Eleanor menatap Alvar. Pemuda itu terlihat jauh lebih baik daripada beberapa menit yang lalu. Wajahnya tak lagi pucat, bibir dan pipinya mulai menampakkan rona merah, serta bulir-bulir keringat yang tadinya menghinggapi kening dan pelipis Alvar pun telah hilang. Hal itu membuat Eleanor merasa lega. Alvar baik-baik saja. Tidak akan ada hal buruk yang menimpa Alvar. Eleanor berharap hal baiklah yang akan tiba, bukan sebaliknya. Natas, Alvar, dan Eleanor. Mereka bertiga duduk dalam posisi melingkar. Baik Natas maupun Eleanor, tak satu pun dari mereka mempermasalahkan rerumpunan tanaman yang menghitam. Kalaupun ada yang membuat kedua manusia itu gundah, hal itu hanya ada satu: penjelasan Alvar. Natas dan Eleanor berdiam diri, menanti Alvar memulai pembicaraan. Sesekali Natas melirik jengkel

