Bab 1

1934 Kata
Tok ... tok ...tok ... Hujan deras kala malam itu menguyur tanah bumi. 1 ... 2 ... 3 ... semua yang tak bersembunyi akan basah terkena air hujan. Namun seorang Pejalan kaki tak memperdulikannya, Ia hanya perduli dengan ingatan-ingatan buruknya meski hujan membasahi seluruh tubuhnya. Terlihat sangat buruk sebagai seorang Idola papan atas sepertinya. Okta pemilik segala keberuntungan, seorang superstar papan atas yang dengan muda ia dapatkan apapun yang Ia inginkan. Kini dirinya malah terpuruk karena sebuah cinta yang telah pergi, kekasihnya telah meninggalkannya untuk hidup bersama pria lain. “Apa kurangnya aku? Sampai-sampai kau meninggalkanku begitu saja hanya untuk bersama pria lain,” pekik Okta dengan kemarahan dihati yang kini meluap. “Kau memang tampan, kaya, dan mempunyai segalanya yang diinginkan seorang wanita. Tapi semua itu tidak membuatku bisa bertahan di sisimu, bahkan semua gadis akan sama sepertiku memilih untuk meninggalkanmu". "Aku butuh kepastian untuk masa depanku, dan itu tidak aku dapatkan darimu,” tutur gadis yang bergaun pengantin masih harus menjelaskan duduk masalah perpisahan antara dirinya dan Okta. “Carilah gadis lain! yang dapat mencintai dirimu yang seperti ini! Dan hilangkanlah ego yang membuatmu kehilangan segalanya seperti saat ini!” Lanjut sang Gadis meninggalkan Okta yang berdiri mematung dengan bibir yang terkatup akan kenyataan yang masih tak dapat ia percaya. Peristiwa yang terjadi beberapa saat yang lalu terus berputar dipikiran Okta lagi dan lagi. "Akhhhh...!" pekik Okta yang merasakan sesak di dadanya. "Kenapa?" Teriak Okta menatap nanar kearah langit. "Kenapa harus aku? Kenapa semuanya orang meninggalkanku? Dan termasuk kau juga," lontar Okta kepada Ayahnya yang telah dipanggil oleh Sang Maha Kuasa terlebih dulu. Ia meyakini jika orang terdekatnya yang telah tiada akan mengawasinya dari langit. "Kenapa? Kenapa?" lampiasnya. *** Seperti seorang Musyafir yang tak mempunyai tempat untuk bernaung meski hanya sekedar untuk bersandar ketika tubuh terasa lelah setelah berjalan mengarungi terjalnya kehidupan. Popularitas tak membuatnya memiliki banyak teman dekat yang memberinya ruang saat dia butuhkan. Hanya dapat menjalankan stir tanpa arah. ke kanan lalu kemudian ke kiri tak dapat dipastikan, membuat kebingungan pengendara yang lain yang terus mengklakson tuk sadarkan Okta atas tindakannya yang salah, menggacaukan jalur lalulintas. Sangat jauh mobil itu melaju menerobos kegelapan malam, hingga tak disadari tanki bensin mobil telah kosong. “Sial ...!” teriaknya dengan tangan menghantam stir. “Sekarang apa lagi ini?”. Diamatinya kesekeliling yang sepi nan gelap hanya didapati alang-alang disisi, dan disisi lainnya terdapat tanah kosong yang ditumbuhi rerumputan liar. “Ingin pergi sejauh mungkin, tapi bukan berarti harus terjebak di anta-beranta seperti ini,” protes Okta, entah pada siapa? Karena semua kesalahan, dialah yang menyebabkannya. “Apa yang harus aku lakukan di tempat seperti ini? kenapa tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan disini?” gerutunya yang terus celingukan seperti sedang mencari sesuatu. “Oo.. disana!” tunjuknya pada sebuah gubuk yang berdiri tak kokoh diantara hamparan tanah kosong. Ia berjalan cepat lalu sedetik kemudian ia mulai berlari menuju gubuk itu berharap cepat mendapat bantuan. Dihampirinya rumah yang berdinding dari anyaman bambu dengan beratapkan jerami. “Permisi! Apa ada orang didalam?” Ketuknya mencoba membangunkan penghuni rumah itu. “Selamat malam! Ah bukan” hentinya tuk ucapan yang salah dan mencoba tuk mengkoreksinya, “Pagi! Halo, apa ada orang?". "Saya hanya ingin bertanya, apa anda tahu penjual bensin didekat-dekat sini? Karena kendaraan saya kehabisan bensin,” terangnya panjang lebar dengan tangan yang terus mengetuk hingga penghuni rumah pun keluar. Seorang nenek tua berjalan tertatih-tatih menghampiri Okta, dengan penampilan yang menurut Okta menyeramkan. "Akhhk ...!" teriak Okta histeris sembari melarikan diri, menjauh dari rumah itu. “Ada apa dengan pemuda itu? membangunkan orang tidur, tapi saat ditemui langsung pergi begitu saja. Tidak sopan!” Tukas Nenek Tua itu kembali masuk kedalam rumah. Sedangkan orang yang sedang digerutu, terus berlari tanpa arah. Meski terdapat dua rumah yang serupa dari yang pertama tak ia perdulikan. Okta hanya berfikir berlari sekencang mungkin tuk hindari gubuk-gubuk tua yang berpenghuni menakutkan seperti difilm horor yang pernah dibintanginya. Dan kini semua niatnya untuk mencari bantuan menghilang seketika. “Lebih baik aku mencari bantuannya besok saja, kalau sekarang aku kurang yakin kalau yang ku minta bantuan itu benar-benar manusia atau bukan,” gumamnya sendiri dengan nafas yang masih menderu akibat efek lari beberapa waktu yang lalu. Diputuskannya untuk beristirahat disebuah pohon tumbang yang kini sebagai alas untuknya duduk. “Ternyata masih ada tempat yang seperti ini”. Disandarkan tubuhnya disebuah pohon, lalu perlahan dipejamkan kelopak matanya. Dengan sejuta kelelahan yang menderanya tanpa sadar Okta tertidur sebentar disana. Hingga sebuah suara gemuruh ombak yang mulai pasang mengusik tidurnya, membuatnya terjaga kembali dari tidurnya. “Apa ada pantai didekat-dekat sini?” Tanyanya pada dirinya sendiri yang berusaha ia jawab dengan menghampiri suara ombak yang semakin lama semakin bergemuruh keras. “Ternyata benar-benar pantai,” Okta tertawa singkat melihat sesuatu yang diluar dugaannya. “Ayah! Apakah ini sebuah bonus untukku hari ini? Setelah perlakuan buruk mu kemarin?” Tanyanya dengan kepala mengada keatas seperti sedang bertanya pada Ayahnya. “Baiklah aku terima, kita berteman lagi sekarang,” tuturnya tersenyum lembut yang semata-mata ia persembahkan pada Ayahnya. Direbahkannya tubuh yang telah lelah diatas pasir pantai seraya memperhatikan langit yang sedikit demi sedikit mulai menjadi biru ke o, dan bintang yang sedikit demi sedikit mulai berpindah dan kemudian menghilang. Diputar kembali memori lama yang menyedihkan, tentang beberapa orang yang terkasih, pergi satu-persatu dari kehidupannya. Pertama sang Ayah, Ibu, lalu sang kakak yang satu-satunya Ia miliki pun membencinya. Dan kini seorang wanita yang selalu berada di sisinya juga meninggalkannya. “Carilah gadis yang lain yang dapat mencintaimu. Dan hilangkanlah ego yang membuatmu kehilangan segalanya seperti saat ini” Okta tersenyum pahit kala teringat ingat kembali perkataan itu. Kini air mata yang menetes tanpa izin karena rasa sakit yang timbul atas ingatan itu. Dihapusnya dengan segera air matanya, “Bodoh. Kenapa aku harus menangisi wanita yang tidak pernah mencintaiku? Aku benar-benar sudah gila” gumamnya mencibir diri sendiri. Ketika Okta sibuk memberi senyuman paksa pada bibirnya. Namun di satu pantai yang sama, tepatnya di bibir pantai seorang gadis yang memiliki senyum yang cantik, menyambut sang Surya yang tersenyum separuh dibalik garis pantai. Sebuah magic hour terpampang indah dihadapan kedua mata manusia yang memiliki nasib buruk yang berbeda. Begitu pula dengan sambutan yang mereka berikan atas nasib yang bertamu pada kehidupannya. “Pagi ku keseratus dua!” celetuk Gadis berparas cantik dan berambut terurai panjang yang sedang memandang lepas kearah pantai. Gadis itu memejamkan mata lalu berdo’a dengan kelembutan dari tulusnya hati. “Semoga hari ini lebih indah dari hari-hari sebelumnya,” “Hay kau yang disana!” panggil Okta pada gadis yang membelakanginya. Sesaat wajah si Gadis dapat Okta lihat meski samar karena kilau sinar matahari terbit sangat kuat. “Aku?” tanya gadis itu mencari kepastian jika memang dirinyalah yang dimaksud Okta. “Iya kau,” tunjuk Okta pada Gadis itu. “Ada apa?” “Apa kau tahu penjual bensin disekitar sini?” Okta memilih untuk bertanya dengan nada yang keras dari pada bertanya lebih dekat dengan tutur lembut. “Tidak punya etika,” cetus Gadis itu beranjak pergi meninggalkan pertanyaan yang ia terima. “Hey mau kemana? Jawab dulu pertanyaanku, baru pergi!” teriak Okta masih betah ditempatnya. “Hey.. hey.. Nona! Yakkk!” meski terus dipanggil si Gadis tetap berjalan pergi dengan langkah yang semakin dipercepat. “Luna!” Dengan senyuman lebar, seorang pria yang berumur lebih dari setengah abad memanggil sambil melambaikan tangannya pada gadis yang telah melarikan diri dari Okta. “Ayah!” gadis berparas cantik itu dipanggil Luna oleh orang yang disebutnya Ayah yang terus melambai padanya meski dirinya telah sampai didepannya. Tidak diherankan lagi oleh Luna jika Ayahnya bertingkah seperti seorang anak kecil karena Luna mengetahui benar bahwa Ayahnya memiliki penyakit retardasi mental atau sering disebut keterbelakangan mental. “Kenapa Ayah kemari?” “Ini, syal dan topi Luna ketinggalan dirumah.” sodor Ayah memberikan barang yang dimaksud. “Luna kan sakit, jadi harus memakai ini supaya tetap hangat!” “Terima kasih” Luna tersenyum manja. “Luna tidak pulang?” “Luna mau pergi ke kota dulu, ada yang harus Luna beli. Ayah pulang saja duluan!” tutur Luna. “Luna mau beli hadiah ulang tahun untuk Ayah kan?" cetus Ayah. “Ah?” sudah terbogkar semua niat baiknya tuk memberi kado untuk ulang tahun Ayahnya yang harusnya sebagai kejutan. “Bagaimana Ayah bisa tahu?” “karena hari ini ulang tahun Ayah,” polos Ayah. “Jadi Ayah ingat ulang tahun Ayah?” "10 Oktober ulang tahun Ayah, 15 Januari ulang tahun Luna, 28 Juli ulang tahun Kasih cantik” terang Ayah berpikir cukup keras tuk mengingat tanggal yang benar. “Wah Ayah hebat. Bisa mengingat semuanya dengan baik”. “Begitukah?” Ayah tersenyum bangga. “Jadi sekarang ulang tahun ayah yang keberapa?” tanya Liana menguji ingatan Ayahnya . “lima puluh?” “Ayah!” “Enam puluh?” ralat ayah, dan kini masih dengan keraguannya. “Mana mungkin Ayah setua itu?”. “Ayah sekarang berumur 52 tahun, masa tidak ingat? Jangan-jangan umurku juga tidak ingat,” kecewa Luna. “Maaf. Tapi aku ingat umur Kasih cantik. Dia sekarang berumur 41 tahun”. “Ayah ... memang aku kurang cantik seperti Ibu? Kenapa hanya Ibu saja yang ayah dibilang cantik?” protes Luna cemberut. “Karena Ayah lebih suka kasih, jadi Kasih lah yang paling cantik," jujur Ayah. “Jadi begitu, cinta ayah lebih besar untuk Ibu dari pada untukku? Ya sudah kalau begitu,” dengan wajah kesal Luna meninggalkan Ayahnya. Ia berjalan cepat kearah jalan pulang kerumah. “Luna mau kemana? Luna salah jalan! Jalan kekota disebelah sana.” Ayah berlari kecil untuk memperingatkan pada sang anak, jika dia berada dijalan yang salah. “Aku tidak ingin ke kota, aku ingin pulang saja". “Lalu bagaimana dengan hadiah milik Ayah?” “Tidak jadi. Tahun depan saja kadonya,” lontar Luna dengan nada yang sedikit keras karena jarak diantara mereka cukup jauh. “Maafkan Ayah. Luna jangan marah!” Ayah berlari kecil dibelakang Luna seperti anak kecil merengek meminta untuk dimaafkan, atau lebih tepatnya mengharap tetap diberi kado ulang tahun. “Luna hadiah untukku jangan dibatalkan. Ayah ingin kado itu”. Luna berbalik untuk menatap wajah Ayahnya lalu bertanya, “apa Ayah sangat menyukai Ibu sampai sekarang? Meskipun dia sudah meninggalkan kita berdua?” “Kasih hanya pergi sebentar, dia akan kembali lagi nanti,” terang ayah. “13 tahun bukan waktu yang sebentar Ayah. Dan sampai kapan Ayah akan menunggu Wanita itu?” “Kasih cantik pasti datang kerumah Luna dan Ayah,” yakin Ayah. “Jangan lagi mencintai Wanita yang telah mencampakan Suami dan Anaknya! Jangan lagi menunggunya! Karena dia tidak akan pernah datang”. “Tidak ... tidak ... Kasih pasti datang. Dia pasti datang,” yakin ayah. Pandangannya mulai kacau, kepalanya tidak berhenti tengok kanan dan kiri sembari menggulung kedua jari jempolnya, hal yang selalu terjadi saat dirinya dalam situasi terpojok, takut, sedih, dan perasaan yang sulit dirinya kendalikan. “Tidak! Wanita itu tidak akan datang,” kecam Luna. “Bukan Wanita itu, namanya Kasih. Kasih adalah Ibu Luna. Dan dia pasti akan datang” bersikeras Ayah. “Sadarlah Ayah! Wanita itu jahat, dia sudah meninggalkan kita berdua. Jadi aku mohon lupakan dia!” pekik Luna. “Tidak mau. Lunalah yang jahat! berkata buruk tentang Ibunya. Jadi Luna yang jahat bukan Kasih. Sekarang Ayah benci Luna!” kecam Ayah berlari pergi bersama air mata yang menetes. “Ayah!” panggil Luna tak dihiraukan oleh Ayah yang sudah berlari menjauh. “Kenapa ayah tidak mau mengerti?” Luna berjongkok menenggelamkan wajahnya pada kedua tangan yang terlipat, disitulah Luna menangis sejadi-jadinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN