Chapter 21

1174 Kata
Alice merindukanmu. Yoon menunduk termenung. Ia tidak bisa melupakan ucapan terakhir Goto. Ia merasa jahat sekali. Padahal ia tidak bermaksud begitu. Ia tidak pernah memiliki keinginan untuk meninggalkan mereka. Hanya saja. Hanya saja ia belum menemukan waktu yang tepat untuk menghubungi mereka lagi. Terlebih, jelas Ben tidak akan membiarkannya bertemu Tadashi lagi karena kejadian itu. Apalagi bertemu Goto, setelah perkelahian mereka Yoon tidak bisa mengelak dan mengatakan siapa laki-laki itu pada Ben. Yoon membuka kepalan tangannya. Terdapat kertas yang sudah terlipat begitu parah. Ia adalah kertas dari gambaran Tadashi yang tersisa setelah Ben membakarnya. Ia menyimpan itu diam-diam. Dari dalam hatinya yang paling dalam. Ia juga merindukan Alice. Merindukan Tadashi, bahkan Goto dengan segala kebodohannya. Yoon ingin sekali menghabiskan waktu bersama mereka lagi. Yoon tersentak kaget saat mendengar suara bel pintu. Apa Ben sudah kembali? Tapi ia belum lama pergi. Terlebih Ben tidak akan menekan bel, ia akan langsung masuk aja. Yoon memasukkan potongan kertas itu ke dalam dompetnya, lalu memasukkannya lagi ke dalam kotak make upnya di meja. Ben tidak pernah memeriksa benda itu. Jadi pasti akan aman-aman saja. Yoon melangkah keluar hati-hati. Kenapa jantungnya berdegup tidak karuan? Kenapa ia berharap Tadashi datang? Ia membuka pintu perlahan. Mengintip keluar dan terbelalak. "Alice!" Tanpa sadar ia berseru. Membuat gadis itu terkejut. Yoon mengayun pintu terbuka dan melongok keluar. Tidak ada siapa pun selain Alice. Tapi bagaimana bisa? Yoon tahu betapa spesialnya Alice. Tapi Alice belum tahu alamatnya. Kecuali, jika dugaannya memang benar. Goto ada di balik semua ini. Apakah Tadashi juga terlibat? Mungkinkah Tadashi ada di suatu tempat di dekat sini? "Yoon?" "Eh," Yoon terkejut karna Alice mulai menangis. "Kau baik-baik saja? Aku mencemaskanmu," Alice memeluk dirinya. Yoon bergeming. Jadi ingin ikut menangis. Ia menyadari betapa ia merindukan Alice. Tapi kenapa Alice menangis? Seolah tahu benar bagaimana keadaannya saat ini. Seolah tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. "Kau terluka? Ini kenapa?" Tangannya yang lembut menyentuh kasa di pelipis Alice. "Perutmu bagaimana?" Ia menyentuh perut Yoon juga dan segera menariknya kembali seolah sudah menyakitinya. "Masih terasa sakit, ya?" Bagaimana bisa Alice tahu perutnya masih terasa sakit? Ia bahkan tidak mengatakannya pada Ben. Berpura-pura bahwa ia baik-baik saja. Tidak kesakitan. "Goto memberitahumu, ya?" Untuk saat ini, hanya itu yang bisa ia berikan sebagai jawaban. Alice mengangguk. "Oh, ya, Alice masuklah dulu. Aku akan membuatkan teh untukmu," sebisa mungkin Yoon tersenyum ceria dan menggandeng lengan Alice untuk duduk di sofa. "Tidak perlu, Yoon. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu," Alice mendudukkan dirinya hati-hati. Yoon terpaksa ikut duduk. Tidak berani memandang Alice. "Goto mengantarmu, kan, Alice," ucapnya lirih. "Sebelumnya aku meminta maaf jika yang kami lakukan ini mungkin berlebihan." "Aku tidak mengerti, kenapa kalian begitu mencemaskanku?" Yoon meremas ujung gaunnya. Jangan menangis. Ia terus mengingatkan diri. "Karna kau temanku," sahut Alice tanpa ragu. "Kau teman pertamaku, Yoon. Aku tidak bisa membiarkanmu terluka." Yoon mengatur napas sebelum bicara lagi. Berharap suaranya tidak bergetar. "Tapi aku baik-baik saja, aku tidak sengaja menjatuhkan ponselku. Benda itu rusak, tidak bisa diperbaiki. Karna itu aku tidak bisa menghubungi kalian. Sementara luka ini, luka ini... Aku terjatuh." Alice tidak langsung menjawab. Pun Yoon tahu Alice mengerti dirinya berbohong. "Yoon, kau tahu kau tidak bisa membohongiku." Yoon mulai terisak. Ia tidak bisa. Ia tidak mau menyakiti Alice. Ia tidak sanggup. "Aku tidak bisa mengatakannya padamu," akhirnya ia bisa jujur. Jelas saja ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Goto akan tahu, yang berarti Tadashi juga akan tahu cepat atau lambat. Dan Yoon tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Ia tidak ingin kehilangan salah satu di antara mereka. Antara Ben dan Tadashi. "Kau selalu bisa memercayaiku, Yoon. Seperti aku memercayaimu. Kenapa kau menyimpan kesedihanmu sendirian? Bukankah aku selalu membagi senang sedihku bersamamu. Ini tidak adil untukku. Aku berpikir... Apa aku masih pantas menjadi temanmu?" Tidak. Yoon menggeleng. Bukan seperti itu. Itu tidak benar. "Tadashi pernah mengatakan padaku, aku tidak bisa memercayainya sebagai teman lagi jika Ben sampai melukaiku." Alice terdiam, terkejut. Pipinya basah. "Jadi dugaanku benar. Aku tidak pernah mengatakan ini pada siapa pun. Aku selalu mencemaskanmu. Dan ternyata benar..." Yoon meyentuh pelipisnya yang tertutup kasa. "Kau mengerti, kan, Alice? Aku tidak ingin kehilangan salah satu di antara mereka. Jadi kumohon, jangan beritahu siapa pun. Jangan sampai Goto dan Tadashi tahu," ia menunduk, terisak. Kenapa rasanya sakit sekali... Alice mulai sesenggukkan. "Ben memukulmu, kan? Aku benar-benar benci dia." Tidak boleh. Alice tidak boleh membenci Ben. "Kau tidak ingin kehilangan Ben atau pun Tadashi, tapi kau kehilangan diri sendiri, Yoon." "Eh?" Yoon memandang Alice dan menyadari tangannya terkepal. Apa Alice marah? "Aku tidak bisa memaafkan Ben!" "Tidak, Alice. Dengar dulu. Aku berani bersumpah. Ben meminta maaf sambil menangis. Bahkan sikapnya berubah. Ia jadi jauh lebih baik sekarang. Kau pasti mengerti, betapa aku mengharapkan hal ini." Jika bisa Alice tak ingin mengerti. Ingin pura-pura lupa saja. "Karena itu, aku memberinya kesempatan kedua. Aku harap kau juga bisa memaafkannya, Alice. Aku mohon." Alice mengusap wajahnya. "Ini kesempatan terakhir Ben. Berjanjilah padaku, Yoon." Yoon memandang keteguhan itu di balik sorot mata hangat Alice yang bagaikan malaikat. Ia mengangguk pelan. "Aku berjanji." "Dan, Alice. Tolong sampaikan pada Tadashi, aku baik-baik saja. Jangan mencemaskanku lagi." Raut wajah Alice berubah sendu. Pasti sesuatu yang buruk terjadi pada Tadashi. Tapi Alice tidak menjawab pertanyaannya yang tak terkatakan itu. Ia hanya tersenyum kecil dan memeluk Yoon untuk terakhir kali. "Jika semuanya sudah baik-baik saja, datanglah ke taman. Kau pernah menceritakan padaku betapa menyenangkannya bersepeda di Brooklyn Bridge. Ayo bersepeda bersama. Bersama Goto dan Tadashi juga." Yoon termenung. Ia bahkan melupakan janjinya sendiri. Dulu ia memikirkan berbagai cara agar bisa mengajak Alice keluar bersama. Agar Alice tidak merasa kesepian lagi. Tapi sekarang justru Alice yang mengajaknya. Yoon ingin meminta maaf. "Yoon, aku akan menunggumu," Alice tersenyum. Senyuman yang mampu menghangatkan hati paling dingin sekali pun. Lantas ia mengangguk. Ia juga berharap bisa mewujudkan keinginan Alice itu. Sangat berharap. *** Tadashi termenung. Ia duduk tertunduk di sofa apartemennya. Ketika pada akhirnya, setelah penantian yang terasa lama sekali, Alice kembali dan mengatakan bahwa semuanya hanya salah paham. Yoon baik-baik saja. Ponselnya rusak, karena itu tidak bisa dihubungi. Tapi Yoon mengatakan akan main bersama mereka lagi nanti. Benarkah? Benarkah Yoon mengatakan semua itu? Apa Alice jujur? Tidak satu hal pun bisa ia yakini. Rasanya takdir sedang mentertawakannya sekarang. Ia begitu mencemaskan gadis itu dan Yoon menjawabnya dengan candaan. Tidak. Ini tidak benar. Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Bukan... Bukan... Mereka. Ada yang Yoon dan Alice sembunyikan darinya. Apa Alice diam-diam akan memberi tahu Goto? Tadashi meraih ponselnya dan menelepon Goto. Tidak dijawab, tentu saja! Goto baru saja pergi untuk mengantar Alice setelah mengantarnya pulang. Apa yang ia pikirkan? Tadashi mengerang marah. Melemparkan ponselnya ke sudut sofa. Lantas bangkit dan mencari kunci mobilnya di meja kerja. Ia memutuskan untuk pergi. Tentu tidak bisa langsung mendatangi Yoon di apartemennya. Jadi ia melakukan apa yang Goto lakukan. Pergi ke tempat-tempat yang mungkin akan Yoon datangi. Sepanjang jalan. Tadashi berharap. Bahkan memohon agar dipertemukan dengan Yoon. Setidaknya ia harus melihat sendiri keadaan gadis itu. Kumohon... Kumohon... Ia terus meratap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN