"Allohumma sholli 'ala sayyidina muhammad, bi adadi man sholla alaih.."
Ditelangkupkan wajahnya diantara kedua telapak tangan. Gadis itu menangis tersedu-sedu, disela bibirnya yang masih tetap mengucap shalawat.
Disepertiga malam, Aisya terbangun dan tahu-tahu matanya sudah penuh dengan airmata yang mencoba keluar mengaliri pipinya. Ternyata mimpinya mampu mengusik ketenangan juga jiwanya.
Laki-laki yang dipanggilnya Mbah Kung, ayah dari Bundanya datang dalam mimpinya. Sebenarnya dia tidak tahu betul bagaimana wajah kakeknya yang sesungguhnya, toh waktu dia lahir kakeknya itu sudah meninggal sejak lama. Dia hanya tahu kakeknya dalam foto album, dan dari cerita Bundanya. Bundanya selalu senang kalau Aisya meminta untuk diceritakan tentang kakeknya itu, menceritakan kalau beliau adalah pria yang baik, yang begitu tahu tentang agamanya, juga yang selalu mengajarkan tentang apa itu buah dari kesabaran.
Dan pria itu yang tadi datang dalam mimpinya, tersenyum kearahnya. Entah kenapa, mengingat mimpi itu Aisya menjadi sedih. Bertahun-tahun dia hidup dan tumbuh menjadi gadis remaja, namun baru kali ini dia merasa sangat dekat dengan Kakeknya, wajah yang mulai keriput namun cerah bersinar mendekatinya, dan telapak tangan yang samar dilihatnya terasa menyentuh puncak kepalanya. Dimimpinya, Aisya merasa tidak bisa berkutik, tertegun melihat wajah Kakeknya yang mulai semakin samar karena silaunya. Kemudian seiring matanya yang mulai memejam merasakan sentuhan dipuncak kepalanya yang menenangkan, saat itu juga sosok didepannya menghilang, pergi tanpa dia ketahui kemana.
Perasaannya menjadi sangat sedih, kenapa sosok yang baru ditemuinya itu hanya sekejap hadir dan meninggalkannya lagi. Matanya menelusuri setiap sudut yang ada disekitarnya, dia baru sadar kalau semuanya berwarna putih, dan tidak berujung. Dia semakin khawatir, bagaimana caranya dia keluar. Sampai akhirnya dia menemukan seseorang yang berdiri membelakanginya, dia tampak seperti laki-laki, tinggi dan punggungnya yang terlihat tegap. Apa dia adalah kakeknya yang menghilang tadi?
"Mbah Kung, Mbah.."
Panggilnya sembari menangis tersedu, rasa takut juga rindu membuatnya dia larut dalam isakan.
Namun matanya tiba-tiba terbuka, dan keadaan sekitarnya tidak lagi berwarna putih. Juga tidak ada lagi sosok yang sedang dipanggilnya.
Itu alasan kenapa Aisya terbangun sepagi ini, dan tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Tidak habisnya dia mengucapkan shalawat, Bundanya selalu bilang kalau shalawat adalah obat paling mujarab untuk menenangkan hati yang sedang kalut.
"Aisya, kamu kenapa Nak?"
Suara bariton terdengar dari luar kamar.
Ayah? Ayahnya mendengarnya menangis.
Dia segera melangkahkan kakinya menuju pintu, dan terlihat pria yang sering dipanggilnya angelman, berdiri dan memasang wajah yang khawatir apalagi melihat mata Aisya yang sembab, dan airmatanya yang masih tersisa mengalir dipipi.
"Ayah."
Aisya menghambur dipelukan Ayahnya yang berprofesi sebagai dokter itu.
"Kenapa Ais? Ada apa denganmu? Katakan sama Ayah, apa yang sudah terjadi?"
Ucap pria itu penuh rasa khawatir.
"Ayah, Aisya bermimpi Mbah Kung."
Pria bernama Iqbal itu terhenyak, bagaimana mungkin putrinya itu bermimpi tentang kakeknya yang tidak pernah dia temui.
"Aisya juga bertemu dengan laki-laki, tapi Aisya tidak tahu itu siapa Yah. Aisya sedih, kenapa Aisya tidak memeluk dan mencium Mbah Kung saat itu."
Ucap Aisya kembali menangis dipelukan Iqbal.
"Sudah sudah, kita sholat tahajud saja ya. Kita doakan Mbah Kung, doa sama dengan cara kita memeluk dan mencium penuh kasih sayang seseorang yang sudah tiada."
Ucap Iqbal melepas pelukan putrinya. Dan menarik tangan Aisya, menuntun gadis itu untuk segera mengambil air wudhu.
***
"Aisyaaa.."
Teriak seorang gadis dengan suara melengkingnya, yang berhasil membuat Aisya menutup telinganya.
Gadis itu sepagi ini sudah datang kerumah, padahal hari ini hari minggu. Sekarang pun Aisya masih belum mandi, dan masih santai dengan handset ditelinga juga kacang yang ada disampingnya. Hari minggu seperti ini, rumahnya tetaplah sepi. Ayah dan Bundanya tetap bekerja.
"Ada apa sih Va? Kenapa harus pakek teriak segala!"
Sentak gadis itu. Dan dibalas sahabatnya itu dengan cengiran khas orang yang pura-pura tidak bersalah.
"Eh lo beneran habis ini mau ke acara Harlahnya SMA Tunas Wijaya?"
Tanya Adiva. Aisya menepuk keningnya, dan segera melepas handset yang menempel ditelinganya.
"Gue lupa. Jam, jam.. Jam berapa sekarang?"
Tanya Aisya, tapi langsung menarik lengan Adiva yang ada jamnya.
"Gila, jam 8.. Gue telat, gue telaaat."
Gadis itu pun segera berlari masuk kedalam rumah. Meninggalkan sahabatnya yang berdecak melihat tingkahnya. Selalu seperti ini.
"Untung gue yang jadi sahabat lo."
Gerutu Adiva, yang mengambil alih kacang dimeja. Dan mencabut handset yang ada diponsel Aisya, lalu menambah volumenya semakin keras.
"Diva, diva.. Ayo anterin gue ke SMA Tunas Wijaya."
Adiva tersedak, baru Aisya masuk kedalam rumah. Dan belum lima menit gadis itu didalam, sekarang sudsh keluar dan memakai baju rapi lengkap dnegan sepatu dan kerudung pashmina yang ujungnya hanya disampirkan di bahunya.
"Aisya! Lo gak mandi?"
Adiva masih tercengang melihat sahabatnya yang ajaib itu, meski hanya berganti baju tapi itu juga butuh waktu yang lama.
"Nggak."
Aisya menggeleng dan segera menarik tangan Adiva.
"Anterin gue ya, gak ada kendaraan dirumah. motor lagi dibawa Bunda, mobilnya yang pasti dibawa Ayah. Anterin ya?"
Aisya memohon namun tetap membawa Adiva berlari.
"Iya iya, lo bisa tenang gak sih?"
"Nggak, gue nggak bisa tenang. Ini udah jam delapan, dan acara itu dimulai lima belas menit lagi. Mati gue kalau nggak hadir tepat waktu, soalnya si manusia dingin itu nyuruh gue bawa undangan, dan tanpa undangan kita nggak bisa masuk."
Jelas Aisya yang masih menarik Adiva.
"Oke oke, tapi motor gue ada disana. Kenapa lo narik gue keluar halaman rumah lo."
Adiva menghentikan langkah Aisya, dan menunjuk motor yang tidak jauh dari pekarangan rumahnya. Dan mereka sudah melewatinya jauh.
Aisya menunjukkan cengirannya, seperti halnya Adiva tadi.
"Gue terlalu buru-buru mungkin."
Jelas Aisya tidak mau disalahkan.
"Bukan buru-buru, tapi semangat mau ketemu Kak Syarif."
Balas Adiva sembari berjalan cepat kearah motornya yang terparkir.
"Apa sih lo."
Semangat? Semangat darimana kalau sudah dihadapkan dengan laki-laki super datar seperti Syarif.
***
"Eeh minggir minggir.."
Adiva tidak sempat mengerem motornya, karena segerumbulan anak-anak tiba-tiba ada didepannya.
"Maaf ya, maaf."
Adiva turun dari motor, dia bersyukur kalau anak-anak itu adalah anggota paskibra sekolahnya yang sedang mengantri. Setidaknya kalau ada apa-apa, dia dan Aisya tidak merasa takut. Haha.
"Aisya, kamu sudah datang."
Arkhan datang dan langsung menuju Aisya yang sedang melepas helm.
"Kita sudah terlambat lima menit, kamu segera ke Syarif yang ada ditempat masuk."
Dan perjalanan ditempuh hanya dalam waktu dua puluh menit. Padahal rumah Aisya dan SMA Tunas Wijaya butuh waktu setengah jam untuk sampai. Bagaimana pun kalian bisa membayangkan sengebut apa Adiva.
"Iya Kak iya, baik."
Aisya segera berlari, meninggalkan Arkhan yang menanyai Adiva, apa dia baik-baik saja.
Aisya sudah berada ditempat masuk. Namun dia kesusahan mencari Syarif, laki-laki itu seperti upil yang nyempil, aissh apasih. Keadaan genting seperti ini masih saja mengibaratkan seseorang.
Tiba-tiba matanya tertuju pada punggung, yang pernah dia lihat sebelumnya. Baiklah, tidak jarang banyak orang memiliki postur punggung yang sama, tapi dia tahu betul, punggung itu pernah dia temui sebelumnya dan sudah direkamnya dalam ingatan. Punggung yang dilihatnya ketika dalam mimpi.