18

4306 Kata
Setelah ujian sabuk berakhir, kini Lili, dan juga Samuel sedang duduk-duduk di luar aula sambil menunggu Margrit yang sedang berganti pakaian. Margrit telah lulus ujian, gadis itu terlampau senang bahkan berjingkrak-jingkrak memeluk Samuel dan Lili refleks tadi. "Mana Margrit? Aku sudah lapar." Samuel menggembungkan pipinya, ia tidak sabar untuk mendapatkan makanan kesukaannya. "Tunggu sebentar, Sam. Dia sedang berganti pakaian." Balas Lili. Jam menunjukkan pukul sebelas siang, panas matahari tak terlalu terik, hanya saja awan yang terlihat sangat cerah membuat silau mata. Lili menyeka keringat yang menetes dari dahinya, ia bahkan harus menutupi matanya agar tidak terkena silauan tersebut. "Jils." Margrit keluar dari aula, ia melambaikan tangan pada Lili dan Samuel, ia memang terbiasa memanggil Lili dengan nama tengahnya karena saking akrabnya, Lili Jils Nugroho. Samuel sontak saja berdiri dengan senang karena sebentar lagi perutnya akan terisi, ia menarik-narik tangan Lili bagaikan sang anak yang tak sabaran untuk menunggu ibunya. Margrit terkekeh geli melihat pemandangan itu, lucu sekali. "Sister, Ayo! Margrit sudah datang, ayo beli makan." Ujar Samuel dengan nada memelas. "Ya, Sam. Ayo kita pergi." Jawab Lili sambil menggelengkan kepala pelan melihat Samuel. "Grit, kita ke kedai dulu ya." Lili menoleh pada Margrit yang langsung diangguki mereka. Margrit tidak menggunakan kendaraan hari ini, ia langsung mengikuti Lili menuju mobilnya. Ketiganya pun duduk dengan tenang, Samuel memilih duduk di jok paling belakang karena menurutnya di sana sangat lebar dan cocok untuk dirinya merebahkan tubuh. Kendaraan beroda empat itu mulai bergerak dengan perlahan, membelah jalanan yang agak lenggang karena ini merupakan hari libur. "Kau keren, Margrit. Aku tidak menyangka kau akan sehebat ini, aku bahkan sampai terjejut ketika kau menendang lawanmu tanpa ampun." Ujar Lili sembari menyetir. Margrit mengangkat bahunya. "Aku begini juga karena tipsmu tadi, mungkin jika tidak ada dirimu, aku akan gagal." Margrit memang orang yang anti patah semangat, ia sangat ambisius untuk mengejar apapun yang ingin ia capai, itu adalah nilai plus dari Margrit. "Tidak! Serius, kau melakukannya dengan sangat baik karena semangatmu sendiri." Kekeuh Lili, ia memang sudah terbiasa melihat Margrit yang bertekat kuat. Margrit terkekeh sambil menganggukkan kepala, keduanya memang sudah saling mengetahui sifat dan karakter Margrit. Lili, penuh dengan jiwa sosial yang tinggi, ramah pada orang lain. Namun, dibalik itu ia sangat benci pada orang yang telah berbohong atau mengkhianatinya, ia tidak main-main dan akan memusuhi semua orang yang telah mengecewakannya. Sejujurnya ia memiliki sifat yang kurang baik, yakni mendendam serta tak mudah memaafkan. Baginya, ia akan selalu bersikap baik dengan siapapun, tapi ketika orang itu mengkhianati kebaikannya, maka Lili tidak akan memberi kesempatan kedua. Hal ini juga berlaku pada Jaden, Lili sangat kecewa karena telah dikhianati oleh pria yang ia cintai dulu. Hingga puncaknya sampai saat ini ia masih belum bisa memaafkan pria tersebut. Sedangkan Margrit, ia tipe gadis yang penuh tekad meski beberapa kali ceroboh, sifat keduanya sangat kontras tapi tetap saja bisa disatukan. "Aku akan mentraktir kalian, sebagai tanda keberhasilan ujian sabukku." Celetuk Margrit. "Siap." Jawab Lili. Samuel mengerjapkan matanya karena merasa ada yang aneh, meski memiliki keterlambatan perkembangannya. Namun, insting Samuel selalu benar, terlebih jika ia sendiri dekat dengan saudaranya. Dengan cepat Samuel langsung membalikkan badannya ke arah belakang, ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan sesuatu. Di belakang sana, Samuel mengamati laju kendaraan yang selalu mengekori kemana pun mobil yang ia tumpangi bergerak. Samuel tahu betul bahwa mobil itu milik Wiliam, firasatnya juga berkata demikian. Bibir Samuel bergetar, kenapa Wiliam masih membuntuti dirinya? Apa kakaknya masih tidak percaya pada dirinya, Samuel bisa mandiri tanpa pengawasan Wiliam. Tangannya memukul-mukul jok dengan geram, ia pikir tadinya Wiliam sudah bisa percaya dan melepaskan dirinya secara pelan-pelan, tapi perkiraannya salah. Kakaknya selalu menganggap Samuel adalah anak kecil yang butuh perlindungan, Samuel merasa kecewa dengan Wiliam. Lili sekilas menengok ke arah kaca yang memantulkan bayangan Samuel yang membelakangi dirinya, ia membiarkannya saja. Dua puluh menit pun berlalu, akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuan. Kedai yang menjadi favorit Lili ketika ia ingin menyendiri, bukan restoran mewah ataupun kafe elegan, itu hanya tempat yang menyajikan snack untuk mengganjal perut. "Sam, ayo turun." Lili berujar sembari melepas sabuk pengamannya. Samuel sudah duduk dengan baik di sana, tapi raut wajahnya menjadi tidak bersahabat. Lili mengernyit melihat ada yang aneh dengan tingkah Samuel, ia bertanya-tanya apa yang terjadi dengan pria itu? "Sam?" Ujar Lili lagi tatkala melihat Samuel yang melamun dan terdiam, seketika itu Samuel terperanjat gelagapan menatap Lili yang sedang melemparkan tatapan penuh tanda tanya. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba berubah mood?" Lili bertanya. Samuel menggelengkan kepala pelan, ia tidak ingin waktu kebersamaan mereka terganggu akibat moodnya yang tidak stabil. Dengan penuh keyakinan akhirnya Samuel berusaha mengembangkan senyumnya, ia tidak ingin Lili ikut masuk dalam pertengkarannya dengan Wiliam. "Tidak ada apa-apa, Sister. Ayo turun, aku sudah lapar." Nada suara Samuel menjadi riang lagi, tidak ada kesedihan didalamnya. Lili merasa heran dengan pria yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, beberapa saat lalu Samuel terlihat murung dan seakan emosi, tapi setelahnya pria itu langsung tersenyum dengan gembira. "Hmm ya, Ayo!" Balas Lili dengan ragu-ragu. Margrit sudah turun terlebih dulu, ia yang memesan makanannya. Samuel membuka pintu mobil, dalam diam ia melirik ke belakang yang mana mobil Wiliam juga turut berhenti, Samuel akan memberi pelajaran Wiliam nanti. "Yok, Margrit sudah memesan, bukankah kau ingin segera makan?" Ujar Lili setelah menyusul keluar. "Ah ya, Sister. Mari." Samuel menggandeng tangan Lili dengan segera, meninggalkan Wiliam yang memang sedang membuntutinya sampai ke parkiran kedai. Wiliam terdiam ditempatnya, ia melihat interaksi antara Samuel dengan Lili membuat hatinya tersentuh. Bagaimana mungkin Samuel bisa dekat dengan oranglain dan seakrab itu, padahal saat bersama dengannya, Samuel selalu bersikap cuek dan tak peduli. Wiliam menyandarkan wajahnya pada stir kemudi, jujur saja ia tidak siap jika Samuel tak bergantung padanya lagi. Samuel adalah tanggung jawabnya, apapun yang terjadi, Samuel harus selalu bergantung pada Wiliam. Entahlah, apakah ini semacam obsesi melindungi saudara? Wiliam hanya ingin adiknya selalu aman dan tak ada yang menyakiti. Jiwa sebagai sang kakak membuat Wiliam mengatur apapun yang berkaitan dengan Samuel, Samuel diperlakukan layaknya manekin yang mudah rapuh bila disentil meski sedikit. Ia terlalu menyayangi adiknya hingga lupa bahwa Samuel juga memiliki keinginan dan pemikiran sendiri yang tak bisa dikendalikan Wiliam kapan pun sesukanya. "Aku tidak salah 'kan? Aku hanya ingin melindungi saudaraku." Gumam Wiliam terdengar sangat rapuh. *** Sedangkan di dalam sana Lili, Samuel dan Margrit sudah duduk dengan rapi. Sajian yang mereka pesan juga telah siap, Samuel menatap makanan-makanan lezat itu, liurnya hampir menetes. "Wah, kelihatannya sangat enak." Samuel mengecapkan lidahnya beberapa kali. Ia memang sangat menyukai roti bakar rasa stroberi. Bahkan tak hanya satu helai, Samuel malah memesan tiga helai roti bakar sekaligus. Lili memesan jus jambu yang juga sama dengan Samuel, roti pisang dan juga tahu crispy. Sedangkan Margrit memesan kentang goreng, cola, serta red velvet. "Silahkan menikmati... " Ujar Margrit. Gadis itu mulai menyantap makanannya. Lili dan Samuel pun menyusul, ketiganya makan dengan tenang sembari diselingi sendau gurau. Samuel meneguk jus jambunya dengan menikmati, sudah lama ia tidak menikmati kesegaran sari buah itu. Ia meneliti satu per satu teman barunya, Lili dan Margrit merupakan orang yang baik, mereka bisa diajak untuk mengobrol dan saling menghabiskan waktu bersama. Hal seperti ini lah yang Samuel inginkan dari dulu pada kakaknya, namun Wiliam tidak pernah memandangnya sebagai seorang adik ataupun teman sebenarnya. Wiliam memandang Samuel bak orang yang butuh penjagaan ketat, butuh pertolongan ini itu. Dari Lili dan Margrit, Samuel bisa merasakan apa itu kebersamaan keluarga, meski tidak sedarah. "Ah kenyang..." Ujar Samuel sambil menepuk-nepuk perutnya, jika sudah seperti ini maka ia akan mengantuk, lagu lama sekali. Margrit malah sudah bersendawa tanpa malu. Lili mengelap bibirnya dengan tisu, sebenarnya sedari tadi ia merasa bahwa ada orang yang mengawasinya, tapi saat mengedarkan pandangan pun Lili tak menemukan siapapun. Suasana kedai tampak berjalan dengan normal, tak ada yang aneh. "Sister, kenapa?" Tanya Samuel ketika melihat Lili yang melirik ke sana dan ke mari. "Aku merasa bahwa ada yang memata-matai kita. Namun, aku tidak tahu siapa dan di mana orang itu bersembunyi." Jawab Lili yang masih mengamati sekitarnya. Samuel terdiam, ia melirik ke arah pintu keluar yang mana Wiliam baru saja pergi. Tak heran jika Lili memiliki insting yang kuat, mereka memang sedang di intai oleh Wiliam. "Tidak ada yang mencurigakan, Sister." Jawab Samuel, ia tidak mau mengatakan hal sebenarnya pada Lili. Bisa-bisa Lili mengamuk pada Wiliam dan Wiliam akan melarangnya bermain dengan Lili, tentu saja sangat gawat. "Mungkin hanya perasaanmu saja." Tambah Margrit. "Ya, kalian ada benarnya." Lili menganggukkan kepala pelan, meski perasaannya memberi sinyal janggal. Mengendikkan bahunya cuek, mungkin hanya firasatnya saja. "Aku bayar tagihan dulu, kalian langsung ke mobil saja dulu." Margrit berdiri dari duduknya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. Lili dan Samuel pun ikut berdiri dan berjalan keluar, ternyata di luar sana sudah gerimis, agak kontras dengan cuaca beberapa jam lalu. Lili mengadahkan kepala untuk melihat tetesan demi tetesan air yang mengalir, beberapa cipratan air mengarah pada wajahnya dan Lili menikmatinya saja. Lamunan Lili terhenyak saat Samuel tiba-tiba saja akan berlari membelah hujan, Lili langsung menghentikan aksi pria itu. "Sam, mau apa?" Lili mencekal tangan Samuel. "Aku ingin hujan-hujanan...." Jawab Samuel dengan polosnya. Lili menggeleng tidak setuju. "Jangan! Nanti kau bisa sakit." "Tapi, aku ingin sekali bermain air, sister." Samuel menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal, untuk pertama kalinya ia merajuk pada Lili. "Bermain air ada tempatnya sendiri, Sam. Ada di kolam renang, bukan dengan air hujan yang bisa membuat demam dan flu." Dengan perlahan Lili memberi pengertian pada pria itu, ia tidak ingin menyakiti hati Samuel. Samuel memilin jari-jarinya, ia menunduk ke bawah untuk meresapi ucapan Lili. "Tapi aku jarang pergi ke kolam renang, seingatku hanya satu kali itu pun diumur lima sebelas tahun." Samuel jadi teringat dengan masa lalunya yang kelam, jika bukan karena merengek pada orangtuanya, maka ia tidak akan pernah tau dan mengenal apa itu kolam renang. Wiliam memiliki hobi berenang, ia bahkan selalu menang dalam beberapa kejuaraan. Orangtuanya sangat bangga dengan si anak sulung, maka dari itu mereka membawa Wiliam berlatih di kolam renang tiga kali dalam seminggu. Samuel selalu mendapatkan larangan untuk pergi kemana pun, karena ia dianggap aib oleh orangtuanya sendiri. Lili tersentak, untuk sejenak ia melupakan fakta mengenai kehidupan Samuel yang menyayat hati. "Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku berjanji akan membawamu ke kolam renang, kau bisa bermain air sepuasnya di sana." Lili mencoba mengalah. Samuel mendongakkan kepala menatap Lili dengan pandangan berbinar. "Benarkah? Sister janji padaku untuk membawaku pergi ke kolam renang?" "Ya, aku berjanji padamu." Tukas Lili yakin. "Terimakasih, Sister." Samuel mengembangkan senyumnya, ia tidak jadi bermain hujan-hujanan. Margrit keluar dari kedai, ia meneliti sekitar. "Yah, kok hujan." "Terobos aja sih." Saran Lili. Margrit menggeleng keras-keras. "NO! Aku tidak mau." Pasalnya, untuk sampai ke parkiran tidak ada terpal yang melindungi mereka dari air hujan, jika diterobos maka ketiganya akan basah. Sebenarnya hujan tidak terlalu deras, tapi Margrit tidak ingin pakaiannya basah dan mengurangi tingkat perfeksionisnya. "Ya sudah, tunggu aja sampai reda." Balas Lili final. Ia memilih mendudukkan dirinya pada kursi besi panjang untuk menunggu hujan reda. Samuel dan Margrit mengekori, ketiganya duduk sambil melihat-lihat ke arah jalanan. Dari arah pintu gerbang sana, sebuah mobil memasuki parkiran. Lili mengamatinya dari awal sampai pemiliknya keluar, ketika pintu terbuka nampak sang pria mengembangkan payungnya untuk melindungi tubuhnya dari terpaan hujan. Setelahnya, dari pintu sebelah pun terbuka. Pria tadi dengan sigap mengarahkan payungnya untuk melindungi seorang gadis. Lili memusatkan penglihatannya, dari pakaian atas hingga bawah, sepatu dan juga wajah yang tak asing. "Anderson." Gumam Lili pelan. Ya, itu adalah kakaknya yang sedang berjalan menuju ke kedai ini dengan seorang gadis, Lili juga tahu benar siapa gadis itu. "Ada apa?" Margrit yang berada tepat di sebelahnya pun bertanya. "Itu di sana, kakakku sedang melakukan pendekatan pada seorang gadis." Lili mengarahkan dagunya pada pemandangan di depan sana, yang mana Anderson sedang memegang gagang payung untuk melindungi tubuh mereka dari tetesan air hujan. Margrit mengikuti arah pandangan Lili, benar saja Anderson tengah berjalan ke arahnya atau lebih tepatnya adalah arah pintu masuk kedai. Lili mendengus, pantas saja pagi-pagi sekali Anderson tidak ada di rumah, ternyata sedang berkencan dengan Ester. Tapi tunggu, Anderson tidak memakai kendaraannya sendiri, mobilnya masih ada di rumah. "Wow, kakakmu masih saja tampan dan keren seperti dulu, Jils." Margrit menatap Anderson dengan pandangan memuja, ia akui bahwa Margrit pernah terpesona dengan kakak dari sahabatnya itu. Namun, ia tidak berharap banyak karena hanya sekedar mengagumi saja. "Keren sih keren, tapi dia menyebalkan." Koreksi Lili cepat. Anderson dan Ester sudah tiba tepat didepan kedai, terlihat Anderson sedang meletakkan payungnya di sudut dekat pintu, Ester sendiri terlihat segan ketika berjalan beriringan dengan Anderson. Lili masih menatap kakaknya yang belum menyadari keberadaannya. Mungkin karena merasa ada yang mengawasi, Anderson sontak melihat ke sekitar. Glek! Matanya membulat terkejut tatkala melihat sang adik yang tengah duduk bersedekap tangan sambil menatapnya dengan datar, Anderson kikuk seketika. Ia seperti seorang pria yang ketahuan selingkuh, padahal sama sekali bukan. Anderson hanya malu jika Lili meledekinya, dulu Anderson memang sangat anti berdekatan dengan gadis-gadis untuk menjalin sebuah hubungan, tapi sekarang dengan Ester ia merasa ada suatu hal yang berbeda. "L- Lili.." Gumam Anderson terbata-bata. Ester terkesiap, ia menatap obyek yang sama dengan Anderson. Wajahnya menegang kaku, hampir-hampir sama dengan Anderson. Bagi Ester, berjalan berdua dengan atasan saja membuatnya tidak enak hati, apalagi ketika tertangkap basah dengan atasannya yang lain, yah meski Lili bukan atasannya secara langsung, melainkan bagian keluarga dari atasannya sendiri, tetap saja Ester merasa tidak pantas. Lili berdiri dari duduknya untuk menghampiri Anderson, kedua manusia berjenis kelamin berbeda itu sangat tegang.  Lili mati-matian untuk menahan tawa terbahak-bahak, ia ingin menertawakan ekspresi pucat pasi sang kakak. Ia juga ingin mengejek Anderson yang bak termakan omongan sendiri, Anderson pernah bilang bahwa tidak ingin berdekatan dengan gadis mana pun, tapi apa sekarang? Ahh, menggoda Anderson adalah hobi Lili. Namun, ia akan bermain-main dulu. "Kak Anderson, Ester." Lili merubah ekspresi datarnya menjadi seramah mungkin. Namun, Anderson dan Ester tahu bahwa Lili melakukan itu hanya untuk formalitas. "Nona Lili." Sapa Ester sambil sedikit membungkukkan badan. Lili tersenyum membalas sapaan Ester, kali ini tubuhnya bertatapan tepat pada sang kakak, ia masih mengembangkan senyumnya semanis mungkin. "Kau kenapa ada di sini?" Tanya Anderson skeptis. Lihat lah! Bahkan wajahnya bak tak teraliri darah karena saking pucatnya. Tahan, Lili. Sebisa mungkin jangan tertawa dulu, simpan saja tawamu untuk nanti. Lili menghembuskan napasnya kasar, ia kembali bersedekap tangan sambil menatap mata sang kakak dalam-dalam. Lili menunjuk kedai dengan jari telunjuknya, Anderson dan Ester refleks ikut melihatnya. "Ini kedai, tempat umum yang menyediakan beragam makanan. Tentu saja aku ke sini untuk makan dan minum, kakak." Lili menjelaskannya dengan nada sehalus mungkin, tapi di akhir kalimatnya ia menekankan kata 'kakak'. Anderson menelan ludahnya susah payah, memang benar apa yang dikatakan adiknya. Oh, bodoh sangat kau Anderson! "Emm maksudku bukan itu, tapi -- ah ya, kau ke sini dengan siapa?" Anderson gelagapan, ia menimang-nimang pertanyaan apa yang tepat agar bisa mengalihkan perhatian Lili. Lili menunjuk Margrit dan Samuel tanpa menoleh, matanya masih menatap sang kakak. "Mereka, sahabat-sahabatku." Anderson menganggukkan kepala kaku, mengenai Margrit ia sudah tahu sejak lama jika adiknya berteman dengan gadis itu. Namun, untuk Samuel, Anderson baru pertama kali melihat. Pria itu tidak heran jika Lili memiliki sahabat laki-laki karena adiknya memang berjiwa sosial yang tinggi dan mudah bergaul dengan siapapun. Anderson menggaruk kepalanya yang tidak gatal, selanjutnya hening.. 'Ayolah Anderson, cari bahan pertanyaan lagi. Jangan sampai Lili menertawakanmu di depan Ester.' Pun dengan Ester sendiri, ia merasa suasananya menjadi kaku. Tadinya ia sudah menolak dengan halus ajakan Anderson untuk sekedar minum teh bersama, Ester yang pada dasarnya pemalu dan sungkan terhadap atasannya tidak ingin membuat Anderson kesusahan akibat rasa bersalahnya yang telah membuat sang ibu kecelakaan. Ester mengatakan bahwa ia sudah memaafkan kejadian itu, Ibunya pun juga sudah sembuh. Jadi, tak ada alasan lagi untuk Anderson merasa bersalah, semuanya sudah selesai. Ester merasa tidak enak hati jika Anderson yang notabennya adalah sang atasan malah terus-terusan berbuat banyak untuknya. "Kau sudah selesai makan? Jika belum, ayo bergabung dengan kami." Tawar Anderson untuk memperpanjang obrolan kaku mereka. "Ahh, kau telat. Aku sudah selesai tadi, dan duduk di sini karena menunggu hujan reda." Lili mengedarkan pandangannya ke arah langit, hujan sudah reda dan ia bisa pulang. Lili menepuk-nepuk bahu sang kakak, ia menoleh memberi kode pada Margrit dan Samuel untuk segera beranjak. "Silahkan lanjutkan acara kalian, hujan sudah berhenti dan aku akan mengantar mereka pulang. Selamat bersenang-senang, aku pergi dulu." Lili tersenyum singkat pada kakaknya. Anderson melongo tak percaya, hanya itu? Setelah ia mencari-cari bahan obrolan tak penting dan hanya seperti itu tanggapan Lili. Ia kira Lili akan menertawakannya serta mengejeknya habis-habisan di depan Ester, ternyata dugaannya salah. Tapi, bagus lah kalau begitu. "Oh ya, Ester. Aku pulang dulu, ya." Lili menganggukkan kepala pada Ester, sontak saja Ester segera membalasnya. Margrit dan Samuel menghampiri Lili, ketiganya pun benar-benar menjauh dari kedai. Anderson masih terpaku ditempat, apa itu benar-benar Lili adiknya? "Pak?!" Ester memanggil Anderson pelan, ia ragu-ragu karena semakin sungkan saja. "Kita ke dalam sekarang." Balas Anderson. "Tapi.. Nona Lili?" Ester menunjuk Lili yang sudah berjalan menjauh. Anderson tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa, toh dia malah mempersilahkan." "Baik, Pak." Ujar Ester. Di balik kaca mobilnya, Lili mengulas senyum tipis. Akhirnya Anderson bisa membuka hati untuk seorang gadis, sudah cukup usia Anderson untuk menikah, dan kali ini semoga saja Ester benar-benar wanita yang cocok bagi kakaknya. "Kita pulang." Ujarnya, Lili menjalankan kemudinya. Rencananya ia akan mengantarkan Samuel ke apartment-nya terlebih dulu, baru setelahnya Lili akan mengantar Margrt sampai rumahnya. Oh ayolah, ia seperti supir sekarang. "Memangnya Samuel tinggal dimana?" Tanya Margrit membuka suara. "Apartment Bougenville." Tukas Lili. "Serius?" Margrit membulatkan matanya. "Hmm, kau terkejut?" Lili terkekeh pelan. Margrit mengangguk. "Sebenarnya Samuel siapa?" "Jika ku beri tahu, kau akan terkejut." Balas Lili yang malah membuat Margrit semakin penasaran. "Siapa? Aku penasaran." Margrit mengintip Samuel pelan-pelan, pria itu sedang sibuk dengan mini video game-nya. "Samuel Kenneth adik dari Wiliam Kenneth." Ujar Lili. Ia baru tahu mengenai nama belakang mereka tatkala Anderson memberitahunya setelah sepulang dari acara pertemuan antar klien, awalnya Lili juga terkejut mendengarnya. Jadi, Wiliam yang ia kenal adalah orang dibalik suksesnya toko online shop yang sedang ramai digunakan. "What?! Wah-wah, aku sangat tercengang. Jadi, selama ini aku selalu berbelanja online shop di aplikasi yang dikembangkan oleh kakaknya Samuel?" Margrit yang merupakan pecinta belanja online pun terkejut. Ya, Wiliam adalah pengembang sebuah platform belanja online. Sedangkan pendiri dan penemunya merupakan Gerald, namun keduanya sama-sama berjuang dan berusaha untuk membuat platform mereka menjadi ternama dan terkenal seperti saat ini. Lili pun jadi tahu alasan dibalik keinginan Anderson untuk menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan itu, tentu saja demi kemajuan serta kesuksesan pula. Margrit menjentikkan tangan. "Kau mengenal kakaknya Samuel? Ayolah kenalkan aku padanya. Kau tahu aku selalu mengaguminya dalam diam, aku juga mengikuti aktivitas sosial medianya meskipun ia jarang memperlihatkan wajahnya secara jelas." Margrit menjadi heboh sendiri, rahang Lili hampir jatuh ke bawah. Wiliam memiliki sosial media hanya untuk formalitas, ia memang jarang menunjukkan foto wajahnya secara full. Paling tidak, Wiliam mengunggah foto setengah dari wajahnya saja, hal itu membuat para gadis menjadi semakin penasaran dengan developer aplikasi belanja online itu. "Apa faedahnya?" Lili mengerutkan keningnya bingung. Ia saja malah tidak terlalu suka berdekatan dengan Wiliam, eh tiba-tiba saja Margrit yang kehebohan. "Oh Lili-ku yang manis, siapa pula yang tidak mengidamkan pria matang nan sukses seperti Wiliam Kenneth itu? Aku hanya ingin mengenalnya saja." Muncul sudah sifat ganjen dan kecentilan Margrit. "Nyatanya.. aku tidak tuh." Balas Lili dengan cuek. Margrit mendengus. "Aku tidak heran denganmu, bahkan jika pun ada milyarder yang meminangmu pun kau pasti akan menolak." Dalam hati Lili membenarkan ucapan sahabatnya, Jaden adalah perumpamaannya. Namun, detik selanjutnya hati Lili mencelos, kenapa tiba-tiba ia memikirkan Jaden. Huh, Lili menggeleng-gelengkan kepala untuk melupakan bayang-bayang pria itu dari pikirannya. "Jika kau ingin mengenal Wiliam, tanyakan saja langsung pada adiknya." Lili mengarahkan dagunya ke belakang, pada Samuel. "Baiklah-baiklah. Tapi serius, kau memang pernah bertemu dengannya kan? atau sekedar mengobrol gitu." Lagi, Margrit masih penasaran. Lili mengangguk mengiyakan. "Bahkan tadi pagi Wiliam mengantar Samuel ke rumah, memintaku untuk menemani adiknya untuk bermain." Lili berkata dengan bisik-bisik, tapi respon Margrit yang heboh membuatnya berjengkit. "APA? DIA BAHKAN SUDAH KE RUMAHMU?!" Teriak Margrit membuat telinga menjadi berdengung. Lili meringis sambil mengusap telinganya. "Please ya Margrit, kondisikan suaramu." Bahkan Samuel yang sedang fokus pada game-nya pun sampai terlonjak, Margrit tersenyum meringis. "Maaf telah mengganggumu, Sam. Lanjutkan lagi permainanmu." "Psst pstt.... " Margrit mengkode sahabatnya. "Apa?" Margrit hanya menaik turunkan alisnya tidak jelas, membuat Lili memutar bola mata jengah. Margrit tidak jelas! Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa akhirnya Lili sudah sampai pada aprtement bergaya mewah dengan fasilitas terlengkap di daerah itu. Lihat saja, bahkan ukiran nama 'Bougenville' pun terbuat dari emas murni dan terlihat berkilau terkena tetesan air hujan, dihalaman depannya juga terdapat bunga warna-warni yang indah. Sistem keamanan di apartment ini pun juga sangat ketat, hanya penghuninya saja yang boleh keluar masuk. Orang asing akan dimintai surat identitas serta pengecekan keselamatan agar tidak membahayakan penghuninya, ada pula yang benar-benar tidak diizinkan masuk sama sekali. Lili menggigit bibir bawahnya bingung, mungkin saja ia tidak bisa mengantarkan Samuel sampai unitnya. Tapi membiarkan Samuel berjalan sendirian membuatnya tidak tenang. Lili juga tidak memiliki nomor ponsel Wiliam. Ia menarik napas lalu membuangnya, Lili akan mencoba meminta izin security untuk memperbolehkan dirinya masuk. "Sam, kita sudah sampai. Ayo turun!" Ujar Lili pada Samuel, setelahnya ia mengarahkan tatapannya pada Margrit. "Kau tunggu di sini saja, aku bahkan tidak yakin jika bisa diizinkan masuk." Margrit mengarahkan jempolnya. "Baik, bos! Sampaikan salamku pada Wiliam, oke?!" "Ogah!" Sahut Lili cepat, lalu turun dari joknya. Ia sempat mendengar Margrit yang mengumpat padanya. Pakaian Lili bahkan tidak ada apa-apanya dibanding dengan orang yang berlalu lalang disekitaran apartment, belum lagi tatapan yang dilayangkan mereka pada dirinya, seolah-oleh Lili adalah golongan jelata yang sayangnya tidak bisa memasuki kawasan elit ini. Lili menggaet tangan Samuel untuk berjaga-jaga, pastinya security hapal betul dengan penghuni-penghuni apartement ini dan Samuel adalah salah satunya. Untuk itu Samuel bisa digunakan sebagai tameng. Lili berjalan dengan ekspresi biasa saja seolah dia tidak gugup, namun baru saja ia hendak melewati gerombolan security, sebuah suara menghadang perjalanannya. Lili meringis pelan, tamat lah dia. "Tunggu sebentar, Nona." Lili menoleh menatap tiga security yang berjejer rapi layaknya di aula kerajaan, Lili mengulum senyumnya. "Ya?" Security itu menatap Samuel dan Lili bergantian, Lili berpura-pura santai saja. "Anda Nona Lili?" Tanya salah satu security yang berbadan paling kekar, bahkan dengan sekali cekikan lengannya mampu membuat Lili menggelepar. Duh, Lili. "Emm ya, saya Lili. Ada apa?" Lili bingung bagaimana mungkin mereka mengenali namanya, ia kan bukan buronan polisi. "Tuan Wiliam sudah berpesan pada kami untuk mempersilahkan anda masuk, Tuan Wiliam sudah menunggu anda serta Tuan Samuel di unitnya." Ohh Lili paham sekarang, ia pun bisa bernapas lega. Lili pikir ia akan ditendang dari sana bahkan sebelum berhasil melewati lobi, aman-aman. "Mari saya antar." Ujar salah satu dari mereka. Lili berjalan mengekori security itu, sepanjang jalan ia mencuri-curi pandangan ke setiap sudut apartment. Dari mulai lobi bahkan sampai lift yang ia naiki sangat megah. Benar-benar mewah dan elegan, pantas saja harganya sangat mahal. Tanpa Lili sadari, sebelah tangan Samuel yang bebas nampak mengepal dengan erat, matanya terlihat nyalang. Ia akan memberi pelajaran pada Wiliam yang telah mengikutinya tadi, tingkah Wiliam bisa membuktikan bahwa pria itu masih menganggap sang adik lemah. Samuel tidak suka itu! "Sudah sampai, silahkan masuk." Security itu berhenti di depan sebuah unit yang sama elegannya, bahkan lebih. Tiba-tiba saja pintunya terbuka, membuat Lili mengerjapkan mata. Samuel masuk terlebih dulu, namun ia tidak akan langsung menyerang sang kakak, karena Lili masih ada di sini. Lili memasukinya dengan ragu-ragu, untuk apa pula ia ikut masuk? kan niatnya hanya ingin mengantar Samuel. Ia ingin berbalik badan, tapi lagi-lagi pintu bergerak menutup sendiri. Lili meniup poninya asal, sudah terlanjur masuk. "Kalian sudah pulang?" Tanya Wiliam yang tiba-tiba muncul entah darimana. Lili berdecak kaget, kenapa sih jantungnya akhir-akhir ini dibuat merana. Samuel diam, ia hanya melirik Wiliam sekilas lalu pergi dari sana, meninggalkan Lili yang canggung karena harus berhadapan dengan Wiliam sendirian. Aura yang dikeluarkan Wiliam sangat mengerikan sejak pertama kali mereka bertemu, sangat berbeda dengan Samuel meski keduanya saudara kandung. Meski memiliki kekurangan, tapi aura yang dipancarkan Samuel sangat damai dan tenang. Berbeda sekali dengan Wiliam yang terkesan kejam, mengerikan dan arogan. Hawa seperti ini membuat Lili ingat pada seseorang, yang mana auranya hampir mirip dengan Wiliam. "Jaden." Bisik Lili sangat lirih. Wiliam menghentikan laju napasnya untuk beberapa detik, ia bisa menangkap gumaman Lili meski samar-samar. Lili mengusap wajahnya pelan. "Ah ya, kami baru saja tiba." Lili mengalihkan tatapannya pada dekorasi unit Wiliam yang dipenuhi barang mewah, untuk sekedar menghindari tatapan Wiliam. Wiliam nampak sedang mengontrol emosinya, ia memaksakan sebuah senyuman. "Silahkan duduk terlebih dulu, aku akan membuatkanmu minum." Ujar Wiliam mempersilahkan Lili untuk duduk. "Eumm, terimakasih. Tapi maaf, aku harus langsung pergi karena ada sahabatku yang sedang menunggu di parkiran." Lili agak aneh dengan sambutan Wiliam yang terkesan ramah tapi dipaksakan. Apa Wiliam masih membencinya karena berpikri bahwa Lili telah merebut Samuel? Kepala Wiliam mengangguk. "Baiklah, lain kali saja kalau begitu." "Bisakah kau membuka pintunya?" "Ah ya, tentu saja." Wiliam meraih remot controlnya dan menekan tombol di sana. Alhasil, pintu terbuka otomatis. Lili tersenyum lega, ternyata pintu itu dikendalikan oleh remot, pantas saja bisa gerak-gerak sendiri. Lili bak orang polos yang ketinggalan teknologi super canggih. "Aku permisi dulu." Lili beranjak dari tempatnya. Akan tetapi, suara Wiliam terdengar hingga membuatnya terpaksa harus menghentikan laju kakinya. "Terimakasih telah membuat Samuel bahagia." Tukas Wiliam terdengar serius. Lili menengok ke arah Wiliam, untuk sejenak ia juga ikut terdiam. "Ya, sama-sama." Jawab Lili sekenanya. Ia langsung berlari keluar unit itu. Wiliam masih setia menatap punggung Lili yang hampir menghilang ditelan belokan apartement, ia menekan remot controlnya lagi dan pintu pun tertutup sempurna. Saat berbalik, ia mendapati Samuel yang sedang berdiri tepat didepannya. "Sam?" Samuel diam, Wiliam curiga jika ada suatu hal yang terjadi. "Aku kecewa padamu, Will. Kau tidak benar-benar melepasku dengan bebas, kau tidak mempercayai bahwa aku bisa berdiri tegak sendiri." Beberapa patah kata yang Samuel lontarkan dapat meruntuhkan keteguhan hati Wiliam. Pria itu menegang! Tidak, jangan sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN