Jeje menelan ludah kelu. “Dokter pasti bercanda,” cetus Jeje lirih. “Tidak. Saya serius.” Ini pasti mimpi. Dokter Lee mengatakan bahwa dia membutuhkan Jeje dengan bibirnya yang nyaris menyentuh bibir Jeje. Mungkin ini mimpi erotisnya karena dia khilaf setelah melihat tubuh polos Dokter Lee tadi. Pasti mimpi! Jeje memastikannya dengan mencubit tangannya. Nah, tidak sakit. Jadi ini mimpi .... “Mengapa kamu mencubit lengan saya?” Spontan Jeje mengangkat tangannya keatas dengan ekspresi terkejut. “Astaga, pantas tak sakit. Ternyata saya mencubit lengan Dokter. Padahal sempat berpikir sedang ....” “Bermimpi?” Jeje mengangguk dengan pipi merona. “Iya, Jeje berpikir sedang bermimpi dicium ... ups!” Jeje menutup mulutnya, kalut. “Bagaimana kalau kita wujudkan mimpi kamu?”

