Mobil hitam melaju membelah jalanan sunyi, mesin meraung rendah. Di kursi belakang, Maxim duduk membisu, jari-jarinya mengepal kuat hingga urat di tangannya menegang. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu nama. Gwen. Bayangan wajahnya ketakutan namun tetap berani terus menghantui benaknya. Napasnya berat, seolah dadanya ditekan beban tak kasatmata. Ia sudah terlambat sekali dulu. Kali ini, tidak. “Ada dua penjaga di luar bangunan,” lapor salah satu anggota tim melalui alat komunikasi. “Struktur lama, kemungkinan gudang atau bangunan kosong.” Maxim mengangguk singkat. “Jangan ceroboh. Prioritas utama Gwen. Jangan sampai ada yang menyentuhnya.” Jack meliriknya dari kursi depan. Ia mengenal ekspresi itu kemarahan dingin yang jauh lebih berbahaya daripada teri

