Jin Young dan Ajeng menatap Jun Cheol bingung tak biasanya pemuda itu terlihat marah begini entah apa yang menyebabkan dirinya seperti ini, sedangkan Jun Cheol yang masih menyahuti orang aneh yang menelponnya sesekali mengerutkan dahinya bingung.
"Jadi sekarang ketakutan anda perlahan sirna Jun?" tanya Jin Young lembut.
"Saya masih takut tapi saya mencoba untuk menghadapinya Young-ah, ini telpon berisik banget Ya! Siapa sih yang nelpon gini! Mana gak ada namanya lagi, siapa ini?!" ucap Jun Cheol marah.
"Hahahahahahahahahahaha!" tawa si penelpon senang.
"Kalo anda nelpon cuma buat iseng lebih baik jangan hubungi saya!! Saya tidak mengurusi hal yang berkempentingan seperti ini," murka Jun Cheol marah.
"Orang sombong tetaplah orang sombong ya?! Bahkan hanya masalah seperti ini saja anda bisa semarah ini? Anda pikir saya takut," sindir si penelpon senang.
"Sombong? Siapa yang anda sebut sombong hah?! Masalah seperti ini? Saya tidak memiliki masalah apapun dengan anda ya kenapa saya harus merasa takut?" murka Jun Cheol marah.
"Apakah saya menyebut diri saya sendiri? Tidak memiliki masalah apapun? Lupakah anda atas apa yang sedang anda lakukan? Jadi anda tidak takut jika saya membunuh orang yang ada di sekitar anda? Baiklah jika anda memang tidak takut, " ujar si penelpon santai.
"Bukankah bisa jadi! Lupa? Saya hanya melakukan apa yang perlu saya lakukan jika anda jelas terlibat dalam kejahatan bukankah ada harga yang perlu anda bayar? Anda mengancam saya? Memanfaatkan ketakutan orang lain akan berbalik kepada anda sendiri," tutur Jun Cheol dingin.
"Senaif itu anda! Kejahatan apa yang anda maksud? Saya hanya melindungi apa yang perlu saya lindungi jadi apakah saya berbuat jahat karena melindungi? Benar! Saya mengancam anda agar berhenti melakukan apa yang anda lakukan! Benarkah? Berbalik kepada saya? Kalau begitu saya akan menunggu kapan waktu itu akan datang," ujar si penelpon dingin.
"Tidakkah anda lebih naif dari saya? Sepertinya anda memang orang yang tidak tahu diri, salah tetaplah sebuah kesalahan! Tidak berarti karena melindungi maka kesalahan dianggap benar!! Karena melindungi kesalahan adalah sebuah kesalahan yang jauh lebih hina dari kesalahan itu sendiri!! Saya tidak akan berhenti dari pekerjaan saya hanya karena ancaman orang lain! Tunggu saja hingga waktunya datang saya yakin anda tidak akan sesantai ini," tutur Jun Cheol marah.
"Saya orang yang tidak tau malu? Siapa anda hingga berani-beraninya mengatakan saya seperti itu?! Anda mudah menilai seperti itu karena anda tidak berada tepat dimana kaki saya berpijak!! Ternyata anda memang benar-benar sombong ya pak detektif," ujar si penelpon santai.
"Benar! Sangat tidak tau malu karena berani-berani anda mengancam orang lain dengan alasan melindungi orang lain padahal orang yang kalian bunuh juga memiliki orang yang ia sayang! Anda pikir didunia ini hanya anda yang ingin melindungi dan memiliki orang yang disayang!! Tau apa anda tentang saya! Orang yang hanya berani menindas tidak pernah tau rasanya tertidas itu seperti apa! Jadi jangan bicara omong kosong," murka Jun Cheol semakin marah.
Ajeng yang tak ingin melihat Jun Cheol marah seperti ini membuatnya mengambil telepon dari Jun Cheol lalu ia memutuskan panggilan telepon dan saat Jun Cheol ingin mempertanyakan apa alasan Ajeng seperti ini, gadis cantik itu sudah dulu menjelaskannya.
"Apa yang kamu lakukan ...," tanya Jun Cheol terhenti.
"Gue gak maksud buat ganggu waktu kerja lu sekop tapi berdebat kayak gini gak akan buat kita nemuin solusinya, masalah itu diselesaiin dengan kepala dingin! Lu jangan sampe kepancing kayak gini!! Karena kalo lu kayak gini gak ada hasil apapun sekop," ucap Ajeng menenangkan.
Suasana cafe seketika hening setelah Ajeng mengatakan hal yang memang ada benarnya, Jin Young yang setuju dengan ucapan Ajeng pun membuatnya menenangkan Jun Cheol karena Jin Young mengerti bukan tanpa alasan Jun Cheol memarahi si penelpon karena dirinya hanya tak ingin terintimidasi oleh lawan.
"Ajeng bener Jun! saya paham anda ingin membuat lawan tak bisa lagi memanfaatkan apa yang anda takutkan tapi menanggapi lawan dengan berdebat seperti itu memang tidak menghasilkan apapun untuk penyelidikkan kita jadi anda tenanglah," tutur Jin Young lembut.
Sementara Jun Cheol yang mengerti maksud baik Ajeng dan Jin Young membuatnya menghela nafas Jun Cheol sejenak lalu tak lama ia menyahutinya dengan tenang dan karena dirinya dan Jin Young perlu istirahat untuk besok Jun Cheol pamit pulang.
"Oke saya setuju dengan kalian! Saya memang seharusnya lebih tenang lagi dalam menghadapi hal ini tapi Jin Young juga benar karena saya gak mau kekurangan saya menjadi kekuatan untuk orang lain! Oke saya akan tenang Oh iya kita perlu istirahat untuk besok hari Young-ah! Saya dan Jin Young pamit pulang ya," ujar Jun Cheol lembut.
Jin Young dan Ajeng yang mendengar ucapan Jun Cheol membuat mereka meyahutinya dengan santai lalu tak lama Jun Cheol dan Jin Young bergegas kembali ke apartemen karena masih ada yang perlu mereka lakukan disana.
"Oh iya benar Jun! Baiklah ayok kita pulang Jun Cheol," sahut Jin Young lembut.
"Kalian hati-hati pulangnya sekop! Jin Young!!" ucap Ajeng lembut.
Jun Cheol pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti sebagai jawaban dari ucapan Ajeng yang mengingatknya, selama di perjalanan menuju apartemen mereka. Jin Young merasa iseng untuk ingin meledek Jun Cheol yang terlihat menyayangi dan semakin dekat dengan Ajeng, sedangkan Jun Cheol yang diledek seperti ini hanya menyahutinya datar.
"Duh yang keliatan makin deket aja sama Ajeng, ternyata dari hal terdekat bisa memikat sosok Jun Cheol yang terlihat dingin dengan banyak wanita ya! Anda tidak berniat berjalan ke hal yang lebih serius Jun? Mengatakan perasaan anda misalnya," ledek Jin Young senang.
"Terus saya harus menjauh? Gak mungkin Young-ah! Bicara apa manusia satu ini?! Lebih serius? Oh maksud anda menjadikan dia sebagai pacar saya? Saya belum mikirkan hal apapun selain kasus kita Hong Jin Young!" ucap Jun Cheol datar.
"Saya gak bilang gitu Jun! Kenapa gak mungkin Jun Cheol?! Kalo cinta itu diperjuangkan bukan dijagain aja kayak duit ahahaha ... iyalah pacar oh anda mau langsung menjadikan dia istri Jun? Ya ampun sungguh hebat sekali manusia satu ini! Loh belum memikirkan tapi selalu ngasih perhatian lebih gimana sih anda sebagai cowok Jun! Tegas dong," ledek Jin Young senang.
"Lalu maksud anda mengatakan seperti itu apa?! Gak mungkin saya menjauhi Ajeng saat Ajeng sendiri bisa dalam bahaya, anda kepentok pintu mana sampe ngawur gini pikiran anda Young-ah! Anda belum pernah saya lempar dari lantai 7 ya Hong Jin Young?! Terus saya harus jahat gitu? Ngaco aja ini mahluk satu! Saya kurang tegas apa Young-ah!" omel Jun Cheol kesal.
"Gak maksud apa-apa Jun! Sebatas mengingatkan nanti kalau Ajeng diambil orang gimana?! Ah bilang aja anda yang memang gak bisa jauh dari dia Choi Jun Cheol! Dih kepentok apaan?! Saya itu ngasih tau Jun! Buset dah mainnya lempar-lemparan, saya orang Jun bukan karung beras yang bisa anda lempar seenaknya! Saya gak bilang anda harus jahat Jun Cheol! Tapi kalo anda beneran sayang ya omongin dong! Ya ini kurang tegas namanya Jun! Masa anda deket sama Ajeng tapi anda gak ada status apapun, gimana sih mahluk satu ini!" ledek Jin Young senang.
"Saya gak lupa Young-ah! Gak perlu anda ingatkan! Mulai lagi nih anak, terserah anda deh Young-ah! Mau bilang saya gak bisa jauh atau apapun terserah ... ya anda kepentok apaan? Kenapa malah bertanya sama saya?! Yaudah makanya kalo saya baik atau ngasih perhatian lebih berarti gak masalah dong Young-ah!! Doakan saja apa yang anda inginkan terkabul tapi bagi saya yang utama adalah kasus ini! Saya tidak ingin salah langkah Young-ah," tutur Jun Cheol datar.
Jin Young yang ingin kembali menyemangati Jun Cheol agar membuka hatinya yang telah lama mati membuat Jin Young berusaha untuk mengajak ngobrol Jun Cheol demi menyakinkan diri Jun Cheol yang masih terlihat bimbang.
"Diingatkan itu tidak hanya karena lupa saja Jun! Harusnya anda ... Ya!!" ucap Jin Young terhenti.
Namun sayangnya mereka berdua telah sampai di apartemen dan Jun Cheol bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya yang merasa membutuhkan ketenangan untuk sejenak, sedangkan Jin Young hanya bisa meneriaki Jun Cheol agar pria itu tak lagi terlarut-larut dalam kesedihan dan kesepian seperti ini.
"Harusnya anda membahagiakan diri anda juga!! Anda perlu bahagia!" teriak Jin Young kesal.
Sebenarnya Jun Cheol mendengar setiap ucapan Jin Young tapi entah mengapa sudut hatinya masih saja terikat akan hal yang menyakitkan, dirinya tak ingin kehilangan orang yang begitu ia sayang ataupun melihat orang lain menyakiti bahkan membuatnya menyesal karena tak mampu melindungi apa yang ia miliki.
"Jika memilikimu berarti harus siap terluka sedalam saya pernah menyayangimu lebih baik saya tidak perlu mengenal kebahagiaan hanya agar melindungimu dari kesalahan yang sama! Karena merasa kehilangan berulang kali sama saja membuat saya terlihat bodoh," lirih Jun Cheol sendu.
Bermenit-menit Jun Cheol telah menenggelamkan dirinya untuk berendam di bathtub tak lama suara Jin Young kembali terdengar mengingatkan Jun Cheol agar makan karena mereka perlu mengisi perut mereka berdua sebelum kembali bekerja lagi.
"Jun Cheol!! Anda sedang mandi atau anda sedang buat kamar mandi!! Lama banget!! Buruan keluar dari kamar mandi sekarang Jun Cheol! Karena kita perlu mengisi perut sebelum diskusi lagi Choi Jun Cheol!!" teriak Jin Young sebal.
Jun Cheol hanya menyahuti ucapan Jin Young dengan gumaman saja karena Jun Cheol masih merasa kalut dan tak ingin banyak berbicara saat ini, lalu tak lama Jun Cheol bergegas keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian santai sebelum dirinya menyusul Jin Young yang sibuk dengan masakannya yang terlihat cukup menggiurkan.
Jin Young yang mendengar suara pintu kamar Jun Cheol membuatnya menyapa Jun Cheol yang terlihat sendu dan lesu seakan-akan nyawanya tak ada diraganya, sedangkan Jun Cheol yang di sapa hanya menjawab ucapan Jin Young dengan dingin.
"Akhirnya keluar kamar juga anda Jun! Lah kenapa muka anda lesu terus sedih gitu Jun Cheol? Gak ada telepon dari Ajeng atau anda tidak bisa menelponnya?" tanya Jin Young bingung.
"Tidak kenapa-kenapa Young-ah! Berhentilah bercanda Jin Young," sahut Jun Cheol dingin.
Bukan Jin Young namanya jika dia tak merecoki seorang Choi Jun Cheol yang selalu seperti ini jika memikirkan sesuatu sendirian hingga akhirnya Jun Cheol lelah dan ia menyahuti Jin Young dengan dingin seakan-akan dirinya tak perduli dengan apa yang Jin Young katakan.
"Saya tidak bercanda Jun!! Anda kenapa? Tidak biasanya anda terlihat seperti ini Jun? Ada hal yang terjadi tanpa saya taukah Jun Cheol?" ujar Jin Young serius.
"Oh saya pikir anda bercanda lagi, saya baik-baik saja Young-ah! Berhentilah bertanya akan hal yang tidak penting seperti ini! Tidak ada apapun Young-ah," sahut Jun Cheol dingin.
"Kali ini saya serius Jun! Anda tidak mungkin baik-baik saja tapi terdiam seperti ini bahkan anda meminta saya untuk berhenti bertanya! Sudah pasti anda sedang memikirkan sesuatu sendirian Jun Cheol!! Tolong jangan berbohong seperti ini Jun! Saya bisa membantu anda bukan? Kenapa anda harus berdiam seperti ini Jun Cheol," ujar Jin Young sedih.
"Saya hanya ingin berdiam diri sebentar Young-ah!! Jadi bisakah kali ini biarkan saya seperti ini? Tidak saya tidak memikirkan apapun ... saya tidak berbohong Young-ah! Anda bisa membantu saya dengan membiarkan saya sendirian sebentar Jin Young! Karena saya butuh ketenangan sebentar Young-ah! Besok saya pasti tidak akan seperti," tutur Jun Cheol serius.
"Apakah ketenangan hanya didapatkan jika anda berdiam seperti ini Jun Cheol ! Kenapa saya harus membiarkan anda begini? Kalau ada masalah ceritakan Jun jangan anda tanggung seperti ini Jun! Mana mungkin anda tidak memikirkan apapun, kalo anda gak memikirkan apapun anda gak perlu ketenangan Jun! Gak ada besok Jun selesai sekarang, ujar Jin Young semakin serius.
"Kenapa anda sulit sekali membiarkan saya sendirian Young-ah! Karena saya membutuhkan diri saja tenang sebentar Jin Young! Apakah sesulit itu untuk mendapatkan ketenangan Young-ah?! Selesai apa? Saya baik-baik saja," ujar Jun Cheol dingin.
Jin Young yang tak tahan lagi dengan rasa kesal yang coba ia tahan sejak tadi tak lama Jin Young memarahi Jun Cheol untuk menyadari hal yang ia lupakan, sementara Jun Cheol yang mendengar ucapan Jin Young terdiam selama beberapa menit.
"Sulit? Anda lupa kesulitan apa yang selalu kita hadapan Jun Cheol! Kita sudah berteman sejak lama hingga saya paham dengan diri anda lebih dari diri anda sendiri Jun! Saya seperti ini bukan tanpa alasan tetapi karena saya tau jika anda sendirian maka anda akan membuat keputusan yang ceroboh dan tak masuk akal kemudian membahayakan diri anda sendiri sampai anda lupa jika diri anda juga penting! Sadarlah Jun! Bahwa dari semua hal yang terpenting diri anda sendiri jauh lebih penting bukan hanya saya ataupun Ajeng tapi kebahagiaan dalam diri anda selalu saja terabaikan Jun! Tidak bisakah anda memikirkan diri anda sendiri," tutur Jin Young kesal.
|Bersambung|