Dokter Russel tertawa kikuk. Dia mengangkat bahu. “Siapa yang tahu? Aku hanya memintanya ke gudang, ambil barang. Selanjutnya tak tahu. Aku hanya khawatir kalian mencurigaiku yang tidak-tidak.” “Tentu saja tidak, Dok. Kami tak akan mencurigai Dokter,” sahut Jeje dengan polos. Namun, Lee tak menanggapinya. Dia terus menatap tajam Dokter Russel. “Lee, apa kau tak tahu ... Dokter Jessica sakit. Kau tak menjenguknya?” pancing Dokter Russel. “Kau yang merawatnya, kan?” “Yup!” “Mengapa hanya kau? Dokter lain tak boleh menyentuhnya.” “Karena Dokter Jessica hanya percaya padaku.” Dokter Russel mengernyitkan keningnya. “Apa kau mencurigaiku, Lee?” “Apa kau patut dicurigai?” Lee balas bertanya. Kedua pria itu saling menatap tajam. Suasana menjadi tegang. Jeje yang berada dia

