Mata Kalingga membulat sempurna, di depan pintu rumahnya, berdiri ayah mertuanya, ibu mertuanya, dan Mayang adik iparnya. "Rombongan dari Bali?" Jantung Kalingga berdegup kencang, bukan karena senang, melainkan karena firasat buruk. "Kalingga kami datang!" sapa ibu mertuanya dengan senyum lebar. Senyum yang tidak bisa menutupi aura dominan yang selalu membuat Kalingga merasa harus waspada. "Ada apa ini, Ma?" tanya Kalingga berusaha ramah meski hatinya mencelos. "Kami kangen sama Clara, sekalian mau lihat rumah baru kalian," jawab mertuanya, sambil melirik rumah mewah Kalingga dengan tatapan menilai. Kalingga menelan ludah."Kangen? Atau mau melakukan hal jahat seperti di Bali waktu itu."ucap Kalingga dalam hatinya. Pikiran-pikiran negatif langsung menyerbu otaknya, ia sudah tahu bagai

