DUA PULUH

1678 Kata
CANDY   “Mainnya jangan curang dong! Punyamu kan udah habis!” Kuamati potret diriku sebagai anak kecil, sibuk dengan botol gelembung sabun di tanganku. Di sana, tampaklah tempat yang baru saja kudatangi bersama Dirga, aku dan Dirga yang masih kecil sedang sibuk dengan botol gelembung sabun yang kami bawa. “Minta dikit dong! Pelit amat sih.” Dirga berusaha merebut botol yang kubawa. “Enak aja! Salahnya sendiri kenapa punyamu dihabisin.” Aku menjulurkan lidah dan berlari sambil membuat gelembung panjang. Dirga berusaha mengejarku, masih membujukku untuk membagi gelembung yang kubawa. Tapi aku tidak memedulikannya. Aku masih berlarian, tertawa, dan akhirnya terjatuh begitu kakiku terantuk batu. Kuamati lututku yang berdarah. Aku yang masih kecil menangis melihat darah keluar dari luka di lututku. Masih kuingat jelas bagaimana rasanya, sangat perih. Dirga mendekat dan berdecak melihatku. “Makanya, jadi orang jangan pelit sama temennya sendiri.” Dirga mengamatiku kasihan. “Sini, sini, aku gendong aja ya sampai ke Mama-Papa kita.” Aku menganggukkan kepala, masih beruraian air mata kesakitan. Dirga menggendongku di punggungnya. “Kamu berat banget, Dy,” kata Dirga. “Jalan sendiri aja deh.” “Jahat banget sih. Masa nolongin aku nggak mau? Aku kan nggak bisa jalan. Kakiku sakit nih.” Aku mengerucutkan bibir. “Ih… kamu aja pelit sama aku.” “Lain kali nggak deh…” Dirga menggeleng-gelenggkan kepalanya. “Beneran ya?” “Tapi kamu juga sih suka iseng. Main rebut aja.” “Itu namanya berbagi. Jangan jadi cewe pelit dong.” Dirga masih berjalan, membawaku menuju orangtua kami. Senyumku terkembang mendengar ia berceloteh. Aku sandarkan kepalaku di atas bahunya. Mataku perlahan-lahan terkatup. Lelah seharian bermain, pada akhirnya aku tertidur, mengabaikan rasa sakit pada lututku. Sampai ada suara yang memanggil namaku cukup keras. “Candy?” Aku membuka mata, menyadari keberadaanku saat ini. Bagaimana bisa aku di kamarku sendiri sedangkan baru saja aku dan Dirga pergi berdua? Kukerjapkan mataku berkali-kali, mencoba mengembalikan kesadaranku. “Candy? Sudah bangun?” Papa memasuki kamarku dan duduk di sebelahku. “Kamu nggak ngerasa sakit?” Kugelengkan kepalaku sebagai jawaban. “Nggak kok.” Teringat olehku akan pertanyaan yang baru saja mampir di pikiranku. “Kok Candy bisa ada di sini?” “Kamu ketiduran di mobilnya Dirga. Terus dia nganterin kamu sampai ke sini.” “Dirga kemana?” “Udah pulang.” Papa mengelus rambutku. “Ya udah, kamu lanjutin tidur aja ya.” Papa berdiri dan melangkah menjauhi ranjangku. Ketika tangannya sampai di kenop pintu, dia berbalik badan dan menunjuk ke arah meja belajarku. “Itu beberapa hadiah dari Papa, Mama, sama Nada. Selamat ulang tahun ya. Maaf Papa nggak bisa bikin perayaan buat kamu. Sebentar lagi Papa ada tugas di luar kota. Jadi sekarang Papa harus siap-siap.” Aku tersenyum simpul. Papa keluar dari kamarku dan menutup pintunya. Kulihat meja belajarku, terdapat banyak hadiah yang diletakkan berdampingan, dari yang kecil sampai ada yang besar. Aku beranjak dari tempat tidur, meraih kado-kado yang ditinggalkan di sana. Setelah kusobek bungkusnya, bisa kulihat jelas apa saja yang diberikan oleh Papa, Mama Rosa, dan Nada. Kado yang paling besar berisi sebuah boneka besar, hadiah dari Papa. Mama Rosa memberikan handycam. Dan Nada memberiku beats berwarna ungu. Kugeletakkan hadiah-hadiah itu di meja belajar. Sambil melihat jam dinding di kamarku yang sudah menunjukkan pukul 18.30, aku berjalan menuju kamar mandi. Mengingat apa saja yang kulakukan bersama Dirga tadi justru seperti mengingat mimpi. Aku tidak bisa merasakan apakah itu nyata atau hanya mimpi. Yang terpenting aku sudah berusaha mengembalikan sosok Candy yang dulu, dan rasanya sangat aneh seolah aku tidak pernah memahami diriku sesungguhnya. Seolah aku masih asing untuk mengenali diriku sendiri. Rasanya sungguh aneh.   *   Aku memainkan piano dengan panduan kertas partitur, memainkan salah satu komposisi Einaudi. Baru beberapa menit kugunakan untuk bermain piano demi melepas penat, suara musik menggebu-gebu terdengar tiba-tiba. Aku sontak menghentikan jariku yang menekan barisan tuts. Kuhentak jariku secara bersamaan menimbulkan bunyi denting yang keras. Aku membuang napas panjang. Kepalaku terangkat menuju lantai atas. Nada benar-benar bikin kesal. Aku mengangkat tubuhku, berjalan cepat nyaris berlari, menuju kamarnya. Di dalam kamar, kulihat Nada yang sedang menari-nari, berputaran, melonjak-lonjak, sampai membuat rambutnya yang panjang tersentak. Dia melompat-lompat di atas ranjang, lalu melompat turun begitu melihatku membuka pintu kamarnya yang menjeblak terbuka. “Nad, jangan keras-keras dong. Berisik. Ganggu banget tahu, nggak?” tegurku. Nada tidak peduli dengan gerutuanku. Dia menarik tanganku agar masuk ke dalam kamarnya, membuatku mengerutkan dahi. “Daripada marah-marah, mending ikut aku joged-joged deh.” Dia tertawa cekikikan. Bola mataku terputar ke atas. “Nggak.” “Ayo, Dy!” Ditariknya tanganku dan digerak-gerakkan ke atas. Aku diam saja, membiarkan dia memain-mainkan tanganku, seperti mengajakku berdansa. Kedua tanganku dipegang dan digerakkan sesuai dengan irama musik yang dihidupkannya. Aku memandanginya tanpa mengikuti kesintingannya. Kutarik tanganku, melangkah hendak pergi, namun lagi-lagi tanganku ditarik dilarang pergi darinya. Aku membuang napas panjang. “Aduh, Nad. Udah deh, nggak usah sinting kayak gini,” kataku kesal. “Ihhh Candy, aku kan lagi seneng. Makanya aku pengen berbagi kebahagiaan sama kamu.” “Seneng kenapa?” aku bertanya penasaran. “Pokoknya lagi seneng aja.” Dia tertawa panjang dan melompat di atas ranjangnya, berbaring menghadap langit-langit kamarnya yang pucat. “Jatuh cinta tuh begini ya, Dy?” “Hah?” Sebelah alisku tertarik ke atas. Nada menoleh ke arahku. Dia duduk bersila tanpa menghapus senyum di bibirnya. Tatapannya mengawang ke atas. “Rasanya deg deg ser gitu. Aku nggak pernah suka sama orang kayak gini.” Dia tersenyum-senyum sendiri dan membenamkan wajahnya pada bantal. Kepalanya lalu diangkat untuk bersipandang denganku. “Mau nemenin aku nggak ke mall? Aku traktir deh. Kamu mau beli apa aja terserah.” Sebelah alisku terangkat skeptis. Aku sejujurnya tidak suka belanja. Nada masih merajuk, memohon-mohon diriku untuk ikut dengannya sambil menampilkan wajah yang benar-benar memelas. Aku memutar mata dan pada akhirnya memutuskan untuk mengiyakan ajakannya. Dia melompat girang dan memelukku. Aku mengerutkan dahi, agak mendorongnya agar menjauh, tapi dia tetap terlonjak-lonjak senang tanpa melepaskan tangannya dari tubuhku. Dengan segera, dia mengambil tas dan menarik tanganku untuk mengikutinya pergi.   *   Di mall, aku hanya mengekori Nada yang bolak-balik keluar masuk toko-toko berbeda untuk membeli ini dan itu. Dia memintaku untuk memberikan penilaian terhadap baju-baju yang dipilihnya. Aku memandangnya malas dan menunjuk asal-asalan baju-baju yang dipilihnya. Berulang kali dia berganti baju hanya untuk meminta pendapatku. “Yang itu juga bagus,” kataku. “Kamu mah bilang bagus sama semua baju, Dy.” Nada mengernyit kesal. “Ya gimana lagi? Emang bajunya bagus-bagus.” Nada menggembungkan pipi. Pada akhirnya, dia memilih salah satu baju yang berhasil dipilihnya. Dibawanya baju yang dipilihnya ke kasir untuk dibayar. Aku menunggu dengan duduk di belakang manekin yang memperagakan gaun bertali tipis. Kuamati manekin di depanku sampai terdengar suara Nada. “Candy nggak mau beli sesuatu di sini?” tanyanya, nyaris seperti teriakan yang lantang. Aku menggeleng. “Nggak.” “Ya udah. Mungkin kita cari di tempat lain aja ya.” Dilanjutkannya transaksinya dengan kasir, membayar belanjaannya. Kasir mengangsurkan tas belanja Nada. Gadis itu berjalan riang menghampiriku dan mengajakku melanjutkan perjalanan mengitari mall besar ini. Kakiku sudah kesemutan. Berkali-kali aku duduk di salah satu sofa, menunggu Nada memilah-milah pakaian yang dianggapnya cantik. Kadang pula menggerutu dan menyeret Nada, memintanya untuk cepat memilih dan membayar ke kasir. Sampai kami di tokoh sepatu pun, Nada tetap mengulur-ulur waktu. Dia menawarkan sepatu-sepatu keluaran terbaru padaku, tapi kubalas dengan gelengan kepala. Dia membawa sebuah sepatu kets dan memadukannya dengan kakiku. “Apaan sih?” tanyaku risih. “Ini bagus kalau kamu pakai. Ukuran sepatu kamu berapa?” “Aku nggak mau.” “Lah, tujuanku ngajak kamu kan buat beliin kamu juga, Dy. Bukan belanja sendiri.” Matanya diputar ke atas. Ditariknya kakiku sampai membuatku terpekik. Tanpa meminta ijin, dia melihat ukuran sepatuku yang tercetak pada lapisan karetnya. “Tigapuluh delapan ya!” “Aku kan bilang nggak mau!” “Bodo amat.” Nada menjulurkan lidah. Dibawanya sepatu di tangannya pada salah seorang petugas toko, meminta nomor yang sesuai dengan ukuranku. Aku merapikan poni ke samping, agak kesal dengan tingkahnya. Kubiarkan saja dia membelikanku sepatu itu. Kalau sudah menjadi milikku, aku berhak untuk memakai atau malah membuangnya. Tapi melihat wajah Nada yang sangat cerah, aku jadi tidak enak. Dia telah membopong tas belanjaan berisi sepatuku. Aku mendekatinya dan membantunya membawakan tas-tas belanjanya. “Biar aku bantu,” kataku menawarkan diri. Nada mengembangkan senyum sumringah. Diangsurkan satu tas belanjanya padaku. Ralat, tas belanjaku. Sebab isinya adalah sepatu yang dibelikannya. Kami berjalan bersama keluar dari tokoh. Sepanjang jalan, dia berceloteh tak henti-hentinya, membicarakan merek-merek bagus yang ingin dibelinya. Dia juga berencana membelikanku jam tangan yang sama dengan miliknya nanti. Dia ingin memiliki jam kembaran. “Nggak usah. Jangan boros,” tegurku. “Mending duitnya ditabung dan buat beli sesuatu.” Bibir Nada mengerucut ke depan. “Pokoknya aku pengen kembaran sama kamu. Kan lucu kalau dipake.” Langkahnya terhenti. Dia menggandengku memasuki salah satu toko yang menarik perhatiannya. Aku mendesah panjang, membiarkan dia menjelajahi jam tangan yang dipamerkan di balik etalase. “Yang itu, Mbak. Modelnya ada yang sama? Saya mau dua,” katanya, menunjuk sebuah jam tangan yang ingin kembaran denganku. Si petugas toko mengeluarkan jam tersebut dan meletakkannya di atas etalase. Mata Nada berbinar-binar begitu jam lain yang memiliki model sama disandingkan di sampingnya. Dia menarik lenganku lebih mendekat untuk melihat jam tangan yang sudah dipilihnya. “Lihat deh, Dy. Lucu, kan?” Aku tersenyum dan mengangguk. Dia mengambil jam tersebut tanpa membutuhkan persetujuanku. Nada bertepuk tangan girang sekali. Dia menerima tas kecil berisi dua kotak jam tangan yang dibelinya. “Itu tadi kan mahal, Nad,” kataku saat kami sudah berada di luar toko. Nada mendekatkan tubuhnya di sampingku dan melingkarkan tangannya di sekitar pundakku. Aku mengamati tangannya. “Nggak apa kok. Aku seneng bisa beliin kamu,” jawabnya. “Aku seneng kita bisa akrab kayak gini. Cuma ini yang aku mau dari kamu, Dy. Aku nggak nuntut lebih. Aku cuma pengen kita bisa kayak kakak-adek lainnya.” Kutatap dirinya dalam kebisuan. Nada menjauhkan tangannya dariku dan mengubah topik pembicaraan. Selama itu pula aku mengamatinya tanpa membuka suara. Lalu mengulum senyum simpul.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN