“Pagi!” sapa Suster Agnes pada Dokter Russel yang baru saja datang. Senyumnya lebarnya langsung pudar begitu menyadari kehadiran Jeje dan Mochi di belakang Dokter Russel. Jeje melambaikan tangannya pada Suster Agnes, diikuti oleh Mochi yang meniru gerakannya. Suster Agnes balas melambai sambil tersenyum heran. Begitu Jeje selesai menaruh tas dan kembali ke meja kerjanya, Suster Agnes langsung bertanya to the point. “Mengapa kalian datang bersama Dokter Russel?” Jeje nyaris menjawab jujur, sebelum dia teringat pesan Dokter Lee untuk tak mengatakan tempat tinggalnya sekarang. “Oh, kebetulan tadi kami bertemu di jalan. Dokter Russel menawarkan tumpangan.” Suster Agnes mengangguk paham. “Aku pikir kalian berkencan. Lebih baik jangan, Je. Aku tahu kau patah hati karena Dokter Lee

