Siang itu, Andreas menikmati makan bersama Safira di sebuah resto suki kekinian. Mereka duduk bersama dan memasak berbagai macam suki pilihan mereka. Terlihat sangat serasi jika menjadi sepasang kekasih, pria tampan seorang CEO berpasangan dengan dokter muda yang pintar dan cantik. Namun hati tidak bisa dipaksakan. Begitu juga dengan perasaan Andreas yang masih terasa hampa. Ia belum bisa membuka hatinya, walau Safira dengan sabar menunggu kepastian. “Mas... Apa begitu sulit membuka hati buatku?” Safira menatap Andreas yang sedang mengaduk gelas berisi lemon tea. Andreas langsung menoleh dan menatap Safira yang terlihat sendu. Andreas menarik napasnya dalam-dalam dan berusaha memberi pengertian pada Safira. “Safira... Sebelumnya Mas minta maaf, sejak awal Mas sudah pernah bilang, kalau

