Chapter 18

1109 Kata
Yoon berdiri membelakangi meja rias memerhatikan Ben yang tertidur. Begitu sampai di sini ia mengatakan akan beristirahat terlebih dulu, katanya ia lelah sekali. Entah sudah berapa lama Yoon hanya mondar-mandir dalam apartemen itu. Tidak tahu apa yang perlu dilakukan. Ia bosan setengah mati. Menunggu berjam-jam lamanya sampai Ben bangun. Ia terlihat lelap sekali. Rasanya Yoon ingin menyentuh pipi laki-laki itu, tapi terlalu takut akan membangunkannya. Ia juga tidak mengantuk. Meski sudah mencoba berkali-kali untuk ikut tidur, ia tidak bisa. Pikiranya saling berkejaran. Berlari ke tempat-tempat jauh yang tak dapat ia raih. Yoon menghela napas lelah. Beberapa waktu terakhir ia menimbang-nimbang perlukah ia melakukan sesuatu? Mungkin memasak untuk Ben. Untuk makan malam mereka. Tapi Yoon sadar benar ia tidak terlalu pintar memasak, jadi ia mengurungkan niatnya dan kembali melamun ria. Ia melewatkan sore ini bertemu dengan Alice, yang berarti juga melewatkan waktu ribut dengan Goto dan Tadashi. Tanpa sadar ia tersenyum samar. Yoon mengerti ia merindukan mereka. Yoon mengalihkan pandangan kembali pada Ben yang masih pulas. Ia di sini sekarang. Benedict Carl ada di hadapannya sekarang. Tetapi ia malah merasa kesepian yang kian mencekam. Yoon menggeleng. Seharusnya ia berhenti mempertanyakan hal-hal macam itu. Hubungan mereka harusnya diperbaiki. Ia tidak boleh mempertanyakan perasaan ini lagi. Mungkin kesenjangan dalam hubungan mereka karna salah Yoon sendiri. Mungkin ia tanpa alasan tak merasa dicintai lagi. Semua hanya karna pemikiran bodohnya sendiri. Benarkah? Sesuatu dalam dirinya bertanya. Berapa kali ia akan terus menyalahkan diri sendiri? Kenapa tidak sekali saja mencoba menggunakan otaknya untuk berpikir?! Yoon menggeleng keras. Ia meraih ponselnya di meja dan menyeret tubuhnya menuju balkon. Udara malam ini cukup dingin. Ia menggigil dalam balutan gaun pendeknya. Ia memandang jauh ke seberang West River. Menerka-nerka tempat di mana Tadashi berada. Kemudian menjatuhkan pandangan ke layar ponsel. Membaca pesan-pesan lama yang Tadashi kirimkan padanya. Tidak terlalu banyak pesan tentu saja, mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama ketimbang bertukar pesan. Seulas senyum menghiasi bibir Yoon yang pucat. Ia ingin bertemu Tadashi dan bersepeda lagi di Brooklyn Bridge. Mengajak Goto dan Alice pasti akan menyenangkan juga. Yoon senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu. "Kau sedang apa?" Yoon melonjak kaget. Nyaris saja ia menjatuhkan ponselnya. Ia berbalik dan mendapati Ben memandangnya heran. Yoon tersenyum seceria biasanya. "Kau sudah bangun?" "Mmm," Ben melangkah mendekati Yoon sambil melakukan peregangan ringan. "Kau sedang apa?" Ia memandang ponsel dalam genggamannya. "Tidak melakukan apa pun, hanya bosan dan keluar saja." Ben bergeming sesaat. Lalu mengulurkan sebelah tangan, meminta ponsel Yoon. Yoon ikut bergeming. Senyumnya hilang dan memandang Ben tanpa ekspresi. Ben mengambil ponsel itu dari tangannya. Sesaat saja sudah sibuk memeriksa. "Tadashi," ia bergumam. Sesekali tersenyum marah. Yoon diam. Ia takut tiap Ben menunjukkan raut wajah itu. "Kau sering bertemu dengannya?" Yoon kehilangan kemampuan bicara. Lehernya terasa sakit. Ia ingin menjelaskan bahwa ia bertemu Alice juga. Alice perempuan, jadi tidak masalah. "Siapa si Goto ini?" Nada suaranya meninggi. Yoon masih diam memerhatikan. Tidak mampu menyampaikan apa pun yang ingin ia sampaikan. Raut wajah Ben berubah dari marah menjadi terkejut. Lalu berubah menjadi sangat marah. "Kau bangga sekali memamerkan Tadashi pada Sua? Kau senang Tadashi menggambar untukmu?" Ia memandang Yoon, menusuk ke dalam jiwanya. "Oh," Ben teringat. Ia berbalik dan bergegas masuk. Yoon mengikuti dengan langkah was-was. Jantungnya sudah berdetak tanpa kendali. Tubuhnya gemetar karena takut. "Ini, kan, gambar Tadashi sialan itu? Kau bahkan memajangnya di sebelah foto kita?!" Suara Ben meninggi. Ia meraih bingkai itu. Melemparnya dengan kekuatan penuh ke dinding seberang hingga pecah berkeping-keping. Tubuh Yoon membeku. Tidak, pikirnya. Ben tidak boleh menghancurkan itu... Tapi lidahnya ikut beku. Ia tidak mampu bicara. "Jadi ini yang kau lakukan tanpaku? Kau berdalih menenangkan diri padahal hanya untuk menemui Tadashi?" Yoon menggeleng. "Tidak begitu..." Bagaimana bisa Ben berpikir demikian. Ia bahkan tidak kepikiran pada Tadashi sama sekali saat menginjakkan kaki di New York. Meski ia merasa nyaris mati menunggu pesan balasan dari Ben ia bahkan tidak kepikiran untuk meminta bantuan Tadashi. "Lalu apa?" Yoon menjatuhkan pandangan lagi. Terlalu takut memandang mata biru Ben yang kini terasa asing sekali. Ben melakukan hal yang sama pada ponselnya. Namun melemparnya pada dinding di belakang tubuh Yoon, membuat ia nyaris sekali terkena lemparan benda itu. Mata Yoon membulat tak percaya. Apa yang sudah ia lakukan? Apa salahnya? Kenapa Ben bersikap seperti ini? "Katakan yang sejujurnya, apa saja yang sudah kau lakukan bersama Tadashi?!" Bentaknya. Karena Yoon diam saja ia mencengkeram lengan Yoon. Menggunjang tubuhnya tanpa ampun. "Kau tuli? Atau bisu? Jawab aku, Yoon!" "Tadashi sahabatku!" Entah bagaimana Yoon bisa mengatakan itu dengan suaranya yang bergetar. Ia sendiri takjub. Gerakan Ben terhenti. Memandangnya tak percaya. "Kau lebih membela dia?" Suaranya lirih menyerupai bisikan. "Kau lebih membela dia?" Ben berteriak begitu keras. Segalanya terjadi begitu cepat. Yoon sampai tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi. Yang ia sadari ia kini tersungkur di lantai. Kepalanya sakit sekali. Pandangannya buram. Ia merasa sesuatu mengalir melewati pelipis turun ke pipinya. Dengan tangannya yang gemetar Yoon mengusap cairan itu. Darah. Yoon terhenyak. Ia masih belum bisa mendengar apa pun saat itu. Seluruh inderanya tak bekerja dengan baik. Tapi ia tahu ketika Ben memeluk dirinya. Meminta maaf? Benarkah laki-laki yang paling ia cintai di dunia ini barusan meminta maaf? Apa telinganya sudah berhenti berfungsi? Tidak. Ben benar-benar meminta maaf. Meski pandangannya belum sempurna tapi ia dapat melihat laki-laki itu bahkan menangis. Air matanya mulai berjatuhan tak terkendali. Ia senang sekali. Harapannya menjadi nyata. Tuhan mengabulkan doanya. *** Tadashi menunduk memandang daun laminating buatan Yoon. Tidak seperti Goto yang membawanya ke mana pun dan pamer pada semua orang. Tadashi lebih memilih menyimpannya sendiri. Menjaga benda itu sebaik-baiknya. Ia tersenyum samar. Baru beberapa jam waktu berlalu sejak terakhir kali melihat senyuman Yoon. Ia sudah merindukan gadis itu. Tadashi mengangkat wajah. Memandang menerawang jauh ke seberang West River. Sekarang sudah ada Ben bersamanya. Jadi Tadashi berhenti mengirimi Yoon pesan. Hanya untuk menjaga agar tidak terjadi kesalahpahaman. Karna Ben itu posesif sekali. Yah, hal itu cukup membuat Tadashi cemas juga. Ia berharap hubungan mereka sudah baik-baik saja sekarang. Yoon pasti bahagia, bisa menghabiskan waktu bersama orang yang ia cintai. Mungkin ia akan meyesal sudah membuang bucket list yang telah ia buat juga. Kenapa? Kenapa Tadashi malah ingin menangis? Padahal yang ia pikirkan saat ini adalah kebahagiaan Yoon. Wanita yang paling ia cintai. Sosok yang paling berharga dalam hidupnya. Tadashi bergeming. Memang benar, kebahagiaan Yoon adalah yang terpenting. Karena itu, mulai sekarang ia harus kembali bersikap seperti dulu. Menyibukan diri dengan pekerjaan seolah Yoon tidak pernah ada. Sejujurnya Tadashi belum siap. Bahkan jika boleh mengakui, ia tak akan pernah siap harus berpura-pura lagi. Tapi ia tidak punya pilihan lain, kan? Benar... Yoon harus bahagia. Hanya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN