Jari Hera masih di pelatuk. Namun kali ini ... bukan hanya kemarahan yang ada di sana. Ada sesuatu yang mulai retak. Maxim menarik napas pelan. Lalu ia bicara. Tenang. Tapi lebih tajam dari sebelumnya. “Kalau kau ingin kebenaran … dengarkan baik-baik.” Sunyi. Tidak ada yang bergerak. “Ayahmu,” lanjutnya, “ada di balik semua kekacauan ini.” Jeda. “Aku hanya … membersihkannya.” Kalimat itu jatuh tanpa ampun. Tatapan Hera langsung mengeras lagi. “Berani sekali kau ... !!!" “Dan asal kau tahu,” potong Maxim, suaranya tetap rendah namun kini lebih dalam, “dalang pembunuhan kedua orang tuaku … salah satunya juga ayahmu.” Detik itu ... semuanya berhenti. Hendrik menoleh cepat. “Maxim ...” Namun Maxim tidak berhenti. “Hanya saja,” lanjutnya, “saat itu … ayahmu tidak benar-benar berd

