3. Malam Yang Gila

1737 Kata
Ethan menyetir dengan cepat keluar dari rumah sakit dalam diam. Suara mobil balap Ethan yang meraung mengisi keheningan diantara mereka. Anna sebenarnya baru pertama kali naik mobil yang seperti ini, dia terpesona dengan tampilan dalam mobil yang mewah. Namun tetap saja dia pura- pura tak peduli. Dia hanya duduk diam sambil memegang bagian gaunnya yang robek. Dalam hati dia memaki dengan kesal “Ini semua karena karena mama suruh aku pakai gaun bekasnya lagi, ini pasti kainnya udah rapuh,” keluh Anna dengan kesal sambil memegangi robekan bajunya dengan kedua tangannya. Setelah beberapa berjalan dalam keheningan, telepon yang Ethan tunggu- tunggu akhirnya berdering panjang. Tanpa permisi, pria itu segera meminggirkan mobil dan mengangkat handphone. Dengan cepat dia sudah tenggelam dalam conference call-nya. Anna mendesah sebal, karena dia jadi terperangkap di dalam mobil dengan pria yang menyebalkan ini. Tanpa dia mau, Anna jadi bebas memperhatikan wajah Ethan. Wajahnya berkulit putih mulus dengan tidak wajar. “Pria kok memiliki kulit semulus itu,” komen Anna dalam hati, lalu kembali memperhatikan dagunya yang runcing lalu bibirnya yang tebal, seksi. Sekilas saat dia berbicara ada lesung pipi halus yang muncul. Rambut Poninya hampir menutupi mata dan kalau lagi berbicara serius seperti saat ini, dia terlihat sangat tampan. Ah … memang kali ini Anna memang harus mengakuinya, Ethan Samuel memang tampan seperti yang Opa ceritakan tadi. Namun semua ketampanan itu menguap hilang ketika berbicara kepada Anna tadi. kelakuannya segera menghilangkan kekaguman Anna. Berbicara dengannya langsung membuat Anna menjadi darah tinggi. Dia adalah tuan muda yang sombong. Pria itu terus berbicara cepat mengenai kenaikan harga saham, dan sebagainya dengan bahasa Inggris yang Anna tak mau ambil pusing. Dia sendiri sudah merasa tangannya pegal karena harus terus memegangi bagian yang robek. “Mungkin kalau gelap begini, dia tidak akan sadar kalau gaunku robek. Mungkin kalau aku lepas pegangan tanganku sebentar tidak akan ada apa-apa,”’ pikir Anna dalam hati sambil memperhatikan Ethan yang masih sibuk berbicara sambil melihat ke arah yang lain jadi aman. Anna melepaskan tangannya dengan pelan. “Ah leganya, tanganku pegal sekali!” jeritnya dalam hati. Dia meregangkan jemarinya yang dari tadi menekuk. Lalu tiba- tiba saja hujan mulai turun. Anna seketika menoleh ke arah jendela. “Aish, semakin sulit aku untuk melarikan diri,” runtuknya dalam hati. Dia meratap dalam hati memandangi air hujan yang turun semakin deras. Ethan menatap jendela yang mulai basah karena jatuhnya hujan. Pria itu segera memasang wiper mobil, bunyinya yang konstan mengisi keheningan setelah conference call-nya usai. Pembicaraannya dengan New York berjalan lancar, kantor pusat setuju dengan keputusan yang dia ambil. Iklan yang baru berjalan beberapa waktu namun menyesatkan publik itu, akan ditarik dan segera dibuat iklan yang baru lagi, walaupun akan keluar biaya baru. Pihak pusat tidak keberatan, dan menyetujui sarannya. Ethan sangat suka bekerja sama dengan perusahaan yang memiliki integritas seperti ini. Dengan puas pria itu merenggangkan tubuhnya dengan lega lalu tanpa sadar melihat bayangan Anna dari kaca spion tengah mobil. Pria itu terkesiap karena dia baru teringat ada wanita di sebelahnya. Dia segera memperhatikan tubuh mungil wanita keras kepala yang berani memarahinya tadi. Sekarang bisa- bisanya dia duduk dengan tenang di sampingnya. “Gayanya saja tadi mau kabur,” dengus Ethan mengejek. Tapi akhirnya mata Ethan memandang hal yang lebih menakjubkan. Gaun Anna ternyata robek jahitannya, dari d**a sampai ke pinggang. Walaupun Ethan tak ada bermaksud mengintip tetapi naluri kelaki -lakiannya langsung muncul dan menatap tubuh putih mulus Anna yang tersingkap sedikit itu. Walaupun dalam sinar yang temaram, jantungnya seketika berdebar- debar ketika melihat kulitnya yang seputih s**u, dadanya penuh dan pinggangnya ramping. Wanita itu terus menatap air hujan yang jatuh di jendela, tanpa menyadari Ethan bisa melihat tubuhnya itu. Pemahaman baru muncul di kepala Ethan. Ternyata wanita ini tetap diam di dalam mobil karena bajunya robek, bukan karena kagum dengan mobil mewah. “Haish, Apa karena aku tarik tangannya tadi ya? Jadi bajunya ini robek?” tanya Pria berambut gelap itu dalam hati. Tiba-tiba Ethan merasa harus bertanggung- jawab. "Hei, hei!" ujar Ethan setelah bisa menguasai dirinya. Dia kini benar- benar bertekad akan mengantar Anna pulang sampai ke rumahnya agar aman, tak mungkin wanita itu pulang dengan gaun robek. Tapi, mendengar panggilannya yang kembali tak sopan, Anna tidak mau menoleh. Wanita berbola mata coklat muda itu berpura- pura tuli, sampai Ethan ingat ucapannya tadi. "Hei ...," panggil Ethan lagi, mengulang dengan suara yang lebih keras. Anna benar-benar kehabisan sabar dengan pria ini. Wanita itu segera menoleh dengan siap tempur. "Panggil aku dengan,—" ucapan Anna terpotong ketika melihat jari telujuk Ethan yang menunjuk robekan gaunnya yang terbuka lebar memperlihatkan cangkang berenda dan sebagian besar perutnya. "Astagaaaa!" jerit Anna dalam hati, langsung kembali menggenggam gaun yang robek itu. Ethan segera membuka jasnya, setidaknya Anna bisa mengenakannya sepanjang jalan, daripada dia harus menggenggam gaunnya terus menerus. Namun ketika dia mendekatinya untuk memakaikan jas itu kepadanya, Anna langsung ketakutan. Wanita itu mundur dan Ethan semakin mendekat sehingga Anna tidak bisa mundur lagi. Wanita itu semakin panik. "JANGAN!" jeritnya sambil mendorong Ethan. "Apaan sih!" serunya kaget, Ethan segera menarik badannya kembali. "Jangan dekat-dekat, kamu mau apa!" teriak Anna panik. Bola matanya coklat mudanya menatap Ethan ketakutan. Gadis itu menutupi tubuhnya dengan kedua tangan tersilang di depannya. Ethan tiba- tiba merasa gel. Wajahnya yang ketakutan membuat Ethan mengerti kalau Anna pasti berpikir kalau Ethan akan menyerangnya. “Hahaha, justru karena kelakuannya seperti ini, aku malah jadi kepikiran,” pikir Ethan sambil menatap bibir merahnya yang mungil. "Ya sudah kalau nggak mau pake!" Ethan menarik jasnya yang dari tadi ternyata sudah di pangkuan Anna. "Eh...mau!" seru Anna sambil langsung menarik jas Ethan dan segera mengenakannya. Jas itu terasa hangat walau kebesaran untuknya. Terlihat senyuman tipis kelegaan di wajahnya yang mungil itu. Ethan kembali mendengus lalu segera menjalankan mobil. Ada perasaan hangat yang aneh menyusup ke dalam hatinya ketika melihat senyuman Anna tadi. Anna memperhatikan jalan yang sepi karena sudah malam. Perutnya bergetar dan dengan panih wanita itu menutupinya dengan kedua tangannya. Sebenarnya Anna merasa lapar, karena panik menemani Opa. Wanita itu sama sekali tidak makan kecuali tadi makan siang bersama Opa. Rencananya Anna akan mampir ke warung nasi untuk mencari makanan untuk mengganjal perutnya sebelum pulang. Tapi, sekarang dia malah terseret bersama pria menyebalkan di sebelahnya ini. Dia melirik pria bertubuh tegap di sebelahnya dengan kesal. Lalu seketika Anna tersadar kalau jalan ini tidak menuju rumahnya. Anna tersadar kalau dia bahkan belum memberikan alamat rumahnya. "Kita mau ke mana?" tanya Anna bingung memperhatikan sekitarnya, hujan masih deras dan dia terperangkap di mobil ini. "Makan," jawab Ethan seenaknya. Perut Ethan sudah bergetar-getar dari meeting tadi. Biasanya dia tak mudah lapar, dia seseorang yang bisa tidak makan sehari penuh. Tapi entah kenapa sepertinya bertengkar dengan wanita di sebelahnya ini menghabiskan energi yang banyak sehingga Ethan menjadi sangat lapar. Pria itu melirik jam yang ada di dasbor mobil, sudah jam 11.23, jam segini yang pasti buka hanya restoran cepat saji, lalu segera mengarahkan mobil menuju salah satu restoran andalannya karena dia selalu makan terlambat. Anna memegang perutnya. “Apa tadi dia mendengar kalau perutku berbunyi? Kok dia bisa tahu?” tanya Anna panik dalam hati. Ethan masuk ke layanan drive thru, dan membuka jendela, angin hujan langsung masuk ke dalam mengacaukan rambutnya, dia melirik melalui spion tengah memandang wajah Anna yang bingung. “Ah, pasti dia kecewa diajak makan di sini. wanita seperti ini pasti maunya makan mewah di restoran Italia. Pasti dia tidak menyangka akan diajak ke restoran model begini,” pikir Ethan sinis dalam hati. "Mau makan apa?" tanyanya singkat. "Paket double cheese minumnya ganti botol teh, makasi." Anna menjawab pasti dengan senyum senang. Restoran ini merupakan salah satu restoran cepat saji kesukaan Anna. Ethan yang terkejut karena pesanannya ternyata sama segera mengucapkan pesanannya lalu maju ke konter lain untuk mengambil pesanan. Mereka segera makan dengan diam, Anna yang lapar sekali sehingga dalam sekejap langsung menghabiskan pesanannya bahkan sebelum Ethan menyelesaikan makannya. Ethan menatap Anna dengan heran. “Benar- benar wanita aneh, setidaknya dia seharusnya ada rasa malu, jika makan dengan calon suami,” dengus Ethan mencemooh dalam hati tapi seketika itu juga dia segera tersadar. “Eh tunggu dulu, kenapa aku jadi berpikir begitu? Dia ini hanya calon yang dijodohkan oleh opa Jacob, jadi dia bukan calon istriku?” maki Ethan dalam hati karena pikirannya mulai aneh- aneh. Sepertinya dia sudah kelewat lelah, pikirannya mulai melantur ke mana- mana. "Cepet aja, laper ya?" tanya Ethan segera menyindir Anna, kata -kata itu meluncur cepat sebelum Ethan sempat menahan dirinya. Dia ingin mengalihkan pikirannya yang konyol tadi. Yang pasti calon istrinya bukan wanita rakus. Anna menghabiskan teh kemasannya dan melirik ke arah Ethan dengan sebal. "Sudah pasti, aku nungguin Opamu dari siang sampai malam ini. Kalau aku sih, khawatir ya, kalau Opaku kenapa- kenapa. Nggak seperti seseorang yang sok sibuk, sampai nggak bisa ditelepon," jawab Anna malah menyindir balik. Ethan mendelik ke arah Anna dan hendak membalasnya tapi kali ini tiba- tiba handphone wanita itu berbunyi. Anna mengangkat telapak tangannya di depan wajah Ethan menyuruh pria itu berhenti berbicara. Ethan, terkejut, dia harus berhenti bicara saat wanita itu mengangkat tangannya menyuruhnya berhenti, dan anehnya lagi Ethan menurut. “Orang dari New York tadi menungguku untuk bisa berbicara, tapi wanita ini seenaknya memberikan telapak tangannya agar Aku berhenti bicara? Aku sudah mulai gila, kenapa aku menurut ya?” tanya Ethan bingung pada dirinya sendiri. "Ya Mama, aku dah jalan pulang kok, iya aku aman, aku naik taksi kok," jawab Anna malas menceritakan detail apa yang terjadi sambil melirik, ke arah Ethan. Pria itu memandang Anna tidak percaya disamakan dengan taksi, Ethan ingin mengambil handphone-nya dan berteriak kepada siapa pun yang di balik telepon itu kalau dia yang mengantarnya, bukan taksi, jadi Anna pasti aman. Tapi wanita menyebalkan itu meletakkan jari telunjuknya di bibirnya yang mungil itu sambil mematikan teleponnya. Bibir yang dari tadi menggoda Ethan lalu tanpa dia sadari pikirannya kembali ke bayangan tubuh Anna yang tadi dia sempat lihat sekilas. Ethan tersadar dari lamunannya karena pandangannya bertemu dengan Anna yang menatapnya dengan mencela. Sambil mendengus Ethan segera mengalihkan pikirannya, dengan emosi dia mulai menjalankan mobil. "Rumahku di Petukangan, Akasia TV3 nomor 1." Ethan mendengus kesal karena Anna benar- benar membuatnya seperti supir taksi, tapi dia segera mengarahkan mobil ke sana. Anna memperhatikan air hujan yang jatuh di jendela, sambil merebahkan tubuhnya ke bangku mobil yang nyaman. Jas Ethan pas sekali menutupi tubuhnya yang mungil, sehingga dia merasa hangat. Anna menguap karena tiba-tiba merasa mengantuk. "Aku tidak boleh tertidur...aku tidak boleh tertidur," ucap Anna dalam hati memperingatkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN