5. Cowok Menyebalkan

1049 Kata
Lintang sangat cemas sekali, tapi dia tetap saja melanjutkan pekerjaannya untuk menemani pelanggan. "Mau menyanyikan lagu apa?" tanya Lintang menyamarkan suaranya agar Devan tidak mengenalinya. "Bagaimana kalau aku dan dirimu lagunya Ari Lasso dan BCL? " jawab Devan meringis. Lintang terkejut juga, sebab sikap Devan sangat berbeda dengan kesehariannya di sekolah yang kasar dan sering menghina. "Baiklah, sebelum itu mau pesan minuman apa?" tawar Lintang lagi. "Tidak usah," jawab Devan lagi berlagak jadi pemuda yang polos dan baik. "Kamu sering datang kemari?" tanya Lintang gugup, karena baru pertama kali ini dia bekerja seperti ini. "Tadinya aku hanya iseng saja, tapi melihatmu aku jadi penasaran. Kamu terlihat gadis baik - baik dan berbeda dengan yang lainnya, kenapa kamu bekerja di tempat seperti ini?" ucap Devan balik bertanya penuh perhatian. Lintang tidak bisa menjawab apa - apa, tapi jika di lihat pemuda yang kini di depannya jika bersikap lembut seperti itu terlihat tampan. Hanya saja mengingat perlakuan Devan di sekolah membuat dia merasa kesal tapi tak sanggup mengungkapkannya. "Bunga… Kenapa kamu melamun?" tanya Devan sambil mengibaskan tangan kanannya ke depan wajah Lintang. "Tidak apa - apa, maaf karena aku baru pertama ini kerja jadi masih agak canggung. Sebentar aku putarkan musiknya dulu," jawab Lintang gugup. Devan menjadi gemas dan semakin merasa penasaran dengan gadis yang saat ini ada di hadapannya. Alunan musik mulai menggema memenuhi ruangan tersebut, saat Lintang menyanyi Devan semakin terpukau. Keduanya terus duet lagu demi lagu sampai larut malam. Lintang yang menyamar sebagai Bunga memutar lagu sesuai permintaan Devan. Dia tidak menyangka jika seorang Devan yang terkenal playboy dan nakal di sekolah ternyata juga bisa bersikap sopan. Padahal mereka hanya berdua di dalam ruangan, jika Devan ingin berbuat macam - macam itu bisa dilakukan dengan mudah. Devan sendiri tidak menyangka di tempat seperti ini masih bisa menemukan gadis lugu , bukan hanya cantik tapi pemandu lagu yang kini duduk di sampingnya itu memiliki suara merdu. Devan benar - benar sudah terbuai oleh Lintang pada pandangan pertama. Sampai jam kerja habis, akhirnya Lintang berpamitan pulang. "Waktunya bagiku pulang, terima kasih sudah berkunjung malam ini," ucap Lintang sopan. "Tunggu! Bisakah kamu memberikan nomor ponselmu?" tanya Devan penuh harap. "Maaf, tapi ponselku tertinggal di rumah dan aku tidak hapal nomorku sendiri," jawab Lintang tegas. "Kalau begitu aku antarkan pulang, ya?" tawar Devan memohon. "Terima kasih, tapi aku bersama temanku," tolak Lintang secara baik - baik kemudian dia berlalu pergi. Hari pertama Lintang bekerja berjalan lancar, dia tidak menyangka jika pelanggan pertama adalah musuh di sekolahan. Tapi siapa sangka pemuda itu sama sekali tidak mengenalinya. Lintang segera berpamitan pada bosnya, dan dia segera menuju tempat dugem yang berada di sebelah. Dia tidak sabar untuk menceritakan pengalaman pertamanya pada sahabatnya. Rupanya Lintang sedang asyik duduk sambil sesekali minum bersama teman - teman lainnya yang baru kali ini juga ditemui oleh Lintang. "Desty… Sepertinya dia mencarimu," ucap seorang lelaki pada Desty. Desty segera menoleh ke belakang dan terkejut melihat kedatangan Lintang. "Sudah selesai? Ayo kita pulang," ajak Lintang yang masih memiliki kesadaran full. "Hey.. Kenapa tidak ajak temanmu bergabung sekalian? Kenalkan dia pada kami?" pinta seorang pemuda lainnya. "Oh iya, kenalkan dia namanya Bunga. Bekerja sebagai pemandu lagu di sebelah, tapi jaga otak kalian. Dia gadis baik dan tidak sama dengan pemandu lagu yang lain," ucap Desty sambil berdiri di samping Lintang. "Hay.. Aku Bunga," ucap Lintang mencoba tenang. "Aku Arga," "Aku Tony," "Aku Reni," jawab ketiga teman Desty bersahutan. "Salam kenal," balas Lintang tersenyum ramah. "Ya sudah aku mau pulang duluan ya? Bye…" sela Desty sambil melambaikan tangan kirinya dan mengajak Lintang pergi dari tempat itu. Sesampainya di luar gedung tampak bintang - bintang menghiasi langit, begitu indah dan membuat mereka betah berlama - lama menatapnya. "Desty, ayo kita pulang. Besok kita masih harus sekolah," ajak Lintang "Iya, jam berapa sekarang?" tanya Desty, padahal gadis itu membawa jam tangan sendiri. "Jam setengah satu, apa kamu masih bisa menyetir dalam keadaan mabuk?" tanya Lintang cemas. "Siapa yang mabuk? Toleransi ku terhadap Alkohol itu tinggi, jadi kalau minum sedikit tidak akan berpengaruh terhadapku," jawab Desty santai. "Baiklah, ayo kita segera pulang," ajak Lintang percaya. Dalam perjalanan Lintang memeluk erat tubuh Desty. Karena malam itu sahabatnya mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah kontrakan lampu sudah padam semua, lebih tepatnya memang tidak ada yang menyalakannya. Karena ibu dan adiknya masih menemani sang Ayah di rumah sakit. Lintang segera membersihkan diri dan bergegas tidur. Sebelum itu dia memegang uang lima lembar ratusan yang tadi di beri oleh Devan sebagai tip. "Aku tidak peduli dari siapa uang ini, yang terpenting aku bisa mengumpulkan uang untuk membeli sepeda, biar sekolah aku dan Farel tidak jalan kaki. Dan dari gaji pokok aku bisa mencicil hutang," batin Lintang senang. Lintang tahu pekerjaan itu di nilai kurang baik di mata masyarakat, tapi bagi Lintang selagi dia tidak menjual tubuhnya hanya sekedar menemani bernyanyi tak masalah. Apalagi kerja di mana coba semalam dapat bonus lima ratus ribu, itupun belum termasuk gaji dari bosnya. Lintang mulai terlelap dan buaian mimpi indahnya. Esoknya dia tetap bangun pagi seperti biasanya. Memasak makanan dan menyiapkan seragam untuk adik serta buku mata pelajaran hari ini. Dia melakukan semua itu dengan cekatan agar adiknya tidak ketinggalan sekolah. Setelah selesai dengan urusan di rumah sakit dia dan adiknya berpamitan kepada orang tua untuk berangkat sekolah. Lintang kini sadar, jika dia berdandan wajahnya tidak kalah cantik dengan teman - teman lainnya. Tapi entah kenapa dia lebih nyaman polosan tanpa make up. Tidak mencolok membuat dirinya merasa nyaman dan tidak mendapat perhatian dari orang lain. Karena kelamaan menunggu adiknya berganti seragam dan sarapan di rumah sakit membuat Lintang hampir telat. Ketika dia baru saja memasuki gerbang bel tanda mulainya pelajaran sekolah berbunyi. Lintang berlari dengan kekuatan penuh agar bisa tepat waktu sampai di kelas sebelum gurunya datang. Tapi siapa sangka dari arah lain juga datang Devan yang berlarian sama sepertinya karena takut terlambat dan mendapat hukuman. Karena keduanya tidak bisa mengendalikan diri akhirnya di pintu masuk kelas keduanya bertabrakan sebab berebutan untuk masuk duluan. "Matamu buta ya?" bentak Devan. Lintang terkejut,sebab ketika dia berdandan culun seperti itu mendapat perlakuan kasar. Biasanya Lintang ketakutan dan meminta maaf, tapi kali ini dia tersenyum mengejek dan berlalu pergi ke bangkunya. Devan semakin marah dengan respon Lintang yang berbeda. Pemuda itu berniat melabrak, akan tetapi sang guru sudah masuk ke kelas membuat Devan mengurungkan niatnya dan bergegas duduk di bangkunya sendiri yang terletak di pojok belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN