Gwen terhuyung di lantai, lengan kirinya berlumuran darah. Tangannya gemetar saat menarik simpul tali ayahnya yang lemah, napasnya tersengal. Lorenzo duduk di sampingnya, wajahnya pucat, tapi matanya menatap putrinya dengan campuran cemas dan bangga. Dari bayangan, Maxim melangkah maju. Matanya gelap, rahangnya tegang, tangan masih menggenggam senjata. Amarahnya seperti bara yang ditahan setiap langkahnya berat, penuh ancaman yang tersembunyi. “Kau terluka,” suaranya tegas, hampir seperti menggeram. Tapi nada itu tidak hanya untuk Gwen, siapapun yang masih bernapas di gudang ini akan tahu Maxim marah. Gwen menoleh, menahan rasa sakitnya. “Aku … aku baik-baik saja,” katanya, meski suaranya bergetar. “Yang penting, Papa selamat.” Maxim menunduk, matanya tajam menatap Gwen. Ia meraih tan

