Bab 21. Sisa Gairah

1383 Kata

Ponsel di atas meja marmer itu terus menjerit, membelah keheningan pasca-badai yang baru saja mereda. Layarnya berkedip, menampilkan nama "PAPA" dengan huruf kapital yang seolah menghakimi. Vanya tersentak, mencoba meraih oksigen yang rasanya hilang dari ruangan itu. Tubuhnya yang masih menyatu dengan Bumi gemetar, bukan lagi karena gairah, tapi karena rasa takut yang tiba-tiba menyergap. "Bumi... lepas... Papa telepon," bisik Vanya parau. Suaranya pecah, matanya yang sayu menatap Bumi memohon. Namun, bukannya menjauh, Bumi justru memberikan smirk tipis yang terlihat sangat iblis di bawah cahaya sore. Pria itu justru semakin merapatkan tubuhnya, membiarkan kulit mereka yang basah oleh keringat saling bergesekan. Dengan gerakan yang sangat berani, tangan besar Bumi naik, mencengkeram sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN