"Halo, Assalamualaikum."
Gadis itu mengangkat ponsel yang sejak tadi berdering karena panggilan masuk. Tiga panggilan tertolak karena sedang dia tinggal menunaikan sholat ashar, siapa juga yang menelfonnya sore-sore begini saat semua murid masih sibuk pulang kerumah.
Waalaikumsalam, Aisya, ini aku Arkhan. Maaf, nomerku ganti dan nggak ngasih tau kamu.
Suara diseberang sana membuatnya ingat pada satu-satunya sosok yang sekarang masih membuatnya sering merasa nyaman didekatnya.
"Oh iya Kak, maaf tadi aku pergi sebentar. Ada apa Kak?"
Ucap gadis itu dengan antusiasnya.
Setelah ini kamu sibuk nggak?
Sibuk? Kenapa tiba-tiba Arkhan menanyakan hal itu. Aah, mana aku bisa tebak hati pengagum senja sepertinya, pikir Aisya terlampau normal.
"Insyaallah enggak sih, soalnya Ayah sama Bunda juga masih habis maghrib pulangnya. Memangnya kenapa Kak?"
Kalau gitu bisa ikut aku nggak Aisya?
"Kemana Kak?"
Cari kado untuk Aila, tanggal satu maret besok dia bertambah umur, jadi aku nggak nyia-nyiain waktu itu buat bikin dia seneng. Kalo kamu nggak keberatan, bisa anterin aku nyari kadonya dan ikut milihin. Nanti pulangnya aku teraktir deh.
Jelas Arkhan.
Sudah kuduga, kalau ujung-ujungnya tetap selalu tentang gadis itu, karena memang hidup Arkhan setengahnya harus mempunyai masa dengan gadis itu. Aila seharusnya bangga, bisa mempunyai seseorang yang begitu menghargai keberadannya, dan selalu ingin memberi yang terbaik untuknya.
Kenapa Aisya? Kalo kamu nggak bisa, nggak apa-apa kok. Biar aku cari sendirian.
Ucap Arkhan karena terlalu lama menunggu jawaban Aisya. Dia merasa tidak enak sudah mengganggu Aisya hanya untuk kepentingannya sendiri.
"Tidak, tidak Kak. Aku mau membantumu mencari kado. Setidaknya selera perempuan pasti ada yang sama, kalo yang nyari Kak Arkhan sendirian mah mana bisa."
Aisya mencoba mengurangi rasa tidak enaknya Arkhan, meski yang dikatakannya akan menimbulkan rasa sakit berlebih.
Baiklah kalo gitu, siap-siaplah, lima belas menit lagi aku sudah ada didepan rumahmu.
"Oke Kak, Assalamualaikum."
Aisya menutup telfonnya, tanpa menunggu jawaban dari seberang.
Lima belas menit lagi, dia akan dihantui dengan kalimat Arkhan.
Mana yang bagus untuk Aila menurutmu?
Atau yang ini juga bagus untuk Aila?
Bagaimana kalo kamu yang memilih kado untuk Aila?
Haash, kalimat itu akan didengarnya segera. Dia menghembuskan nafas berat dan melangkahkan kakinya keluar kamar, mencari Bi Suri, pembantu rumah tangga yang sudah bekerja saat Aisya berumur dua tahun. Aisya mengatakan pada wanita paruh baya itu untuk mempersilahkan masuk laki-laki bernama Arkhan, dan memintanya untuk menunggu sampai Aisya selesai siap-siap.
***
"Neng Aisya, ada temen Neng Aisya namanya Arkhan. Sudah Bi Suri persilahkan duduk, dia menunggumu Neng."
Ucap wanita itu sembari memasuki kamar Aisya, gadis itu tidak sama sekali marah ataupun curiga pada satu-satunya pembantu yang ada dirumahnya itu. Bi Suri bukanlah pembantu yang suka mencari sela waktu ketika majikannya tidak ada untuk bersenang-senang dan bersantai-santai, Ayahnya Aisya tahu betul siapa yang dia pilih menjadi asisten rumah tangganya itu, seorang wanita pekerja keras, jujur dan tidak nyonoh-nyonoh.
"Iya Bi, sebentar. Gimana?"
Ucap Aisya sembari berdiri dan berputar layaknya seorang tuan putri yang sedang mempertontonkan kecantikannya.
"Udah cocok sama aku nggak semuanya?"
Bi Suri tersenyum dan mengangguk pasti.
"Semua yang dipakai Neng Aisya selalu cocok. Tapi siapa sih laki-laki itu? Sampai bisa membuat Neng Aisya berdandan secantik ini. Padahal yang Bi Suri tau, Neng Aisya jarang banget dandan."
Goda wnaita itu, dan lihat lah. Pipi Aisya bersemu merah sesuai dengan kerudungnya yang berwarna merah jambu.
"Teman, hanya kakak senior yang meminta Aisya ikut mencari kado untuk pacarnya Bi."
Jelas Aisya agar Bi Suri tidak salah paham.
"Pacar? Jadi dia sudah punya pacar? Yaah, padahal cocokan Neng Aisya yang jadi pacarnya."
Goda lagi wanita itu.
"Huush, kalo kedengeran Ayah pasti dimarahin pakek ngomong pacar-pacaran segala. Yaudah deh, Aisya pergi dulu ya Bi, bilangin sama Ayah dan Bunda."
Pamit Aisya.
"Iya Neng, biar kejadian kemarin nggak terulang lagi, udah nggak ngomong Bi Suri mau kemana, eh nggak kabari Pak Iqbal sama Bu Nada lagi."
Ucap Bi Suri mengingatkan.
"Iya iya, diingetin lagi."
Ucap Aisya sembari memanyunkan bibirnya, wanita paruh baya itu tersenyum geli sembari membereskan ranjang Aisya yang berantakan karena baju kotornya.
"Aku berangkat dulu Bi, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Gadis itu pergi keluar kamar, menuju Arkhan yang sudah menunggunya diruangtamu.
Dan sesampainya diruang tamu, dia melihat laki-laki itu sedang duduk disofa dan matanya tertuju pada foto besar yang terpajang didinding ruang tamu.
"Kak Arkhan."
Ucap Aisya yang mengagetkan laki-laki itu.
"Hei, Aisya."
Sahutnya refleks.
"Maaf nunggu lama Kak."
Ucap Aisya yang menunggu laki-laki itu untuk berdiri dan segera pergi.
"Nggak apa-apa, aku juga sedang liat foto keluargamu.. Siapa yang ada disamping Ibumu itu Sya?"
Tanyanya sembari melihat kearah foto keluarga itu.
"Oh itu, beliau Eyang putriku yang tinggal dengan Ammaku, lah yang disamping Eyangku itu, dia Amma dan Ammuku, namanya Rumi, dia punya anak namanya Alesha."
Jelas Aisya sembari tersenyum sendiri melihat foto besar yang terpasang didinding rumahnya itu.
Arkhan terdiam, dan hanya tersenyum kemudian berdiri.
Aisya melihat ada sesuatu yang aneh dengan laki-laki itu.
"Kenapa Kak Arkhan?"
Tanya Aisya pelan, dia takut menyinggung perasaan laki-laki itu.
Arkhan kembali tersenyum.
"Nggak, nggak kenapa-kenapa. Hanya saja aku pengen punya keluarga lengkap sepertimu."
Ucap Arkhan, namun laki-laki itu sudah berjalan menjauh, keluar rumah.
"Sudahlah, ayo kita pergi, keburu maghrib."
Tambahnya dengan nada yang dibuatnya seceria mungkin.
Aisya masih berdiri memandang laki-laki itu yang mulai menjauh, apa yang sudah terjadi dengan kehidupan Arkhan, kenapa laki-laki itu sikapnya berubah dan menjadi sedih ketika melihat foto keluarga Aisya.
***
"Akhirnya kita dapat kadonya juga, makasih ya Aisya sudah mau bantu aku nyarinya."
Ucap Arkhan didepan gadis itu. Sedangkan Aisya sibuk menyantap makanannya, karena perutnya sudah sangat lapar.
"Iya Kak, sama-sama."
Jawab Aisya seadanya, bukannya tidak menghargai ucapan terimakasih laki-laki itu. Tapi untuk meninggalkan makanannya saja dia tidak mampu, karena cacing dalam perutnya sudah butuh asumsi makanan yang banyak.
"Laper ya Ai'?"
Tanya Arkhan heran.
Aisya nyengir mendengar pertanyaan itu.
"Maaf ya Kak."
Aisya memelankan makanannya.
"Nggak apa-apa kok. Lagian kamu nggak bilang kalo belum makan, kan tadi bisa sebelum nyari kadonya kita makan dulu."
Ucap Arkhan.
"Nggak Kak, kan yang paling penting dapetin kadonya dulu."
Jawab Aisya. Ya, untuk alasan apapun, kadonya Aila adalah yang paling penting bagi laki-laki itu.
"Kalo kamu belum makan, yang lebih penting nyari makan untuk kamu dulu."
Ucap Arkhan yang berhasil membuat Aisya berhenti makan, ternyata tidak hanya tentang Aila, Arkhan juga memperhatikan Aisya, meski dengan hal sesimple itu.
Gadis itu meminum air putih yang dia pesan, meneguknya sampai habis. Dan tidak lagi menyentuh makanan yang tadi begitu lahap ia santap.
"Kenapa berhenti?"
Tanya Arkhan heran.
Karna kalimatmu Kak, aku jadi tidak nafsu untuk makan.
"Sudah kenyang Kak."
Jawab Aisya yang dibalas dengan senyuman oleh laki-laki itu.
Senyuman yang tulus, dan mengingatkannya pada kejadian tadi dirumahnya, senyum itu berbeda dengan yang tadi.
"Mmm Kak Arkhan, boleh aku bertanya sesuatu?"
Tanya Aisya.
"Boleh, apa?"
"Jangan tersinggung ya Kak?"
"Iyaa, Aisya. Ada apa?"
Jawab laki-laki itu lagi.
"Kenapa tadi waktu Kak Arkhan liat foto keluargaku, sikapnya jadi berubah."
Ucap Aisya pelan.
Laki-laki itu pun mendongakkan kepalanya dsn melihat Aisya. Wajahnya berubah, seperti srwaktu tadi ada dirumah Aisya.
Arkhan menghirup nafas dalam-dalam sebelum mengucapkan sesuatu yang dianggapnya sangat berat.
"Aku terkadang iri melihat semua anak bisa memiliki keluarga lengkap seperti halnya kamu Ai', setidaknya memiliki kedua orangtua. Sedangkan aku? Dilahirkan oleh siapa pun aku tidak tau, yang aku tau sejak kecil sudah hidup dipanti asuhan."
Jelas Arkhan yang membuat Aisya terhenyak, jadi selama ini Arkhan tinggal dipanti asuhan.
"Jadi, kamu tinggal dipanti asuhan Kak?"
Tanya Aisya.
"Iya,"
Laki-laki itu berhenti untuk tersenyum sekilas.
"Kamu baru tahu ya? Aila tau ini sejak kita baru jadian, reaksinya sama sepertimu, dia kaget dan tidak percaya kalo ini terjadi padaku, aku kira dia akan meninggalkanku dan tidak mau berhubungan dengan laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya, tapi ternyata aku salah. Aila, gadis itu punya hati luas yang mau menerimaku apa adanya, dia yang membuka mataku kalo bukan tentang kekayaan dan popularitas saja, tapi juga hati. Dan dia menggunakan hatinya betul-betul untuk menerimaku, aku bersyukur menemukannya."
Jelas Arkhan. Yang membuat Aisya sedih, sedih dengan keadaan Arkhan seperti itu tapi tetap kuat, juga sedih kenapa bukan dia yang ada diposisi Aila. Tidak hanya Aila saja yang mau menerima Arkhan, dia juga bisa menerimanya. Tapi sepertinya Arkhan sudah jatuh hati pada Aila.
"Kak, sekalipun Kak Arkhan tidak tau siapa orangtua Kakak, tapi setidaknya Kak Arkhan mempunyai Al-ma’iyyatullah al-amah, kebersamaan Allah, Allah lah yang senantiasa bersama dengan seluruh manusia. Baik tua atau muda, laki-laki maupun perempuan, miskin atukah kaya, bodoh maupun pintar, tinggal di desa juga di kota, taat ataukah membangkang, muslim ataupun kafir. Tidak ada bedanya Kak. Dengan sifat-Nya yang Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Mendengar, Allah akan senantiasa mengetahui dan melihat apa yang dilakukan manusia dan apa yang dikatakannya. Lambat laun, Kak Arkhan akan diberi petunjuk siapa sebenarnya kedua orangtua Kakak."
Ucap Aisya.
"Dan bagaimanapun kesalahan kedua orangtua dulu, kedepannya dan selamanya mereka tetap orangtua kita Kak. Jika memang nanti Kak Arkhan bertemu dengan mereka, jangan sekali-kali membencinya."
Tambah Aisya yang membuat pandangan Arkhan menjadi nanar.
"Seandainya nanti apa yang kamu katakan itu terjadi, aku bertemu dengan mereka. Aku akan memeluk mereka dan memohon untuk tidak lagi meninggalkanku. Jauh dalam hatiku, aku tidak sama sekali mempunyai rasa benci terhadap mereka, dibalik perlakuan yang mereka lakukan padaku, pasti ada alasan tertentu." Jawab Arkhan.