“Pak?” Audya sudah sangat ingin pulang. Kenapa juga pria di depannya tidak mau memberi jawaban atau ya setidaknya mempersilakan untuk Audya pulang. Demi Tuhan, dia sudah sangat lelah. Tidak memiliki tenaga sisa untuk menghadapi orang lain. Apalagi macam pria ini. Entahlah, Audya hanya tidak nyaman. “Sepertinya kamu melupakan sesuatu.” Audya mengernyit. Melupakan apa? Perasaan dia tidak melupakan apa pun kok. “Sepertinya saya tidak melupakan apa-apa, Pak.” Audya sangat yakin akan itu. Dia juga sedang malas sekedar berpikir. Pria di depannya terlihat menghela nafas. “Panggilan kamu, Dy,” jawabnya singkat. Audya masih tidak tahu. Apa yang salah dari panggilannya? Berpikir lumayan lama baru dia mendapat jawabannya. “Ah iya, maaf mas. Masih belum terlalu terbiasa.” Ya, dia adalah Bima. Buk

