Restoran Italia di pusat kota sore itu terasa lebih sepi dari biasanya. Musik lembut mengalun dari sudut ruangan, berpadu dengan aroma saus tomat dan basil yang baru ditumis. Arman Wijaya duduk di kursi sudut dekat jendela besar, tampak tenang dengan jas abu-abu dan kemeja putih bersih yang menegaskan wibawanya. Di depannya, segelas air mineral nyaris tak tersentuh. Hari ini bukan sekadar makan siang biasa, akan tetapi ia akan bertemu Arkan, sepupunya. Keduanya memang sama-sama sibuk di dunia bisnis keluarga, tapi akhir-akhir ini komunikasi mereka agak renggang. Terakhir bertemu kemaren di rumah sakit, dan Arman tidak mungkin membicarakan soalan bisnis dengan sepupunya itu di tempat yang tidak semestinya. Pintu restoran terbuka. Seorang pria tinggi berwajah tegas dengan setelan kasual s

