Bagian 49 Aku memutuskan untuk memaafkan Femi. Masalah dosa, biarlah itu menjadi urusannya dengan Allah. Semoga ia benar-benar bertaubat dan tidak akan pernah mengulangi perbuatan kotor itu lagi. "Ma, kenapa Mama enggak mau maafin Femi? Mama masih benci ya sama dia?" tanyaku kepada Mama sesaat setelah kami masuk ke rumah. Mama menjatuhkan bokongnya di atas sofa, ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Harusnya kita sebagai manusia saling memaafkan, Ma! Karena tidak ada satupun di antara kita yang tidak luput dari dosa. Semakin Mama menyimpan kebencian di hati Mama, maka hati Mama akan semakin kotor!" Aku mengingatkanku. "Kamu benar, Ra! Sebenarnya ini juga salah Mama. Dari awal, Mama lah yang berniat menjodohkan wanita itu dengan Ben. Setelah beberapa bulan wanita itu

