Aga menghela napas kasar, mengacak rambutnya karena merasa kesal. Bukan pada Sea, tapi pada diri sendiri. Melihat bagaimana Sea memenuhi keinginan dia sendiri, Aga benar-benar merasa tidak berguna. Dia merasa semua sudah baik-baik saja padahal belum. Memilih tidak mengganggu Sea makan, Aga kembali ke kamar, merenung untuk memikirkan harus berbuat apa dan cara bicara dengan Sea tanpa membuat istrinya itu tersinggung. Dia ingin semua normal. Dia tidak masalah jika Sea ingin ini dan itu. Itu kewajibannya, bentuk dirinya yang selalu ada dan mendukung istrinya yang tengah hamil. Pintu kamar terbuka, Sea nampak terkejut saat melihat Aga duduk bersama diatas tempat tidur. "Bangun? Kenapa?" Tanya Sea sambil merangkak naik ke tempat tidur. "Tadi pengen ke toilet. Abis dari mana?" Tanya Aga samb

