16

1276 Kata
Sesuai janjinya yang lalu, pagi ini Lili bersiap untuk mengikuti jalannya ujian sabuk Margrit, rencananya ia akan datang lebih pagi untuk menambah semangat sahabatnya, ia juga akan memberi tips dan trik untuk mengalahkan lawan dengan beberapa pukulan serta tendangan maut. Saat keluar dari kamarnya, Lili tidak mendapati Anderson dimanapun, padahal kakaknya itu biasanya akan duduk di meja makan dengan tenang sambil mencemili makanan. Namun, semua ruangan telah ia jelajahi tapi kosong. Kosong?! "Kak!" Lili masih berusaha berseru memanggil sang kakak. Setelah lelah memanggil-manggil nama kakaknya, akhirnya Lili pun menyerah. Tapi tiba-tiba saja otaknya terlintas sebuah pikiran, jangan-jangan Anderson membawa mobilnya lagi secara diam-diam. "Tidak bisa ku biarkan!" Secepat kilat Lili berlari menuju garasi mobil, tapi ia langsung menghela napas lega. Mobilnya masih bertengger dengan aman di sana, Anderson tidak membawanya karena sepertinya pria itu menggunakan mobilnya sendiri. Lili mencebikkan bibir kesal, kemana pula kakaknya itu. Ia pun membuka garasi dan berniat mengeluarkan kendaraannya dari sana, suara derit pintu merasuk ke gendang telinga. Lili menguap kecil, sebenarnya ia masih mengantuk karena semalaman tidak bisa tidur karena tiba-tiba saja otaknya memikirkan tentang Jaden, ia menggelengkan kepala pelan, kenapa harus pria itu lagi? Saat berbalik ingin mendekati mobilnya, tiba-tiba saja dari arah belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya, refleks Lili langsung membalikkan tubuhnya dan menahan tangan itu hingga akan memelintirnya sebelum sebuah suara menghentikan aksinya. "Stop! Ini aku." Ujar suara itu. Lili meneliti pemilik suara itu dari atas sampai bawah, ia mendengus lalu melempar tangan itu dengan kasar. "Kenapa kau ada di sini? Tidak cukup untuk memaki-maki atau merendahkanku lagi?" Ujarnya dengan nada sinis. Pria itu hanya diam sambil mengelus-elus tangannya yang terasa nyeri, ia tidak menyangka jika akan mendapatkan 'jamuan' seperti itu. Lebihnya lagi, ia tidak berpikir bahwa Lili merupakan gadis yang kuat, bukan seorang yang lemah. "Ah ya, darimana kau mengetahui alamat rumahku? Atau jangan-jangan, kau memiliki urusan dengan Anderson, dia sedang tidak ada di rumah." Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Lili langsung menyambungkan ucapan. "Aku hanya mengantarkan Sam, dia ingin bertemu denganmu." Ucapnya. Ya, itu adalah Wiliam. Dahi Lili mengerut, ia menyembulkan kepala melihat Samuel yang berdiri tak jauh di belakang tubuh Wiliam, pria polos itu mengerjap-ngerjapkan matanya dengan pelan. "Sammy..." Seru Lili dengan senang, entahlah ia merasa damai dan tenang jika bersama dengan Samuel, karena pria itu masih polos dan tak mengerti apa itu kejahatan yang ada di dunia. Samuel masih diam, ia melihat Lili dengan takut-takut. Setelah melihat tindakan Lili pada kakaknya tadi, ia jadi merinding. Lili menghentikan langkahnya, ia menatap Samuel dengan pandangan bertanya-tanya, ada apa dengan pria itu? "Sam, hallo..." Lili mengibas-ibaskan tangannya ke arah Samuel, membuat pria itu tersadar dari lamunannya. "Eum, hai sister.. Kau menakutkan." Cicit Samuel pelan. Lili terkekeh, jadi karena itu Samuel menatapnya dengan menganga seperti tadi. "Tidak apa-apa, aku baik hati kok." Melihat Lili yang bisa tersenyum cerah saat berhadapan dengan adiknya, membuat Wiliam meringis kecut, berbeda sekali perlakuan Lili padanya. "Ada apa mencariku, Sam?" Lili mempersilahkan dua tamunya untuk duduk di gazebo, sementara Wiliam lebih memilih duduk agak menjauh karena ia masih tidak menyukai kedekatan adiknya dengan Lili. "Aku merindukanmu, jadi ku suruh Will untuk mengantarku ke sini. Apa kau keberatan bermain denganku?" Samuel bertanya dengan takut-takut, ia masih merasa ngeri dengan Lili yang tadi. "Aku tidak keberatan sama sekali, Sammy. Aku bahkan senang menemanimu bermain, tapi hari ini aku ada janji untuk bertemu dengan temanku, dia membutuhkan dukunganku untuk bertanding." Lili berkata dengan pelan agar tidak menyinggung perasaan rapuh Samuel, ia hanya tidak ingin orang yang sudah ia anggap sebagai saudara itu menjadi kecewa karena tidak bisa menemaninya bermain. "Teman, siapa?" Bukan Samuel yang berucap, tapi William. Entah bagaimana pria itu bisa menguping meski jaraknya cukup jauh dari posisi Lili dan Samuel. Lili menatap Wiliam dengan pandangan aneh, seolah Wiliam adalah makhluk dari luar angkasa yang baru saja turun dari bumi. Sontak saja Wiliam terdiam, ia merutuki pertanyaannya. Lili memfokuskan pandangannya pada Samuel yang terlihat bersedih, nah kan ia menjadi tidak enak. Samuel memilin jari-jarinya sambil menunduk ke bawah, ia berusaha untuk tidak terlihat menyedihkan. "Sam?" Gumam Lili. Samuel mendongakkan kepala, ia menggelengkan kepala kecil lalu tersenyum pada gadis itu. "Jika kau ingin ikut, aku bisa mengajakmu. Namun, aku tidak yakin kau akan betah di sana." Serius, melihat Samuel yang ketakutan setelah melihat aksinya tadi membuat Lili berspekulasi bahwa anak itu tidak bisa melihat tindak kekerasan barang sedikit pun, padahal dunia ini sangat kejam. "Memangnya tempat apa yang ingin kau datangi? Klub, ring tinju atau kandang buaya?" Lagi, Wiliam melemparkan pertanyaannya. Lili mendengus malas, ia memincingkan matanya menatap pria itu. "Aku bahkan tidak pernah menginjakkan kaki ku ke klub barang sedikit pun. Aku pergi untuk melihat sahabatku yang sedang melaksanakan ujian sabuk bela dirinya, aku yakin bahwa Sammy pasti tidak akan kuat melihat kekerasan meski hanya sedikit." Wiliam terdiam, sedikitnya ia merasa kagum pada Lili. Gadis yang langka -- batin Wiliam. "Ya, kau benar." Wiliam menoleh menatap adiknya, "Sam, lain kali saja kau bermain dengannya, dia sedang ada urusan." "Tapi, aku ingin ikut boleh kan?" Samuel menyunggingkan senyumnya, berharap untuk ikut. Wiliam menggeleng tidak suka, apa-apaan ini adiknya. "Tidak! Kau bisa pingsan melihatnya." Samuel terlihat kesal karena penolakan kakaknya, ia beralih memohon pada Lili, memegang tangan gadis itu agar mengizinkannya untuk ikut. Untuk pertama kalinya Lili menjadi tidak enak hati pada Wiliam karena ini menyangkut mental dan kesehatan Samuel secara langsung, bagaimana jika nantinya Samuel kenapa-apa.  Mendapat tatapan seperti itu dari Lili membuat Wiliam mengendikkan bahu acuh, ia tidak bisa melarang ataupun mengizinkan, entahlah rasanya sangat sulit berdebat dengan gadis itu. Alhasil, Wiliam hanya diam saja.  "Please, izinkan aku ikut. Aku akan belajar menjadi pria pemberani, aku akan membuktikan pada Will jika aku bisa!" Ucap Samuel yang mendramatisir. Lili dan Wiliam sama-sama mendengar, Wiliam tersentak tatkala sang adik mengatakan hal itu. Hatinya berdenyut kecil, selama ini Samuel memang selalu berusaha membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan siapa pun, termasuk Wiliam yang notabennya sang kakak. "Will?" Lili menatap Wiliam yang terdiam, untuk masalah ini ia tidak mau mengambil keputusan secara sepihak. Wiliam mendongak, tatapannya dengan Lili saling bertemu hingga menyelami dengan dalam. Wiliam, pria itu menikmati ketenangan dari sana. Mata cokelat terang milik Lili mampu menghipnotisnya, untuk sejenak biarkan Wiliam menikmati ketenangan itu. "Will, kali ini kau tidak boleh melarangku." Suara Samuel menyentak lamunan Wiliam, buru-buru ia mengalihkan tatapannya menuju pada sang adik. Lili pun menjadi bingung, ada apa dengan Wiliam yang super jutek itu? "Ya, kau boleh pergi dengannya." Tukasnya tanpa babibu. Samuel berteriak girang, ia memeluk Lili dengan bahagia. Membuat Wiliam juga turut menyunggingkan senyuman tipisnya melihat senyuman bahagia dari adiknya, sedangkan Lili malah bertanya-tanya. Apa Wiliam masih waras? Ah entah apa lah itu, yang terpenting ia dan Samuel diizinkan untuk pergi. "Jaga dia baik-baik, aku menitipkannya padamu." Ujar Samuel pada Lili, "Dan kau Sam, jangan merepotkannya." Tambahnya. "Baik, Will." Balas Samuel yang masih setia memeluk Lili. "Lalu, akan ku antar kemana Sammy jika sudah pulang?" Tanya Lili. "Apartment Bougenville nomor 125." Jawab Wiliam. Lili menganggukkan kepala, ia tahu bahwa apartment Bougenville merupakan tempat berkelas yang hanya bisa dihuni orang-orang kalangan atas. Wiliam salah satunya, Lili baru sadar bahwa Wiliam bukan orang sembarangan, tentu saja karena Wiliam juga termasuk dari partner kerja Anderson yang mana perusahaan-perusahaan tersebut memiliki jaringan dan koneksi yang besar. "Aku pergi." Wiliam pamit undur diri, pria itu melenggang lalu masuk ke dalam mobilnya. Lili melihat ada yang aneh dari pria itu meski ia baru bertemu 4 kali ini, yah semoga saja Lili berharap agar Wiliam sedikit menurunkan egonya dan membiarkan sang adik memiliki kehidupan tersendiri. "Ayo, sister. Aku tidak sabar." Samuel menarik-narik tangan Lili bak anak kecil. "Ya, baiklah-baiklah." Lili memiliki tanggung jawab untuk menjaga Samuel nanti, ia harus membuat pria itu nyaman dan tak ketakutan lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN