Yao segera melepaskan cengkeremannya di kepalan tangan Huang You-xin. Segera ia mengangkat tangan dan memasang senyum tipis, berusaha untuk meredam suasana yang membara di antara mereka. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyentuhmu tanpa izin.” Huang You-xin tampaknya sama sekali tidak mengenal kata maaf, sebab hanya dalam hitungan detik, kepalan tangannya yang lain langsung meninju wajah Yao dengan keras dan menyakitkan. Tubuh Yao terdorong ke belakang dengan darah segar menetes dari hidung dan ujung bibirnya yang robek. Sengatan rasa perih dan nyeri membuat penglihatan Yao sedikit tidak jelas. Ia bahkan juga merasa sedikit pusing karena terkejut. Yao berusaha untuk membersihkan darah di wajahnya. Ah sial, niat hati hanya ingin menghentikan keributan, tetapi malah ia sendiri yang menda

