Teman Baru

1085 Kata
Di saat Malea mencari - cari mana bangku yang bisa ia tempati, ada seseorang yang tersenyum padanya sambil melambaikan tangan nya. Gadis itu berambut pendek dan kulitnya kecoklatan. Penampilanya menunjukan bahwa si gadis merupakan seorang kutu buku. Dia melambaikan tangan nya dan menepuk - nepuk kursi yang ada di sebelahnya. Senyum mengembang di bibir gadis itu saat melihat Malea melangkah mendekatinya. " Hi... Malea... Aku Sifa," kata gadis itu menggulurkan tangan nya pada Malea. Malea menyambut uluran tangan itu dan berkata, " haloo... aku Malea..." " Aku sudah tahu," sahut gadis itu dengan cepat. Malea mengerutkan keningnya merasa heran tentang yang di katakan gadis itu. " Dari mana dia tahu sedangkan aku baru saja masuk." Demikian gerutu Malea dalam batin nya karena melihat ekspresi gadis itu sangat percaya diri saat mengucapkan perkataan nya tadi. Dari pada penasaran Malea memilih untuk menanyakan nya pada gadis bernama Sifa itu. " Dari mana kau tahu?" " Kau baru saja menyebutkan nya," jawab Sifa cepat. Malea menepuk keningnya sendiri dengan telapak tangan. " Kenapa aku bisa berubah jadi sebodoh ini?" Malea merutuki dirinya sendiri dalam hati. Bisa - bisanya dia lupa jika dia baru saja mengatakan namanya di depan kelas barusan. Malea pun berhenti memikirkan kebodohan nya sendiri saat Profesor memulai kelasnya. " Hei... dimana rumahmu? Sebelumnya kau kuliah di mana? Kenapa kau pindah kesini?" Sifa menghujani Malea yang mulai membuka bukunya dengan pertanyaan - pertanyaan yang sebenarnya sangat dia hindari. " Ssstttt.... aku akan menceritakan nya nanti, profesor bisa marah jika dia tahu kita tidak memperhatikan penjelasan nya." Bisik Malea menjawab pertanyaan Sifa. " Mmm... Baiklah..." Akhirnya gadis itu bisa berhenti menganggu Malea setelah mendengar perkataan Malea barusan. Seelah empat puluh lima menit berlalu, pak profesor memberikan penugasan untuk pertemuan berikutnya. Tak lama kelas pun berakhir dan Malea mulai memasukan peralatan tulisnya ke dalam tas. Dia berniat segera keluar dari ruang itu namun Sifa si teman baru mencegahnya. " Hei.... kau mau ke mana? Kau berhutang penjelasan padaku?" " Aku lapar..." Malea menjawab Sifa dengan singkat dan melangkah pergi. " Baiklah karena kau berhutang padaku, kau harus mentraktirku oke..." Ucap Sifa seraya mengejar Malea. Malea memutar bola matanya malas mendengar apa yang di ucaplan gadis itu barusan. " Biarlah.... itu akan lebih baik dari pada sendiri," batin Malea dengan terus menuruni anak tangga yang tak jauh dari ruang kuliahnya. Di anak tangga terbawah, nampak seorang gadis yang tadi menempelkan permen karet ke tempat duduk yang akan Malea duduki. Gadis itu tengah berbincang dengan rekan - rekan nya dan sesekali ada gelak tawa keluar dari mulut mereka. Gadis itu menatap Malea dengan sinis saat Malea melewati mereka. " Dasar cupu.... " Demikian gadis itu mengatai Malea yang melewatinya. Ada rasa kesal saat Malea mendengar ucapan gadis itu. Sejenak Malea menghentikan langkahnya, tapi dia memilih untuk diam dan melanjutkan langkahnya. " Jangan berurusan dengan nya...." Kata Sifa dengan sedikit berbisik. Malea menoleh ke arah Sifa namun tak mengatakan apapun. " Itu Amanda..... Dia dan teman - teman nya itu, geng cewek paling populer di kampus ini, dia tak segan - segan berbuat jahatbpada orang yang menganggunya," jelas Sifa kembali. Malea dan Sifa duduk di salah satu kursi kantin. Sifa memesan dua mangkuk bakso, jus jeruk dan camilan. " Hei.... kau berhutang padaku... ayo jawab pertanyaan ku tadi?" Malea menatap Sifa dan memberitahunya apa yang ia tanyakan tadi dengan singkat. " Lalu di mana orang tuamu?" Malea terdiam, " apa dia harus menanyakan hal yang sedetail itu?" Meski Malea malas menjawab pertanyaan Sifa, tapi teman barunya itu juga tidak salah. Wajar saja jika dia ingin tahu segala sesuatunya. " Papa dan mamaku tinggal di kota J." Sifa menganguk - anggukan kepalanya. Suasana menjadi hening di antara mereka berdua, mereka sedang asyik menikmati makanan. Tiba - tiba handphone Malea berbunyi. " Tliiiing.... tliiing...." Sifa menoleh ke arah Malea, Malea pun berkata ," mamaku." Ucap Malea berlalu pergi menerima panggilan itu. " Halo... ma....." " Sayang..... bagaimana hari pertama kuliahmu?" Sahut seseorang dari sebrang telfon. " Baik ma.... aku sedang makan di kantin." " Oh.... kau hati - hati di sana ya sayang, ingat jangan bertingkah aneh - aneh jika tak ingin papamu marah lagi." " Iya... ma aku tahu.... sudah ya ma... kasian kawan Malea nunggu lama... bye ma..." Malea mematikan handphone nya dan memutar tubuhnya ke belakang. Dia berniat kembali menemui Sifa di kantin. Tapi gadis itu telah ada di belakangnya. " Ups... Sifa.... mengagetkan saja," ucap Malea memeganggi jantungnya yang berdegub kencang. " He.... he.... ayo kita cari tempat lain Malea..." Kata Sifa seraya meringis menampak kan giginya. " Loh.... tapi makanan ku belum habis..." Ucap Malea menunjuk ke arah kantin sedang Sifa tak memperdulikan perkataan nya tapi terus menggandengnya untuk pergi ke tempat lain. Karena kesal Malea berhenti saat mereka sudah jauh dari kantin. Malea bertanya pada Sifa tentang hal apa yang sebenarnya terjadi hingga dia harus buru - buru mengajak Malea pergi dari sana. Mereka duduk di bangku panjang, di bawah pohon rindang. Sifa akhirnya menceritakan padanya bahwa Amanda dan gengnya menyuruh Sifa pergi dari sana karena hanya akan merusak pemandangan dan mood mereka. " Apa? Dan kau menurut saja! Tidak bisa seperti ini, aku harus ke sana," kata Malea berdiri dan hendak berjalan menuju kantin. Tapi Sifa berhasil mencegahnya dengan meraih tangan Malea dan menariknya agar kembali duduk. " Malea... ternyata kau cerewet juga..." Kata Sifa mendengar Malea berbicara. Dia merasa bahwa Malea dari tadi hanya bicara apa adanya. Tapi saat tersulut emosi dia bisa banyak bicara. Malea memperhatikan mesin waktu yang melekat indah di pergelangan tangan nya. Waktu untuk jam mata kuliah berikutnya telah di mulai dan dua teman baru itupun mengikuti perkuliahan dengan lancar. Sembilan puluh menit kemudian, mereka telah keluar dari ruangan. Sifa pulang dengan naik taxi sedang Malea memilih berjalan. Karena rumahnya tak terlalu jauh dari kampus. Lagian dia juga ingin membiasakan diri dengan kampus barunya itu. Malea berdiri di pinggir trotoar, menunggu lampu lalu lintas berubah merah dan akan menyebrang jalan. Tiba - tiba sebuah mobil melaju kenjang di depan nya dan .... " Au...." Malea berteriak dengan kencang saat air kotor yang menggenang di trotoar mendarat dengan kasar di bajunya. Dia kesal tapi dia harus cepat menyebrang sebelum rambu lalu lintas berubah dan dia akan mengganggu kenyamanan pengguna jalan yang lain. " Dasar tak tahu aturan, seenaknya saja, memangnya dia pikir jalan itu punya dia sendiri apa, untung saja aku ngak ketabrak," gerutu Malea dalam hatinya sambil mengibas - ngibaskan tangan membersihkan air yang membuat baju nya basah. Saat melintasi jalan ke arah rumahnya, Malea dikejutkan oleh sesuatu. " Loh.... itukaaaaan...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN