak menyadari kehadiranku saat kakiku sampai di tangga. Kurasa, lebih baik kuabaikan saja mereka. Aku tidak berani menegur, takut mereka kehilangan momen bahagia sebagai keuarga jika melihatku pulang. Sesampainya di kamar, kulempar tas sekolahku sembarang tempat. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, meraih sebuah kotak yang menyimpan benda-benda berhargaku, dan mengeluarkan beberapa benda di sana. Salah satu yang kukeluarkan adalah foto-foto lamaku. Banyak kenangan yang terlalu manis di masa-masa itu, masa dimana aku masih belum mengerti rasa sakit, kepedihan, dan terluka. Aku sangat menikmati duniaku bersama Mama, Papa, dan Dirga. Kami tampak seperti kumpulan orang-orang yang tinggal di sebuah dunia kecil. Dunia yang mana tidak ada satu orang pun yang mengganggu kami. Sampai akhirnya Mama Rosa dan Nada hadir. Menghancurkan semua kenangan indah dan membangun kenangan burukku. Rasanya sedih jika aku harus kehilangan kenangan indah itu, kehilangan Mama dan kehilangan perhatian Dirga yang hanya diberikan padaku. Dirga memang sudah bukan anak-anak. Dia mulai dewasa. Dia memiliki aktivitasnya sendiri. Dia memiliki kesibukan. Tidak mungkin jika terus-terusan Dirga menjaga dan menemaniku seperti dulu. Aku meletakkan tas ke atas ranjang, berganti baju, lalu merebahkan badan di atas ranjang untuk beristirahat. Aku mengamati langit-langit kamar dan teringat kebersamaanku dengannya di tadi. Dia masih peduli. Tapi aku tak boleh banyak berharap. Dia peduli karena aku adalah sahabat masa kecilnya. Kusentuh dadaku yang tiba-tiba bergemuruh aneh. Detak jantungku begitu cepat dan riuh. Aku membuang napas panjang. Kugulingkan badan ke kanan dan kiri. Mengapa perasaanku jadi seperti ini? Sudut-sudut bibirku tiba-tiba tertarik ke atas membentuk senyum simpul. Aku tak pernah menyangka reaksinya jadi sedahsyat ini. Aku berbaring lagi, mengamati langit-langit dan meletakkan tangan di atas perut. Sejak dulu dia perhatian padaku. Seharusnya aku tidak seperti ini karena hal itu menjadi sesuatu yang biasa saja, kan? Aku mencoba menghapus pikiran seperti itu. Lalu tiba-tiba senyum di wajahku lenyap. Aku berbaring miring memeluk guling. Bola mataku melirik menuju ponsel yang kugeletakkan di samping kepala. Aku berharap dia menelepon atau sekadar mengirim SMS. Aku meraih dan memerhatikan layar ponselku yang masih bergeming, tak ada tanda-tanda bahwa dia akan menghubungi. Apakah aku yang lebih dulu menghubungi? Aku menggeleng dan melemparkan ponsel itu ke atas ranjang. Tapi pada akhirnya aku bangkit, duduk bersila, lalu meraih ponsel dan mencari nomornya. Kudekatkan ponsel pada telinga. Yang kudengar adalah nada sambung yang memberikan informasi bahwa teleponnya sedang sibuk. Aku menggigit bibir bawah. Kugeletakkan lagi ponsel itu ke atas ranjang, lalu turun untuk mengambil minum di dapur. Melewati kamar Nada, aku mendengar suara kikikan tawa. Pintu kamarnya dibiarkan terbuka sehingga memberiku akses untuk mengintip ke dalam. Aku tidak pernah bertindak seperti ini. Akan tetapi, tawa lepas dan intonasi Nada yang terdengar sangat bersemangat dan bahagia membuatku sedikit penasaran. Maka, aku berdiri di balik pintu kamarnya, mengintip ke dalam. Kulihat dia tertawa cekikikan dengan ponsel berada di telinganya. Dia berbaring di atas ranjang, menggigit buku-buku jarinya gemas,  dan tersenyum hingga membuat wajahnya memerah. Dia... seperti sedang jatuh cinta... Itulah yang kulihat dari wajahnya yang menampakkan raut muka sumringah. “Enak aja! Aku bukan anak manja ya!” Nada terlonjak duduk. “Bukan! Tuh, kan. Hobi banget sih ngatain orang. Nggak pas ketemu, nggak di telepon, kamu selalu bikin aku bete.” Bibirnya tercebik ke bawah. “Ah masa? Akal-akalan kamu aja nih biar aku nggak bete sama kamu?” Dia memain-mainkan bonekanya dan menggigit bibir bawah. “Ya udah, kapan-kapan ajakin aku ke sana dong. Jangan cuma omong doang ya. Ah, kamu mah cuma pamer-pamer dan iming-iming, nggak ada niat buat ngajak aku makan bareng di sana? Bercanda kok. Tapi kalau beneran nggak apa sih. Hahahaha.” Perhatian Nada praktis beralih menuju pintunya yang terkuak sedikit. Dia menyadari keberadaanku di luar kamarnya, sedang mengintipnya. Buru-buru aku kabur sebelum dia memergokiku dan melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu. Baru beberapa langkah, Nada menegurku. Aku mendesah pendek dan menghentikan langkah kaki. Kuputar badanku menghadap dirinya. “Kenapa cuma bengong di sana? Ada apa?” tanyanya. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. “Nggak apa.” “Mau masuk?” Wajahnya kelihatan sumringah. “Nggak.” Sebelum dia makin besar kepala, aku berbalik untuk pergi. Dia masih berdiri mengamatiku, bahkan sampai aku lenyap di balik dinding dapur. Aku berhenti di depan kulkas. Kubuka kulkas mencari botol air minum dan mengeluarkannya. Kuletakkan botol plastik tersebut di atas meja dan memungut gelas dari gantungan. Aku duduk di balik meja, menuangkan air dingin ke dalam gelas. Bibirku berdekatan dengan tepi gelas yang telah berembun. Tiba-tiba aku berhenti meneguknya. Pikiranku melayang ke suatu hal hingga membuatku tercenung selama beberapa saat. Siapa yang ditelepon Nada tadi? Mengapa dia terdengar dan terlihat sangat bahagia? Dia tertawa selepas itu, sudah pasti yang meneleponnya bukan sembarang orang. Apakah Dirga?   *   Hari libur seperti ini biasanya kugunakan untuk memainkan pianoku atau mengagumi panorama di danau tempat biasanya aku menyendiri. Namun untuk saat ini, aku memilih bermain piano di rumah saja. Pagi-pagi Nada sudah ribut mencari sepatunya. Suaranya terdengar sampai di bawah. Karena aku tidak pernah memedulikan apapun darinya, maka kuabaikan saja dia. “Ma! Mana sih sepatu yang kemaren aku taruh di sini?” Mama Rosa keluar dari dapur meninggalkan bibi, menghampiri Nada di kamarnya. Suara langkah kakinya terdengar ketika dia menaiki tangga. “Kayaknya kamu lupa naruh deh, Nad. Coba cari lagi. Emang mau kemana?” “Oh iya, udah!” Nada berlari tergesa-gesa menuruni tangga diikuti Mama Rosa. Kulirik saja dia dari tempatku tanpa mengatakan apapun. “Mau belajar bareng Dirga, Ma.” Nada tampak sumringah mengatakan kalimat itu. Jemariku berhenti menekan tuts-tuts piano mendengarnya. Kulemparkan pandangan tanya sekaligus terkejut. Sejak kapan Dirga belajar bersama Nada? Aku tidak pernah mendengar Dirga menyebut-nyebut Nada kalau kami bertemu. Tapi bagaimana bisa aku tidak tahu kalau Nada akan belajar bersama Dirga? Nada yang berjalan melewatiku seketika berhenti mengamati ekspresiku. Dia mengamati penampilannya sediri, kemudian menaikkan sebelah alisnya sebagai tanda tanya. “Ada yang salah?” Aku menggeleng cepat dan mengubah mimik wajahku. “Nggak kok.” “Oke…” Nada mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum akhirnya melangkah riang. Mungkin aku terlalu sibuk dengan kegiatanku sehingga tidak menyadari bahwa Nada dan Dirga saat ini sedang dekat. Atau mereka baru sekali melakukan belajar kelompok? Setahuku mereka tidak pernah belajar. Biasanya mereka hanya akan pergi jika sedang mencariku. Lagipula Nada beda kelas dengan Dirga. Mana mungkin mereka belajar kelompok. “Kok berhenti?” Papa datang dan menghampiriku. “Lanjutin lagi dong mainnya.” Aku tersenyum simpul dan menengadah memandangnya. “Papa mau dengerin lagu yang biasanya Mama ajarin ke Candy nggak?” Papa mengusap rambutku. “Boleh.” Aku mulai memainkan melodi yang biasanya Mama ajarkan padaku. Aku sering memainkannya di rumah Mama. Biasanya aku akan memainkannya kalau aku sedang merindukannya. Aku sangat menikmati melodi yang kumainkan. Nada-nadanya selalu membuatku tenang. Mama yang menciptakannya sendiri. Dia memang mencintai musik, sepertiku. Dia bilang padaku kalau dulu dia memiliki impian sebagai pianis. Aku ingin membangun impian Mama. Karena aku juga menyukai musik, sejak kecil aku ingin menjadi komponis, musisi, atau boleh juga menjadi pianis. Hanya saja aku terlalu malu dan tidak begitu memikirkan impianku. Untuk saat ini rasanya berat mencoba mengejar impian itu. Apalagi tak ada yang menyemangatiku. “Wah… kamu emang berbakat ya jadi pianis,” kata Papa memuji keahlianku. Dia duduk di sebelahku. “Nggak semahir Mama, dong.” Aku memikirkan sebuah pertanyaan yang ingin kuberikan pada Papa. Entahlah apakah dia akan menjawabnya atau justru tidak mau mengungkit-ungkit segala hal tentang Mama. “Pa, Candy boleh nanya sesuatu?” “Boleh. Kenapa nggak?” Aku menarik nafas sejenak sebelum menanyakannya pada Papa. Aku takut kalau kusinggung tentang Mama, Papa justru marah dan tidak mau lagi berbicara padaku. Tapi karena terlanjur penasaran, aku tanyakan saja pada Papa. “Papa tahu apa saja tentang Mama?” Akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari mulutku. Papa tampak terkejut mendengar pertanyaanku. Dia tidak membalasnya langsung. Tidak lama setelah itu, baru dia membalas pertanyaanku. “Yang Papa tahu tentang Mama kamu itu… dia wanita yang hebat. Dia sangat menyayangimu. Dia sayang sama keluarganya.” “Hanya itu?” Aku merasa kalau Papa memang tidak terlalu memahami Mama. Tampak sekali dari wajahnya, dia seolah tidak mengenali Mama seperti aku mengenalnya. “Ya… Papa rasa, Mamamu itu wanita yang hebat.” Aku menunduk sebentar. Sebenarnya tidak enak kalau kuungkit-ungkit masa lalu. Tetapi daripada aku penasaran, lebih baik kutanyakan langsung saja pada Papa. “Tapi kenapa Papa berpisah sama Mama?” Bisa kurasakan ketegangan yang dirasakan Papa saat aku menanyakan pertanyaan itu. Dia tampak grogi, bingung menyikapi bagaimana. Aku jadi merasa tidak enak juga membuatnya seperti itu. Tapi aku terlanjur penasaran dan rasa penasaran jika dibiarkan justru membuat pikiranku tidak nyaman. “Sebaiknya jangan singgung itu lagi.” Papa tersenyum. Setelah itu beranjak menjauhiku dengan langkah gontai. Aku hanya bisa melihatnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Rasanya ada yang salah dengan perutku. Kalau menyinggung soal itu, entah kenapa mendadak perutku mual. Aku jadi tidak semangat lagi memainkan pianoku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN