4. Mencintainya

1283 Kata
Bang Rojak segera menelepon dokter untuk memeriksa nyonya Aruni. Rojak sangat bingung harus mengerjakan yang mana dahulu, kemudian ia memutuskan untuk menjemput Bos Wirawan di kantor. “La... Leila aye udeh nelepon dokter, sekarang aye mau nyamperin Bos Wirawan ke kantornye!” Rojak bergegas pergi. “Iye... Bang ati-ati... Nyonye... Bangun ngape! Aye khawatir ni sama keadaan nyonye!” Leila menangis sambil berusaha membangunkan Aruni. Selang beberapa waktu, dokter tiba di kediaman Wirawan. Mpok Leila segera mengantar dokter ke ruang televisi dimana Aruni masih pingsan di sofa. Dokter langsung memeriksa keadaan Aruni. Tak kama kemudian Aruni terbangun dari pingsannya. “Alhamdulillah... Nyonye udeh siuman!” Mpok Leila terlihat lega. “Mpok... Saya kenapa?”Aruni masih bingung dengan apa yang telah terjadi. “Tadi anda pingsan Bu! Tapi syukur sekaramg denyut nadi anda sudah stabil, walau tekanan darah anda masih tergolong tinggi untuk ibu hamil.” Dokter menjelaskan. “Bagaimana keadaan saya dok?” Aruni mulai mengenali siapa saja yang berada di sekelilingnya. “Sebaiknya anda perbanyak beristirahat! Makan yang teratur, hindari stres, dan jangan terlalu berpikir yang berat ya Bu! Nanti saya buatkan resep!” Dokter sedang menulis resep obat. “Terima kasih dok!” Aruni tersenyum. “Mpok... Antarkan pak dokter ya!” Aruni menyuruh Mpok Leila. “Iye nyonye... Biar nanti Den Yudhis sama aye! Nyonye istirahat aje!” Mpok Leila bergegas mengantar dokter ke depan. Tak butuh waktu lama, Wirawan dan Rojak sudah sampai di rumah. Wirawan yang sangat khawatir dengan keadaan Aruni langsung berlari menemui istrinya. “Sayang! Apa yang terjadi.” Wirawan memeluk istrinya. “Enggak apa-apa Mas! Hanya saja aku terlalu capek mungkin!” Aruni tersenyum. Wirawan tidak percaya begitu saja. Setelah Aruni beristirahat di kamarnya, Wirawan menemui Mpok Leila yang sedang mengasuh Yudhistira di kamar Yudhis. “Mpok Leila.” Wirawan memanggil asisten rumah tangganya. “Eh... Iye tuan, ade ape?” Mpok Leila bergegas menghadap bosnya. “Mpok... Tadi, dokter bilang apa saja?” “Tentang nyonye?” Mpok Leila terlihat bingung. “Iya.” “Itu... Anu... Katanye nyonye tekanan darah tinggi sama stres kebanyakan mikir gitu!” Mpok Leila jujur pada bosnya. “Astaghfirullah... Ya sudah Mpok terima kasih infonya, tapi jangan bilang-bilang nyonya kalau saya tanya sama Mpok ya! Titip nyonya ya Mpok!” Wirawan menepuk pundak Mpok Leila. “Iye tuan, pasti aye jagain nyonye sama Den Yudhis!” Mpok Leila terlihat bersedih, matanya berkaca-kaca melihat keadaan majikannya. Wirawan kembali menemui istri tercintanya. Saat ia tiba di kamar, Aruni sudah tertidur. Ia duduk di sebelah istrinya sambil memandangi wanita anggun itu. Hati Wirawan bersedih karena merasa belum bisa memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Aruni pintar menyembunyikan kegalauan dan kesedihan yang ia rasakan. Seperti halnya saat ini, ia begitu berat memikirkan kelangsungan bisnis suaminya, sampai kondisinya drop. Padahal saat ini Aruni tengah berbadan dua. Sungguh miris hati Wirawan melihat semua ini. Wirawanerasa terpanggil dan harus berjuang demi kebahagiaan keluarga kecilnya. “Aku harus mencari solusi dari bisnisku, tidak akan aku biarkan keluargaku menanggung kesedihan dan kegagalan.” Wirawan memegang tangan Aruni dan dengan sabar berada di samping istrinya. Satu purnama telah terlewati, kini Aruni tengah menantikan kelahiran anak keduanya. Ia berusahaenjaga kondisinya, walau masih belum begitu stabil. Semakin hari perut Aruni mengalami kontraksi yang terasa semakin kuat. Hingga pada suatu malam, Aruni merasakan kram hebat pada perutnya. “Mas... Perutku!” Aruni meringis kesakitan dan sedikit sesak untuk bernapas. Aruni masih berusaha membangunkan suaminya. “Mas... Mas Wira!” Aruni mencengkram lengan suaminya. Sontak Wirawan terbangun dari tidurnya dengan raut wajah yang cukup shock melihat keadaan istrinya. “Mami... Kenapa?” Wajah Wirawan sangat panik. “Perutku kram, sepertinya mau melahirkan!” Aruni masih tersengal-sengal. Dengan sigap Wirawan memapah istrinya, sambil memanggil Bang Rojak. “Jak... Rojak, cepat ambil mobil!” “Rojak! Leila!” Wirawan sangat panik. “Iye... Tuan, siap!” Rojak bergegas mengambil mobil. “Mpok jagain Yudhis! Nyonya mau melahirkan.” Wirawan pamit menuju Rumah Sakit. “Iye tuan! Siap! Lancar-lancar nyonye!” Mpok Leila memberikan dukungan. “Ya Allah... Semoga nyonye Aruni baek-baek aje! Lancar! Sehat nyak same si jabang bayi!” Mpok Leila terlihat gugup dan meremas jemari tanggannya. Aruni tiba di Rumah Sakit, benar saja malam itu Aruni akan melahirkan. Wirawan dengan setia berada di sampinya, menemani Aruni yang sedang berjuang demi kelahiran buah hati mereka. Walau penuh perjuangan, cucuran keringat dan air mata. Namun semua berjalan lancar. “Alhamdulillah....” Wirawan sangat lega karena anak keduanya telah lahir kedunia. Suara tangisan buah hati mereka membuat aruni merasa haru, karena bisa melewati semua ujian selama kehamilan. “Sayang... Lihat ini putra kedua kita!” Wirawan menatap Aruni bersama buah hati mereka yang sedang berada dipelukan ibunya. “Iya Mas... Adik Yudhis, semoga anak-anak kita akan menjadi anak yang sholeh dan pintar.” Aruni tersenyum melihat putra keduanya. “Akan aku beri nama Airlangga, semoga setelah kelahiran Airlangga, kehidupan rumah tangga kita semakin sejahtera.” Wirawan tersenyum padanya. Anggota keluarga Wirawan bertambah lagi, seorang malaikat kecil mewarnai hari-hari mereka. Airlangga tumbuh menjadi anak yang periang, cerdas dan menggemaskan. Yudhis dan Angga (sapaan untuk Airlangga) menjadi anak yang tumbuh dengan penuh kaaih sayang dari kedua orang tuanya. Mereka terlihat sangat bahagia. Waktu seolah cepat berlalu, lima tahun berselang. Dengan perlahan perusahaan Wirawan kembali pulih dari keterpurukan, bahkan kini perusahaannya sedang berada di puncak kesuksesan. Dengan ulet Wirawan berhasil mengatasi segala permasalahan yang terjadi dalam perusahaannya. Semua tidak terlepas dari dukungan Aruni dan kerja keras Wirawan bersama timnya yang berusaha melewati hambatan menuju kesuksesan. Ketika Wirawan merasa lelah sepulang bekerja, ia melihat anak-anak dan istrinya yang sedang bercengkrama membuat lelah hilang dan tergantikan oleh semangat yang luar biasa. Mereka semua sedang berada di ruang televisi. Yudhis sedang bermain bersama Angga. Sedangkan Aruni sedang mengawasi mereka sambil berbincang dengan suaminya. “Sayang... Melihat Yudhis dan Angga, mamih merasa bahagia.” Aruni tersenyum pada Wirawan. “Apalagi kalau ditambah satu lagi ya mih!” Wirawan menatap istrinya. “Iiih... Mas bisa aja! Tapi boleh juga tuh... Kita kan belum punya anak perempuan.” Aruni memberi kode pada suaminya. Hujan yang turun malam itu membuat Aruni dan Wirawan terbuai dalam kehangatan cinta. Aruni adalah sosok wanita idaman Wirawan. Wanita berwajah teduh dan berhati lembut. Walau berasal dari keluarga berada, tapi selalu rendah hati dan menghargai sesama. Wirawan merasa sangat beruntung telah berjodoh dengan Aruni, teman yang selalu ada dan mendukungnya semenjak mereka kuliah bersama. Kini menjadi bidadari dalam kehidupan Wirawan. Ia selalu memperlakukan istrinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Aruni merasa beruntung memiliki suami seperti Wirawan. “Betapa beruntungnya aku karena memiliki suami sepertimu!” Aruni menatap Wirawan dengan sendu. “Aku juga beruntung karena memiliki bidadari surga yang menjelma menjadi dirimu.” Wirawan membelai rambut istrinya dengan penuh cinta, dan terbuai dalam pelukan. Lamunan Wirawan malam itu sangat mendalam mengenang mendiang istrinya. Sesekali ia membuka album foto yang berada di ruang kerjanya. Senyuman Aruni masih melekat di hati Wirawan, hal ini membuat Wirawan kembali mengenang saat Aruni memgandung anak ketiga mereka. Saat itu Pagi masih temaram, ketika Wirawan dan istrinya selesai ibadah sholat subuh, Aruni merasa sangat lemas, mual dan berkunang-kunang. “Sayang... Wajah kamu pucat?” Wirawan memperhatikan istrinya yang terlihat berbeda dari biasanya. “Aku mula dan pusing Mas!” Aruni menutup mulutnya karena merasa mual. “Ayo istirahat saja!” Wirawan memapah istrinya menuju tempat tidurnya. “Mamih kenapa? Papih panggilkan dokter saja ya!” Wirawan bergegas menelepon dokter. “Iya sayang!” Aruni masih merasa seperti berputar-putar. Setelah beberapa menit, dokter tiba dan langsung memeriksa Aruni. Raut wajah Wirawan sangat cemas dengan apa yang sebenarnya sedang dialami istrinya. “Pak Wirawan, selamat sekarang Ibu Aruni sedang mengandung.” Dokter tersenyum pada Aruni dan Wirawan. “Alhamdulillah... Ini serius dok?” Aruni sangat bahagia melihat dokter mengangguk. “Alhamdulillah... Terimaksih ya Allah... Terimakasih dokter!” Wirawan sangat bahagia. “Saya beri resep vitamin dan anti mual.” Dokter langsung menuliskan resep. Penantian panjang Aruni untuk hamil lagi telah terjawab. Walau kini kandungannya lemah karena efek dari kehamilan sebelumnya, semua itu tidak menyurutkan semangatnya untuk menjaga kondisinya saat itu. Ia sangat memgharapkan kehadiran anak perempuan dalam keluarganya. Wirawan masih termenung melihat foto-foto masa lalu bersama mendiang istri yang sangat ia cintai. Ia mengingat permintaan terakhir Aruni sebelum melahirkan anak ketiga mereka. Saat itu Aruni sudah hamil sembilan bulan, ia sedang menemani Wirawan di ruang kerjanya. “Papih... Kalau nanti anak kita lahir, seandainya perempuan, Mamih ingin ngasih nama Andrea, tapi kalau laki-laki lagi... Hmmm... Kasih nama Andreas ya!” Aruni memberi tahu Wirawan. “Iya sayang... Nanti kita kasih nama bersama.” Wirawan tersenyum pada istrinya. “Semoga... Mami bisa memberi nama anak kita ini sayang!” Aruni tersenyum, tapi wajahnya sangat pucat. “Ssttt... Mami ngomong apa sih? Ya jelas nanti kita beri nama bersama!” Wirawan gemas memandang istrinya yang terasa aneh nada bicaranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN