Ruang rapat utama Akbar Group siang itu terasa berbeda. Biasanya ruangan seluas itu dipenuhi bisik-bisik ringan sebelum rapat dimulai, diselingi canda kecil antar pemegang saham yang sudah saling mengenal bertahun-tahun. Namun hari ini, suasananya tegang. Udara seolah lebih berat, tatapan-tatapan waspada saling beradu, dan tidak sedikit wajah yang menyimpan keraguan. Pintu ruang rapat terbuka. Semua kepala spontan menoleh ke arah yang sama. Indira melangkah masuk dengan tenang. Setelan formal berwarna krem yang dikenakannya membuat aura dewasa dan berwibawa terpancar jelas. Rambutnya tertata rapi, wajahnya terlihat tenang meski di balik itu jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Di sampingnya berjalan Pak Surya dengan map tebal di tangan, sementara Arman memilih berdiri sed

