BAB V

985 Kata
Selamat Membaca Sebelum membaca dipersilahkan vote dahulu dan comment di akhir ~ Perfect Family Action ~ ****       MALAM ini Devan akan menemani Kelly untuk berbelanja kebutuhan mereka, setelah pulang dari rumah Angkasa tadi Devan memilih langsung membawa istrinya itu berjalan-jalan menikmati sore hari. "Kamu mau ikut masuk?" tawar Kelly menatap suaminya itu dengan lembut, "Iya," jawab Devan mengusap kepala Kelly pelan lalu ikut keluar dari mobil. Kelly tersenyum kecil melihat Devan memperlakukannya dengan manis, sikap Devan perlahan mulai berubah ketika dia sudah menikah. Laki-laki itu mulai mencair dan membuka hatinya untuk Kelly dan Kelly sangat bahagia, dan Kelly juga tidak lupa akan tips dari Azel cara meluluhkan pria dingin. Cukup bermodalkan sikap apa adanya dan lembut apalagi memiliki wajah imut, maka semuanya akan teratasi dengan mudah, begitu menurut Azel. Dan tips itu berhasil. "Kamu mikirin apa? ayo keluar," Devan sudah membuka pintu mobil untuk Kelly, "Ah enggak, makasih," Kelly dan Devan mulai memasuki supermarket perbelanjaan kota, Kelly terlihat teliti dalam memilih makanan. Gadis itu harus membacanya terlebih dahulu sambil melihat komposisinya dengan baik, Kelly sangat memperhatikan gizinya. "Udah langsung beli aja, biar ga kelamaan." ucap Devan mendekati istrinya itu sambil mendorong trolly yang sudah berisi setengah makanan, "KIta harus teliti, jangan sembarangan ambil." Kelly menatap Devan dengan senyumnya dan mulai memasuki barangnya ke trolly. "Kesehatan itu penting, Celo. Aku ga mau kita sembarangan mengkonsumsi makanan apalagi makanan kaleng atau saji, kita ga tau zat apa yang ada disana. Kalo kita bisa menghindari, kenapa enggak? lagian aku kemaren sempet konsultasi sama Azel gimana caranya hidup sehat apalagi makanan yang di konsumsi," ceramah Kelly membuat Devan tersenyum. Devan menarik perlahan tangan Kelly dan mencium pipi gadis itu lembut, Kelly yang mendapat ciuman tiba-tiba itu langsung merona sekaligus malu karena beberapa pasang mata menatap kearah mereka. "Celo, malu," bisiknya menutupi rona wajahnya, "Kamu manis," bisik Devan sambil terkekeh. Itulah mengapa laki-laki dingin banyak diincar perempuan, perlakuan manisnya selalu tiba-tiba dan mengejutkan. Mereka jarang berekspresi namun masih bisa bersikap romantis dengan cara mereka sendiri, mereka bukan kaku melainkan hanya memberikan perhatiannya kepada orang yang tepat dan mereka sayangi, bukan sembarang orang. "Udah kita tinggal bayar," ucap Kelly setelah lama terdiam. Devan mengangguk dan membawa Kelly kearah meja kasir, tatapan kagum melihat Devan itu selalu ada walaupun laki-laki itu sudah berubah menjadi pria dewasa yang beristri, tetap saja pesonanya selalu terpancar. Setelah membayar, keduanya memilih pulang karena Kelly yang terlihat lelah, wajahnya sedikit pucat membuat Devan khawatir. "Sampai rumah langsung istrihat ya, wajah kamu pucet banget," Devan mulai merasa khawatir melihat istrinya yang sedikit pucat, "Iya, jangan khawatir. Aku cuman kecapean," ucap Kelly memperlihatkan senyumnya. Devan hanya bisa mnenghela nafas dan menambah kecepatan mobilnya, dia harus segera sampai rumah. Kelly sakit, dan dia harus merawatnya dengan baik. Devan sudah menerima Kelly di hidupnya, karena Kelly Devan mulai mengikis perasaannya untuk Azel. Kelly membawanya ke lembaran baru yang lebih berwarna tanpa harus meninggalkannya sendiri di bawah luka. Devan tidak ingin kejadian di masa lalu terulang kembali, membuatnya kehilangan seseorang yang berarti untuknya. Cukup sekali, tidak ada untuk kedua kalinya dan seterusnya. Itu saja membuatnya terpuruk sangat lama dengan bayangan rasa penyesalan, bagaimana bila itu terjadi lagi untuk kedua kalinya? Maka Devan benar-benar akan hancur. ****                  Angkasa sekarang sedang bermanja-manja ria dengan istri tercintanya, liat saja kelakuannya sekarang yang sedang berbaring di paha Azel sambil mengusap perut Azel yang masih rata. Laki-laki itu tidak beranjak dari posisinya setelah habis makan malam tadi berdua. Laki-laki itu mencium dan mengusap perut Azel berulang kali, dan sekarang laki-laki itiu memainkan jari-jari Azel sambil mengecupnya sesekali.  "Kamu mau anaknya jantan apa betina?" tanya Angkasa menatap wajah Azel yang berada di atasnya. Azel seketika mendelik, "Kamu kira anak kamu hewan pake istilah jantan ama betina, yang bener kalo ngomong," omel Azel membuat Angkasa memasang wajah cengirannya yang tidak pernah diperlihatkannya untuk orang lain, "Bercanda, yang." "Kalo aku, aku ga peduli jenis kelaminnya apa asal dia lahir dengan sehat dan kamu juga sehat. Aku ga minta berlebihan sama Tuhan, aku pengen kita hidup bahagia sama keluarga kecil kita dan bisa  menjaga anak kita nanti. Aku cuma mau saat kamu hamil, aku ada di sisi kamu dan dampingi kamu sampai kamu lahiran. Aku mau jadi Dadddy yang melihat anaknya dan mengazaninya dengan lembut di telinganya. Itu udah cukup bagi aku," Azel menatap Angkasa dengan haru, permintaan Angkasa mampu menggetarkan hatinya. Istri mana yang tak terharu mendengar permintaan suaminya yang tulus seperti itu. Azel tau, sekanak-kanak apapun sikap Angkasa dan semanja apapun dia, Angkasa bisa membawanya menuju bahtera rumah tangga yang saling berpegang teguh. Mampu bersikap dewasa dan mendampinginya setiap waktu, dan Azel paham bagaimana perasaan Angkasa begitu besar padanya.  "Kamu jangan nangis," ucap Angkasa lembut dan mengusap pipi Azel dari bawah, "Makasih udah jadi suami terbaik buat aku," lirih Azel mengusap rambut Angkasa. Angkasa bangkit dari posisinya dan menatap Azel lembut, "Harusnya aku yang berterima kasih sama kamu, karena kamu mau jadi istri laki-laki dingin dan datar kayak aku, yang sikapnya kekanakan dan egonya tingga. Kamu bisa ngertiin aku, dan itu buat aku bahagia bisa milikin wanita terhebat kayak kamu. Apalagi sekarang akan menjadi Mommy untuk Angkasa kecil," Angkasa mengusap pelan pipi Azel yang lembab karena air mata. Angkasa membawa Azel ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepalanya beberapa kali dan mengusap punggung gadis itu lembut. Bahagia yang sederhana menurut Angkasa itu saat Azel selalu bersamanya dan menemaninya setiap waktu. Angkasa tak akan peduli pada apapun asalkan Azel berdiri di sampingnya, dan tersenyum manis kearahnya. Azel adalah kekuatannya, jika Azel pergi maka Angkasa akan lemah, Angkasa tidak akan pernah merasa dirinya sempurna lagi. Karena Angkasa terlalu menyayangi Azel lebih dari siapapun. Kamu cuman milik aku,sayang batinnya. "Sekarang kita tidur ya, ga baik mommy muda tidurnya malem-malem," ucap Angkasa mengusap keringat yang mengalir di pelipis Azel. Azel hanya mengulum senyumnya dan mengangguk, keduanya segera berbaring. Azel memposisikan dirinya di pelukan Angkasa dengan nyaman. Keduanya akan meyambut hari esok, dan selalu berdoa agar semuanya tetap baik-baik saja hingga maut memisahkan mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN