Memang tampak tidak adil karena Nikolai membawa rekan sementara Akiyama sendirian. Tetapi kembali lagi, tidak ada perjanjian di awal bahwa pertarungan mereka akan menjadi satu lawan satu. Meski Nikolai mungkin dianggap tidak adil, memangnya sejak awal dunia ini adil? Dengan Liu Yantsui dan Akiyama Toshiro yang mencúlik Nadia dan menyiksanya hingga terluka parah seperti itu, mereka sama saja memulai keributan kepada Bratva. Dragon's Claws memiliki masalah internal antara Liu Yantsui dan Liu Jia Li. Keduanya sama-sama meminta bantuan kepada pihak lain. Liu Jia Li datang kepada Nikolai dan meminta bantuan Bratva, sementara Liu Yantsui bekerja sama dengan Ochi milik Akiyama Toshiro. Keduanya adil seandainya salah satu dari mereka tidak melewati batas dalam berusaha mengalahkan satu sama lain. Nikolai bahkan tidak pernah melibatkan seseorang yang tidak seharusnya, tetapi Liu Yantsui dan Akiyama Toshiro dengan berani menyentuh Nadia. Sangat wajar jika Nikolai kemudian sangat murka dan tidak lagi memiliki kesabaran mengurus hal ini.
"Tikus lainnya datang." Ucap Akiyama pelan.
Luka mendengus. "Wajahmu tampan, tetapi mulutmu busuk sekali."
Akiyama tampaknya tidak terlalu tertarik dengan Luka dan celotehan asalnya. Sejak tadi, pandangannya terus fokus kepada Nikolai seolah pria itu adalah mangsa yang sangat lezat dan Akiyama harus mendapatkannya apapun yang terjadi. Di sisi Nikolai sendiri, sebenarnya ia tidak yakin dengan kemampuan Luka. Setidaknya selama mereka berteman di Rusia, Luka tidak pernah terlibat dalam hal-hal seperti ini sehingga Nikolai sebenarnya mengkhawatirkan keselamatan temannya itu.
"Luka, aku berubah pikiran. Sekarang, segera keluar dari sini."
Luka melebarkan matanya. "Hah? Aku datang untuk menolongmu, Nikolai!" Serunya protes.
Nikolai mendecak. "Ini bukan candaan. Aku tidak bertanggungjawab dengan nyawamu. Sekarang keluar atau kau berpotensi mati?"
Luka tampak bimbang. Nikolai melihat itu sangat jelas di wajahnya. Ia tidak bisa begitu fokus memperhatikan karena dirinya masih harus waspada dengan si monster Akiyama Toshiro. Yakuza itu tampak benar-benar murka dan jauh lebih murka sejak Luka datang. Mungkin ia merasa terganggu dengan Luka. Sikap pria itu memang kadang agak kurang bisa ditoleransi. Nikolai bisa menyatakan bahwa Luka adalah definisi sebenarnya dari manusia menyebalkan tetapi tidak sadar diri.
"LUKA!"
"Aarghh! Okay okay, aku keluar." Luka mengangkat tangannya. Ia hendak mengembalikan pistol milik Nikolai namun si empunya pistol menggeleng dan menyuruhnya segera keluar.
Nikolai bernapas lega ketika Luka telah keluar dan Akiyama tidak menembaknya. Sejak tadi Nikolai hanya bisa berharap dan waspada dengan gerakan apapun yang dilakukan pria di hadapannya. Akiyama tidak mengenal kemanusiaan. Siapa pun yang mengganggunya, maka ia akan memberikan kematian untuk orang itu. Nikolai melihat dengan jelas bagaimana Akiyama begitu terganggu dengan kedatangan Luka, belum lagi dengan kalimat-kalimat ambigunya yang menyebalkan.
"Well, kita kembali pada pertarungan—"
Dor!
Nikolai membelalak. Napasnya putus-putus. Sejak tadi yang mengganggunya hanyalah pergelangan kaki yang terkilir, sekarang bagian pinggangnya terasa jauh lebih sakit. Akiyama Toshiro berhasil membuat timah panas dari pistolnya bersarang di pinggang Nikolai yang lengah. Nikolai menggigit bibirnya, darah di bagian pinggang terus keluar, membuat tubuhnya perlahan-lahan terasa lemas. Nikolai bukan sekali dua kali mencicipi tembakan lawan, tetapi dari banyaknya pengalaman itu, bukan berarti ia akan merasa biasa saja ketika tertembak. Rasa sakitnya luar biasa, terlebih di saat-saat genting di mana Nikolai harus terus bergerak dan menyelamatkan dirinya sendiri.
“Kena.” Ucap Akiyama puas.
Nikolai secara reflek mundur. Tangan kirinya berusaha menekan bagian pinggang yang tertembak dan menahan darahnya terus keluar meski itu percuma. Keringat di pelipis Nikolai semakin deras seiring dengan napasnya yang mulai tidak terkendali. Orang-orangnya berada di luar ruangan dan sedang melawan bawahan-bawahan Liu Yantsui dan Akiyama Toshiro. Nikolai tidak memiliki peluang untuk mendapatkan bantuan apapun saat ini. Bahkan untuk mengangkat pistolnya saja telapak tangan Nikolai bergetar hebat.
“Menyerahlah Nikolai, mengapa kau harus bersusah payah hanya untuk melindungi Liu Jia Li yang bahkan tidak melirikmu sama sekali.”
Nikolai merasa kesal dengan kalimat itu. Akiyama Toshiro tahu bahwa Liu Jia Li menyukainya sejak lama, dan pria itu sama sekali tidak melirik Liu Jia Li. Tampaknya, kekasih fotografernya itu sudah sangat menarik untuknya hingga Akiyama tidak melirik seseorang dengan visual seindah Liu Jia Li. Nikolai pernah melihat potret kekasih Akiyama, pemuda dua puluh tiga tahun itu tampak lebih muda dari usianya.
Berbeda dengan Liu Jia Li yang tampak indah dan menarik perhatian, kekasih Akiyama adalah sosok secara umum, berwajah manis dan tampak ceria. Satu-satunya hal yang familiar dalam pandangan Nikolai tentang pemuda itu adalah kemungkinan besar sifatnya sama dengan Nadia. Nikolai sempat tidak percaya bahwa kekasih yang selalu dilindungi Akiyama, yang bahkan membuat pria yakuza itu tidak melirik orang-orang yang menyukainya tidak terlalu tampak menarik perhatian seperti halnya Liu Jia Li. Nikolai mengakui bahwa pemuda fotografer itu manis dan cukup menggemaskan, tetapi Nikolai masih tidak habis pikir bahwa pria yang tampak seperti orang pada umumnya bisa membuat seorang Akiyama Toshiro tergila-gila padanya.
“Liu Jia Li hanya memanfaatkan rasa sukamu untuk kepentingannya, dia—“
“DIAM!” Nikolai bernapas putus-putus. “Aku tidak butuh nasihat dari orang sepertimu. Memangnya apa bedanya kita? Kau juga dimanfaatkan oleh Liu Yantsui untuk kepentingannya.”
Wajah Akiyama yang penuh seringai mendadak luntur. Ia kembali menatap tajam ke arah Nikolai dan menodongkan pistolnya. “Tampaknya kita memang tidak akan pernah bisa berdamai.” Gumamnya pelan.
Nikolai bernapas semakin keras. Sedikit lagi, dan ia benar-benar kehilangan tenaganya karena banyaknya darah yang keluar dari luka tembak yang diberikan Akiyama. Nikolai tidak ingin mati sekarang. Ini bukan akhir kehidupan yang ia inginkan. Ia tidak seharusnya mati di sini. Nikolai harus tetap hidup sampai setidaknya Nadia benar-benar siap untuk hidup tanpanya. Bratva harus benar-benar stabil. Nadia harus mendapatkan kehidupan yang mudah, dan hanya itulah balas budi yang bisa Nikolai lakukan untuk mendiang Ibu Nadia yang dengan senang hati merawat dirinya yang ditelantarkan Ibu kandungnya padahal Nikolai adalah hasil dari perselingkuhan suaminya.
Seringai Akiyama semakin melebar. “Sayonara…”
Dor!
Nikolai membuka matanya. Akiyama Toshiro jatuh dengan bagian dáda kanan tertembak. Ketika ia mendongak, Luka berdiri di hadapannya dengan tangan bergetar. Buru-buru ia berbalik dan membantu Nikolai untuk bangun.
“W-Woah, aku menembaknya.” Ucapnya terbata.
Nikolai masih tidak mengerti apa yang terjadi. Ia sudah mengusir Luka sebelumnya, memerintahkannya untuk segera pergi dan tidak ikut campur dalam masalah berbahaya ini. Tetapi apa sekarang? Teman masa kecilnya itu kembali dan berhasil menembak Akiyama Toshiro di bagian dadanya? Bagaimana mungkin?
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Nikolai marah.
Luka mengangkat bahu tak acuh. Ia segera membantu Nikolai untuk berdiri, memapahnya untuk keluar dari ruangan itu. Nikolai melirik Akiyama yang masih sibuk dengan lukanya sementara Luka secara implisit terus berusaha menyeretnya untuk segera keluar.
"Luka, apa yang—"
"Diamlah Nikolai, sekarang kita harus lari sebelum monster Jepang itu kembali bangun dan murka."
Nikolai tidak pernah lari dalam pertarungan yang ia jalani. Apapun risiko yang ia alami, ia akan menyelesaikannya sampai tuntas. Tetapi kali ini rasanya prinsip itu benar-benar tidak berlaku. Nikolai bahkan tidak berekspektasi bisa mengalahkan Akiyama yang kejam itu. Jujur saja, kedatangan Luka yang tiba-tiba dan kemudian menembak Akiyama sedikit banyak disyukuri oleh Nikolai. Ia harus menyelamatkan dirinya, tidak peduli apakah tindakannya disebut pengecut atau apapun itu. Nikolai belum boleh mati. Masih ada banyak urusan yang harus ia selesaikan baik untuk Bratva maupun untuk Liu Jia Li. Meski sekarang ia kabur pun, dalam waktu yang tidak akan lama, dirinya pasti akan kembali berhadapan dengan Akiyama Toshiro maupun Liu Yantsui. Sehingga sebenarnya melarikan diri tidak benar-benar menyelamatkan dirinya. Nikolai tak lebih seperti menunda kemalangannnya, atau kemenangannya saja. Tidak ada yang tahu siapa yang akan memenangkan pertarungan ini karena pada akhirnya keduanya sama-sama tertembak. Terima kasih kepada Luka karena Nikolai tidak jadi menuju ke alam baka terlalu cepat.
Luka merangkul Nikolai yang berjalan terseok-seok dengan pergelangan kaki terkilir dan pinggang yang tertembak. Ketika Luka berhasil membawanya keluar dari markas Dragon's Claws, Luka segera memasukkan Nikolai ke dalam mobil dan kembali untuk menarik semua anggota Bratva yang masih berperang di dalam. Sangat susah untuk menjangkau seluruh anggota Bratva sementara keributan masih terjadi. Luka juga tidak mau mengambil risiko semacam ia yang diserang hanya karena dirinya berteriak-teriak memanggil Bratva untuk mundur. Beruntung karena Nikolai tidak membawa banyak pasukan sehingga untuk melakukan penarikan kembali anggotanya, Luka tidak perlu kembali masuk dan membahayakan dirinya sendiri. Para bawahan Dragon's Claws yang mengabdi kepada Liu Yantsui berkali-kali mengúmpat dengan bahasa Kanton yang tidak terlalu Luka mengerti. Ia segera berlari dan melompat masuk ke dalam mobilnya usai memastikan orang-orang Bratva telah kembali dan masuk ke kendaraan masing-masing.
Luka yang menyetir mobil sedikit bernapas lega karena telah berhasil melarikan diri dan menyelamatkan Nikolai dari Akiyama Toshiro. Meski begitu, dirinya masih belum bisa benar-benar tenang ketika melirik kondisi Nikolai melalui spion. Nikolai tampak benar-benar kesakitan. Luka tembak yang diberikan oleh Akiyama terlihat lebih parah karena tidak segera diobati. Luka bergidik ngeri, tidak mampu membayangkan bahwa teman masa kecilnya itu hidup dalam lingkaran kematian. Seolah, lengan sedikit saja nyawanya akan melayang begitu saja.
“Kau baik-baik saja, Nikolai?” Tanya Luka pelan. Ia sendiri harus membagi fokusnya antara memeriksa kondisi Nikolai dari spion atau fokus menyetir dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke markas Bratva di Macau.
Nikolai mendengus. “Apa aku tampak baik-baik saja?” Serunya kesal.
Nikolai mengangkat bahu. “Well, hanya sekadar mengatasi kepanikan.” Luka tahu pertanyaannya memang tidak logis. Ia melihat dengan sangat jelas bahwa Nikolai seperti berada di ambang kematian berkat tembakan itu. Memang mungkin peluru Akiyama tidak benar-benar mengenai organ vital Nikolai, tetapi tetap saja luka tembak bukanlah sembarang luka yang bisa ditangani dengan asal-asalan.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa ada di sini? Sejak kapan kau keluar dari Rusia?”
Luka menggaruk tengkuknya. “Aku berniat mengabarimu sebelumnya, tetapi kemudian tidak jadi karena aku ingin membuat kejutan untukmu dan Nadia. Sudah beberapa tahun kalian tidak pulang ke Rusia. Ada bisnis Ayahku yang harus kuurus di Macau, saat aku sampai ke markasmu, aku benar-benar terkejut ketika melihat kondisi Nadia yang tertembak dan lemah seperti itu. Astaga, aku belum pernah melihat Nadia yang kuat dan berandalan itu tampak lemah sepanjang hidupnya. Slava menjelaskan apa yang terjadi padaku, termasuk pertukaranmu dengan pria cantik bernama Liu Jia Li. Lalu, tanpa pikir panjang aku langsung menyusulmu.”
Nikolai mengusap wajahnya. Luka tidak pernah berubah. Ia tetaplah sosok anak ceroboh seperti dulu. Nikolai pikir, semakin mereka tumbuh menjadi orang dewasa, kadar kecerobohan Luka yang sebagian besar membahayakan dirinya sendiri bisa berkurang, namun nyatanya tetap sama saja. Nikolai tidak habis pikir bagaimana pria itu bisa nekat datang ke markas Dragon’s Claws yang jelas-jelas bisa saja merenggut nyawanya? Benar-benar gilá.
“Jadi, bagaimana kau tahu lokasi markas Dragon’s Claws? Kau juga tidak pernah ke Hong Kong sebelumnya.”
Luka tertawa kecil. “Bukankah Dragon’s Claws terkenal? Aku mendengar bahwa organisasi mereka adalah satu-satunya yang paling disegani dan ditakuti di Hong Kong. Orang-orang di seluruh Hong Kong bahkan hapal dengan tato mereka. Sebenarnya, aku juga tidak yakin jika markas yang kutuju benar atau tidak. Kupikir mereka memiliki semacam markas rahasia yang tidak diketahui atau bagaimana, tetapi ternyata aku beruntung dan menemukanmu.”
Nikolai menghela napas. “Benar-benar ceroboh.”
“Ah ya, bukankah pria cantik yang ada di markasmu itu memiliki Kakak yang saling bermusuhan? Ketika aku datang ke markas Dragon’s Claws, aku sama sekali tidak melihatnya, siapa namanya? S-Sui?”
“Liu Yantsui.” Koreksi Nikolai.
“Nah, itu dia. Mengapa dia tidak ada di markas yang ia rebut dan malah si monster Jepang itu?”
Nikolai menggeleng. “Aku tidak tahu. Kami sempat bertemu dan berdebat sebelumnya, namun kemudian aku terlalu fokus menghadapi Akiyama dan dia tiba-tiba menghilang. Entah kemana dia melarikan diri. Jujur saja, aku khawatir dia merencanakan sesuatu yang berbahaya.”
Luka mengangguk-angguk. “Kalau begitu aku datang di waktu yang tepat.”
Nikolai memutar bola matanya. “Terima kasih kepada kecerobohanmu, aku bisa selamat.”
Luka terbahak. “Tidak perlu memarahiku, lagipula ini adalah kesempatan untukmu memulihkan diri, kemudian kau bisa merencanakan p*********n yang lebih dahsyat lagi lalu mengalahkannya. Akan lebih seru jika kau juga berhasil mendapatkan si pria cantik itu.”
Nikolai mendengus. Ia tidak lagi menjawab dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Mungkin benar, sekali ini saja ia bisa berterima kasih kepada kecerobohan Luka. Setidaknya, Nikolai tidak perlu bertemu mendiang Ibu brengséknya di neraka terlebih dahulu. Kali ini takdir masih berpihak kepadanya, atau setidaknya Nikolai masih beruntung karena selamat. Lain kali—itupun jika ada lain kali, mungkin segalanya tidak akan berjalan sama lagi. Segala sesuatu tidak terjadi untuk kedua kalinya, dan Nikolai percaya bahwa kesempatan kedua tidak pernah ada kecuali ia menciptakannya sendiri.
***