MUDAH DIANCAM

1039 Kata
Hani berdiri di depan kantor, menunggu angkot lewat. Meskipun Hani sudah mendapatkan uang gepokan dari Tuan Yuan, gadis ini merasa sayang jika dirinya menggunakan uang itu. Padahal Hani bisa pulang naik taksi, tak harus menunggu lama angkot lewat. Kedua mata Hani masih sembab, dia masih belum terima atas perlakuan Tuannya tadi. Hani merasa lemah tak berdaya, sampai dia tidak bisa menolak. "Tapi ... setidaknya, aku masih perawan." Hani hanya tengah menghibur dirinya sendiri agar tidak terlalu sesak di d**a ketika aset kembarnya di remas, bahkan Hani seperti seorang ibu muda yang tengah memberikan asi kepada anaknya. Ciitt Sepeda motor keren berhenti di depan Hani, dia adalah Raffa Anggara, teman SMA-nya. "Pulang bareng yuk!" ajak Raffa, dia turun dari motornya tanpa melepas helm yang nempel di kepalanya. "Enggak usah, Raffa. Aku bisa pulang sendiri," tolak Hani. Dia merasa takut dekat dengan pria lain sekarang setelah dirinya mendapatkan ancaman dari Tuan Yuan, padahal Hani tidak mungkin memamerkan benda sintalnya itu di depan Raffa. Namun, tetap saja Hani takut Tuannya salah paham. Ancamannya sungguh mengerikan, ini menyangkut keselamatan Ibu dan Bapaknya serta adik perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. "Kenapa? Ayolah ... ini sudah malam loh jarang ada angkot lewat," bujuk Raffa seraya meraih sebelah lengan Hani. Buru-buru Hani menepisnya, tubuhnya gemetar. Pasalnya, Tuan Yuan belum keluar, Hani benar-benar takut jika Tuannya itu berpikiran buruk. "Kamu kenapa sih? Gak biasanya kamu kayak gini, Hani?" tanya Raffa melepas helmnya. Hani semakin ketakutan, dia celingukan takut Tuan Yuan tiba-tiba muncul. Syukurlah ... ada angkot lewat, Hani mengetikkannya. Buru-buru Hani masuk kedalam angkot tersebut. "Aneh banget," desis Raffa. Raffa tahu Hani kerja di perusahaan ini karena tadi pagi keduanya chatting. Diam-diam Raffa memang sangat menyukai Hani sejak masih SMA. Hanya saja, Raffa tidak berani mengungkapkan itu. Raffa diharuskan mencari pasangan yang sederajat. Maka dari itu, sebelum dia menjadi orang sukses seperti Yuan Atalla — Om nya, Raffa akan memendamnya. Raffa mengenal Hani, tife cewek yang susah bergaul dengan cowok. Pacaran saja belum, Raffa yakin kelak dirinya yang akan menjadi kekasih Hani. Keluarga Attala dan Anggara masih satu silsilah. Papanya Raffa adik Kakak dengan Mamanya Yuan. Bahkan, Raffa mengetahui kebiasaan buruk Om Yuan yang selalu menolak menikah namun doyan minum s**u bernyawa. Sangat aneh! Raffa tahu, Yuan sering keluar banyak uang untuk membayar sugar Baby untuk menemani kebiasaan buruknya tersebut. "Raffa, kau — " Yuan Atalla tiba-tiba saja muncul dihadapannya Raffa entah sejak kapan saking asyiknya Raffa melamun. "Om!" Raffa menggaruk pelipisnya, "baru keluar, Om?" tanya Raffa. "Iya, habis lembur," ucap Yuan sembari membenarkan kerahnya. "Lembur soal kerjaan apa soal — " mata Raffa memicing, dia mulai menebak-nebak lembur seperti apa yang dimaksud oleh Tuan Yuan Attala. "Kerjaan, Raffa," elak Yuan, "lantas, kau ngapain melamun di sini?" selidik Yuan. "Kepo! Dah ah, aku balik ya." Raffa tidak mungkin mengatakan kepada Yuan jika temannya kerja di sini. Apalagi temannya cewek, bisa-bisa nanti Yuan kepo. Raffa tidak mau hidup Hani terganggu. Silsilah keluarga Attala dan Anggara mainnya ancam, tidak mau sampai keluarganya tahu tentang dirinya yang lagi mendekati gadis yang tidak sepadan dengan keluarga Anggara. Di dalam angkot, Hani masih terlihat ketakutan, tubuhnya panas dingin dan gemetar. Hani masih teringat dengan jelas bagaimana ancaman yang diberikan oleh Tuan Yuan, tatapannya tajam dan menyeramkan. 'Aku takut... sepertinya, aku harus menjauhi Raffa. Ancaman itu mengerikan sekali.' Setibanya di rumah, Hani buru-buru masuk ke kamar. Hani mengamankan uang 5 juta di bawah kasur. Hani akan menyimpannya dengan baik uang haram ini. Gegas, Hani masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang habis menyusui bayi anak konda. "Hani kenapa, Pak? Pulang-pulang tanpa permisi langsung seruduk ke kamar," ujar Ibu Nining. "Mungkin... dia lelah" jawab Pak Nandi. Setelah mandi, Hani menatap dirinya di pantulan cermin. Memamerkan buah dadanya di depan cermin, menyentuhnya, meremasnya dengan kasar. 'Aaarrghhh!' Hani merasa jijik dengan tubuhnya sendiri, tepatnya kepada dua gundukan kembar itu yang masih kencang meskipun sudah ternoda, meskipun sudah disentuh oleh tangan laki-laki kekar, yang memiliki rahang tegas, tidak tampan namun berkharisma. Hani memejamkan mata ketika teringat kejadian tadi, ketika Tuan Yuan menjelma seperti anak bayi anak konda. "Kenapa sial banget hidup aku? Kenapa aku harus ketemu dengan Boss yang punya kebiasaan aneh?Aku takut... takut dia tidak memegang ucapannya kalau dia tidak akan menyentuh bibirku dan tidak akan merampas mahkotaku," monolog Hani lirih. Ting Suara bunyi notifikasi pun terdengar. Hani menutup asetnya terlebih dahulu menggunakan handuk. Dia mengambil ponselnya di atas meja riasnya. Hani melotot, ternyata ada pesan dari Tuan Yuan, tadi memang sebelumnya Yuan meminta kontak Hani. [Di mana alamat rumahmu? Saya akan jemput kamu. Saya gak bisa tidur, pengen ada yang nemenin] [Maaf, Tuan Yuan. Saya gak bisa, ini udah malam. Ibu dan Bapak pasti melarang saya keluar rumah] Jari tangan Hani gemetar saat membalas chat dari Tuan Yuan. Tidak habis pikir, bayik anak konda ini meminta nyusu lagi, padahal tadi sudah, dan cukup lama durasinya. [Saya tidak mau tahu. Kau bisa kabur lewat jendela kan, bodoh? Kalau kau tidak menuruti permintaan saya, malam ini akan saya kirim orang-orang suruhan saya untuk membuat kekacauan di rumahmu. Saya bisa lacak rumah kamu dari data karyawan di perusahaan] Lagi, Hani mendapatkan ancaman dari Tuannya. Hani hanya bisa menghela napas berat, sungguh Hani merasa capek, baru pulang kerja. [Baik, Tuan. Saya akan share alamat rumah saya] Terpaksa, Hani tidak punya pilihan lain. Dia takut orang suruhan Tuan Yuan akan menyakiti keluarganya. "Dasar cewek bodoh. Gampang banget diancam." Tuan Yuan tersenyum nakal. Yuan segera keluar dari kamar, Yuan hanya menggunakan pakaian santai. Terlihat masih seperti anak kuliah seusia Raffa jika Yuan menggunakan pakaian santai. "Yuan, mau kemana kamu udah malam begini?" tanya Mommy Gresya. "Gak usah kepo!" ketus Yuan. Memang hubungan Yuan dan Mommy-nya terbilang renggang, Yuan masih belum terima atas pengkhianatan yang sudah Mommy Gresya lakukan kepada Daddy-nya sehingga membuat Daddy-nya kecelakaan lalu tewas. Itu alasan Yuan kenapa dia tidak percaya dengan cinta, dan menganggap semua wanita itu sama seperti ibunya — pengkhianat. Bahkan, ketika Mommy-nya menikah dengan pria selingkuhannya yang selalu dianggap benalu oleh Yuan, sama sekali Yuan tidak pernah mau bicara satu kata pun dengan pria yang sudah menjadi Daddy tirinya selama 12 tahun ini. "Yuan ... kapan sikap kamu berubah, Nak? Mommy sedih dengan sikap kamu seperti ini, semenjak Daddy mu meninggal, Mommy merasa kamu semakin jauh dengan Mommy," lirih Mommy Gresya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN