“Dika? Ke mana kamu?” Luna berseru sepanjang hari, melemparkan pertanyaan serupa yang diulang-ulang. Hal tersebut dilakukannya sampai senja datang membuat langit berganti petang.
Luna berkeliaran mencari-cari keberadaan Dika yang tak lagi muncul di depannya. Ia ingin mencarinya di rumah Dika, tapi Dika tidak pernah mengatakan padanya di mana ia tinggal. Maka, yang bisa dilakukan oleh Luna hanyalah mencari di taman tempat mereka pertama kali bertemu.
Akan tetapi, Luna tidak menemukan temannya itu. Ia nyaris putus asa. Di bangku taman, ia duduk seorang diri. Bahunya bergetar diikuti suara isak tangisnya. Ia menangis sesenggukan tidak menemukan lagi sosok Dika. Ke mana perginya satu-satunya orang yang menyayangi dan disayanginya itu?
Tangan Luna yang lemas mengusap air mata yang sudah lulur di kedua pipinya. Ia mengatupkan tangan pada muka. Sampai seseorang menegur dengan menyentuh pundaknya. Luna terkesiap. Ia mengira bahwa yang datang adalah Dika. Dengan segera ia menjauhkan tangan dari wajahnya dan mengangkat kepala sambil menampakkan cengiran senang. Alih-alih Dika, justru petugas keamanan taman yang menghampirinya.
“Dek, udah mau magrib. Tamannya mau ditutup.”
Bibir Luna tercebik ke bawah. Wajahnya memberengut. Dengan lunglai, ia bangkit berdiri meninggalkan bangku taman. Untuk ke sekian kali, ia menengok ke belakang. Berharap Dika muncul dan memanggil namanya lantang seperti biasanya. Datang secara tiba-tiba dari arah manapun, seperti sesosok malaikat yang datangnya tak dapat diprediksi. Namun sampai kakinya melangkah kian jauh, Luna tak kunjung menemukan Dika. Ia melangkah makin gontai meninggalkan taman dan memutuskan untuk pulang. Mungkin besok cowok itu akan menemuinya seperti biasa.
Luna melangkah di sepanjang trotoar dengan pandangan dan pikiran kosong. Jari-jemarinya dimainkan selama berjalan pulang. Rasanya ia tidak mau pulang. Pasti yang ditemukannya di rumah hanyalah suara ribut orangtuanya. Luna lelah mendengarnya.
Nah kan, benar dugaannya. Sesampainya ia di rumah, didengarnya percek-cokan orangtuanya di ruang tengah. Ia melangkah masuk acuh tak acuh. Wajahnya sudah ditekuk masam. Tidak menemukan Dika, kini ia harus mendengar suara melengking orangtuanya yang membuatnya kesal. Luna mengerucutkan bibir. Ia membanting kamar.
“Woy! Anak setan! Kalau nutup pintu jangan kenceng-kenceng!” Papanya berteriak keras.
Luna peduli setan dengan teriakan itu. Ia mengunci pintu dan mendorong sofa pendek di dalam kamarnya, meletakkannya di balik pintu agar pintu kamar tersebut tidak dimasuki siapapun. Jika Papanya marah, ia pasti bisa menjadi korban kemurkaannya. Maka untuk mengambil jalan aman, Luna memasang pengaman di pintu itu dan meringkuk di bawah ranjang.
Pintunya digedor-gedor. Gadis itu meringkuk memeluk tubuhnya.
“Luna! Buka! Anak setan!”
“Siapa yang kamu bilang anak setan!” Mamanya ikut berteriak. “Kita belum selesai!”
Mereka kembali melanjutkan keributan. Luna menggigit bawah bibirnya kuat-kuat, meredam suara-suara tersebut dengan telapak tangan yang ditekan pada daun telinga rapat. Ia bersenandung dalam gumaman sekadar menepis suara-suara ribut di kamarnya. Di atas nakas, dilihatnya benda berkilau. Gadis itu terdiam selama beberapa detik. Lantas merangkak keluar dari bawah ranjang.
Sebuah pisau diletakkan di samping piring buah di atas nakas. Ia meraih pisau tersebut dan mengamatinya dengan saksama. Di bawah lampu kamarnya yang bersinar muram, Luna memain-mainkan pisau tersebut. Mata pisau itu berkilat tertempa cahaya.
“Kamu di mana sih, Dik? Kok pergi nggak ajak-ajak? Kan aku juga mau ikut,” bisiknya. Matanya bergerak menatap lurus ke depan. Menatap jendela kamarnya yang terkadang diketuk oleh Dika pada malam hari. Kini, tak ada yang mengetuk jendela itu. Ke mana cowok itu? Kenapa meninggalkannya sendirian?
Luna mengangkat tangannya, mendekatkan mata pisau pada pergelangan tangan, namun tiba-tiba menggeleng. Ia meletakkan pisau tersebut ke atas nakas, di tempat semula. Ia membuka loker nakasnya dan melihat sebuah botol putih. Dipungutnya botol tersebut dan diangkat tinggi. Ia membawa botol di tangannya ke dalam kamar mandi. Di depan cermin, gadis itu menekuri wajahnya yang pucat. Rambutnya berantakan, mencuat ke sana-sini. Botol putih di tangannya diletakkan di atas wastafel. Matanya mengekori sebuah lipstik yang ditinggalkan di dekat wastafel. Gadis itu meraih lipstik berwarna merah menyala miliknya, memulas bibirnya rata dan mengecapnya. Lalu dipandangi dirinya di depan cermin dengan senyum manis madu. Ia berlari lagi menghampiri lemari pakaiannya. Dibukanya lemari pakaian dari kayu mahal itu. Jemarinya memilah-milah pakaian yang digantung oleh hanger. Luna memungut salah satu gaun kesukaannya. Ia memadupadankan gaun tersebut pada tubuhnya dan berputar-putar.
Usai mengenakan gaun berwarna putih gading dengan pita merah itu, ia menghidupkan musik larat dari piringan hitam koleksinya yang diletakkan di atas bufet. Luna berjalan riang memasuki kamar mandi lagi. Ia mengamati dirinya yang sekarang sudah mengenakan gaun putih dan bergincu merah. Bibirnya yang sangat merah itu mengembangkan senyum lebar memenuhi wajahnya.
“Mungkin kalau berdandan secantik ini dia datang,” katanya. Ia meraih sisir di dekat wastafel dan menyisir rambut panjangnya. Sangat pelan dan hati-hati seakan tak ingin satu helai pun rontok.
Sambil mengikuti instrumen musik hasil komposisi Beethoven dengan gumaman, Luna terus menyisir rambutnya sampai rapi. Setelah itu ia meletakkan sisir hitam itu di sebelah wastafel.
“Padahal aku pengen main piano bareng sama kamu,” katanya lagi.
“Minum obatnya, Luna. Mungkin dengan begitu kamu menemukan Dika.” Ada selenting suara yang berbisik demikian di telinga Luna. Gadis itu mendengarkan dengan saksama bisikan-bisikan riuh yang memerintahkannya melakukan hal serupa.
Gadis itu meraih gelas yang memang selalu ditinggalkannya di dalam kamar mandi untuk berkumur. Mengisinya dengan air keran. Ia meraih botol putihnya dan membuka penutupnya. Ia mengambil tiga butir obat dari dalam botol tersebut dan menelannya dengan air. Kepalanya berdenyutan sakit. Ditatapnya obat di genggamannya. Ia lalu merogoh beberapa butir lagi. Oh tidak, sekarang menuangkan hampir seluruh isinya di atas telapak tangan. Dalam sekejap mata, ia menelan seluruh butir pil tersebut bersamaan dengan air yang menuruni kerongkongannya.
Selama beberapa saat sakit kepalanya menghilang. Namun hal itu tak bertahan lama. Detik lain ia terjatuh di atas lantai dan tak sadarkan diri.
*
Rupanya Tuhan masih menyayangi Luna. Ia terselamatkan setelah dibawa ke rumah sakit oleh pembantu dan Mamanya—kamarnya didobrak oleh satpam rumah setelah Papanya pergi lagi. Ia ditemukan di lantai kamar mandi dalam keadaan mulut berbusa. Seandainya mereka telat membawanya ke rumah sakit, mungkin nyawa Luna tidak tertolong.
Sekarang gadis itu berbaring di rumah sakit masih dengan selang infus terpasang di tangan. Ia berbaring miring mengamati jendela kamar rawatnya yang berbau obat. Selang infus di tangannya dimain-mainkan. Tatapannya kosong.
“Dika belum ke sini,” bisiknya sedih.
“Mungkin dengan cara lain dia akan menemuimu.” Lagi-lagi suara itu datang lagi. Suara asing tanpa pemilik.
Luna mengubah posisinya menjadi celentang. Ia mengamati keadaan di sekitarnya yang sepi. Tidak ada seorang pun di kamar rawatnya kecuali dirinya sendiri. Lalu, siapa yang berbisik itu?
Bisikan itu makin lama makin mengganggunya. Pada akhirnya ia mematuhi perintah bisikan asing tersebut dengan melompat dari atas bangkar. Ia melepas jarum infusnya dari tangan. Lalu berjalan perlahan meninggalkan kamarnya masih dengan baju rumah sakit yang kedodoran di badannya. Ia menyusuri lorong rumah sakit yang masih diramaikan pengunjung. Terus berjalan tak tentu arah. Barulah ia berhenti saat melihat seorang suster mendorong meja dorong yang diisi dengan peralatan medis. Saat suster tersebut berhenti dan masuk ke dalam ruangan, Luna menghampiri meja dorong. Ia memungut salah satu jarum suntik dan obat dalam botol yang tak ia ketahui gunanya, lantas berlari meninggalkan meja dorong tersebut sebelum si suster keluar lagi.
Gadis itu memasuki kamarnya lagi tanpa menutup pintu. Ia mengamati botol kaca dan jarum suntik yang sekarang sudah ada di tangannya. Disedotnya cairan dari dalam botol kaca tersebut. Ia mengangkat tinggi-tinggi jarum suntik tersebut. Lalu meletakkan ujungnya pada pangkal leher. Sebelum ibu jarinya menginjeksi cairan ke dalam tubuhnya, sebuah suara wanita tiba-tiba terdengar menegurnya.
“Apa yang kamu lakukan, Nak?!”
Luna menoleh. Menemukan seorang wanita paruh baya membeliak kaget di ambang pintu kamar rawatnya.
Aku mengenal baik dokter Diana. Dia baik. Dia mengerti keadaanku. Dia sangat membantu. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat aku bermain-main dengan jarum suntik di sebuah rumah sakit dan dia menyingkirkan jarum suntik itu dariku. Sebelumnya aku dibawa ke rumah sakit karena keracunan. Dan setelah itu aku masih berusaha untuk bunuh diri dengan jarum suntik.
Dokter Diana selalu memberikanku obat penenang tiap aku resah. Dia saggup membuatku merasa lebih tenang. Kehadirannya sangat kubutuhkan. Aku tidak habis pikir, kenapa orang sebaik dia mengalami hal yang sangat pahit. Dia dicampakkan suaminya yang menikah lagi dengan perempuan lain. Aku pasti sudah membunuh laki-laki itu kalau aku adalah dokter Diana. Tapi dokter Diana mengatakan bahwa sesuatu yang buruk tidak boleh dibalas dengan keburukan juga. Dan aku menyayangkan sikapnya yang sangat lembut dan baik. Dokter Diana tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.
Alasan kenapa aku keracunan saat itu adalah karena aku kehilangan satu-satunya orang yang mengerti diriku. Dia meninggalkanku. Sementara orangtuaku memaksaku untuk menerima lamaran orang yang tidak kusuka.
Semakin lama aku tumbuh menjadi gadis yang liar hanya karena faktor lingkunganku. Aku tergiur dengan tawaran teman-temanku, mulai kelayaban sampai tengah malam, menjelajahi night club, berlomba-lomba menghabiskan bir, dan tertawa lepas seakan tak memiliki beban.
Sampai dokter Diana mengajarkanku apa itu sesungguhnya obat untuk sakitku. Dia selalu berusaha memberikan petuah dan aku seakan terhanyut mendengar semua nasihatnya. Dokter Diana adalah salah seorang psikiater di rumah sakit tempatku dirawat. Dia selalu datang ke kamarku untuk membujukku ini dan itu. Dia pendengar yang baik.
Setelah aku berpisah dengan seseorang yang berarti dalam hidupku, setidaknya kehadiran dokter Diana sangat membantuku. Di saat aku merasa sendirian, dokter Diana akan menemaniku. Dia akan memberikan obat-obatan untukku. Tanpa sepengetahuan orangtuaku pastinya. Dokter Diana tidak pernah menuntut bayaran. Dia membantuku secara cuma-cuma karena sudah menganggapku seperti keluarganya sendiri. Aku sudah mengatakan padanya tidak usah memberitahukan apa yang terjadi padaku ke orang lain, terutama orangtuaku. Cukup kami berdua saja yang tahu. Sebelum aku mengenal dokter Diana, aku tidak pernah tahu apapun tentang diriku. Dokter Diana yang menjelaskan semuanya. Dan aku tidak terkejut, aku justru berterima kasih padanya.
Luna