41. Ajakan Arman

1679 Kata

Arman meraih bantal dari atas ranjang, menepuknya pelan seolah mengusir udara sebelum memeluknya di satu tangan. “Tidur lah, In. Biar saya di sofa depan saja,” ucapnya lembut. Tatapan Arman begitu teduh, penuh pengertian. “Saya tahu kamu nggak akan nyaman kalau harus tidur sekamar, apalagi seranjang sama saya.” Indira yang sejak tadi berdiri kikuk di sisi ranjang hanya mampu mengangguk. “I-iya, Pak.” Arman tersenyum tipis—senyum yang entah kenapa selalu membuat jantung Indira berdetak tak karuan. “Kalau kamu butuh apa pun, panggil saja, ya.” Setelah mengatakan itu, Arman melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara keras. Indira langsung menghembuskan napas panjang begitu pintu tertutup rapat. Seakan seluruh ketegangan yang menekan dadanya sej

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN