Pintu kamar terbanting keras. Citra berdiri dengan d**a naik turun, kedua tangannya mengepal. Wajahnya merah, bukan karena menangis melainkan karena marah yang terlalu lama ditekan. “Dia kembali,” desisnya. “Setelah semua yang kita lakukan … DIA KEMBALI!!!” Lady Selina tetap berdiri di depan jendela, punggungnya tegak, kedua tangannya saling bertaut di belakang. Kota malam terpantul di kaca, tapi wajahnya sendiri tampak tegang retak yang tak sempat ia sembunyikan. “Tenang!!" katanya dingin. “Emosi hanya membuatmu ceroboh.” Citra tertawa pendek, getir. “Jangan ajari aku soal ceroboh, Mama. Semua ini terjadi karena kau meremehkannya.” Selina menoleh cepat. Tatapannya tajam. “Hati-hati dengan kata-katamu!!" “Tidak!!” Citra melangkah maju. “Aku sudah muak hidup dalam bayang-bayang perem

