43. Terkejutnya Lidya

1602 Kata

Hasan masuk ke ruangan Pramana tanpa mengetuk karena sebelumnya memang sudah diizinkan. Wajahnya berbinar penuh semangat, berbeda sekali dari ekspresi Pramana yang sedang menatap beberapa lembar portofolio desain yang dibuat oleh Indira. Pramana masih terlihat terpaku pada sebuah gambar denah mall dengan konsep tropikal minimalis yang sangat matang, hampir seperti dibuat oleh desainer yang sudah bekerja bertahun-tahun. “Gimana, Pak? Mbak Indira hebat banget, kan?” Hasan langsung duduk tanpa diminta. “Saya saja sampai nggak percaya kalau desain sebagus itu dibuat sama karyawan baru.” Pramana yang sejak tadi menatap kertas perlahan meletakkannya di meja. “Kamu tau, San. Saya sudah lihat banyak desain dari berbagai tim. Tapi yang satu ini…” Ia menunjuk gambar itu dengan ujung jarinya. “Ada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN