Tolong Yakinlah

2024 Kata
Dalam diam Ajeng merasa bolehkah dirinya menaruh hatinya untuk digenggam oleh orang yang membuatnya merasa aman dan nyaman disaat yang bersamaan, sedangkan Jun Cheol yang tak mendengar sahutan dari ucapan Ajeng membuatnya merasa khawatir dengan keadaan Ajeng. "Ajeng? Ajeng! Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu diam saja?" tanya Jun Cheol khawatir. Tak lama Ajeng yang mendengar pertanyaan Jun Cheol membuat Ajeng menahan senyumannya karena Ajeng merasa kehadirannya dianggap oleh Jun Cheol dan sepertinya Jun Cheol memang berniat tulus kepadanya dan entah mengapa Ajeng merasa senang akan hal itu. Sementara Jun Cheol yang belum juga mendengar ucapan dari Ajeng sejenak membuat Jun Cheol merasa khawatir jika sesuatu terjadi pada Ajeng hingga Jun Cheol memanggil-manggil Ajeng untuk mendengar suara Ajeng bahwa dirinya baik-baik saja. "Ajeng?! Jangan bercanda! Ini sangat tidak lucu! Ajeng are you ok?" panggil Jun Cheol khawatir. Ajeng yang mendengar pertanyaan Jun Cheol yang terdengar sebentar lagi akan memarahi diri nya membuat Ajeng akhirnya menjawabnya ucapan Jun Cheol dengan menenangkannya agar dirinya dan Jun Cheol tak lagi berdebat seperti tadi. "Apa sekop? Gue lagi belajar jadi lu ngelamun gak sengaja, enak gak coba lu gue diemin? Gak enakkan sekop? Makanya jangan cuekin gue! Tenang aja gue gak apa-apa kok! Lu gak perlu khawatir lagi, oke?" sahut Ajeng menenangkan. Setelah mendengar ucapan Ajeng membuat Jun Cheol merasa hatinya lebih ringan hingga tak lama Jun Cheol menyahutinya dengan lembut karena menurut Jun Cheol tak mendengar suara Ajeng beberapa menit malah memberikan dirinya banyak hal yang tak ia mengerti. "Jangan aneh-aneh Ajeng! Sorry, sorry! Iya nanti saya gak akan cuekin anda, beneran? Terus tadi kenapa anda diam gitu? Iya saya khawatir kalo anda diam aja," ucap Jun Cheol lembut. Disaat Ajeng hendak menyahuti ucapan Jun Cheol tak lama Ajeng menguap karena perlahan ia mulai merasa mengantuk dan jam sudah semakin larut malam tepat sebagai waktu istirahatnya Ajeng, sedangkan Jun Cheol yang mendengar Ajeng menguap membuatnya menyuruh Ajeng agar segera tertidur karena pasti Ajeng sudah cukup kelelahan seharian ini. "Aneh-aneh apaan sih sekop? Hm ... duh ya ampun," ujar Ajeng mulai mengantuk. "Udah dilanjut besok lagi aja! Anda sekarang perlu istirahat Ajeng, jadi selamat terlelap! Mimpi indah dan tolong yakinlah pada saya," ucap Jun Cheol lembut. Jun Cheol hanya ingin menyakinkan Ajeng untuk mempercayai dirinya bahwa selama ini dirinya tidak pernah menyamakan Ajeng dengan mantan tunangannya ataupun wanita lain, sayangnya karena Ajeng terlalu mengantuk ia tidak mendengar ucapan Jun Cheol dengan jelas dan Ajeng hanya menyahuti ucapan Jun Cheol dengan gumaman saja. "Hm ...," gumam Ajeng semakin mengantuk. Sebenarnya Jun Cheol tau bahwa mungkin Ajeng tidak mendengar apa yang ia ucapkan barusan hanya saja Jun Cheol memang ingin mengatakan ucapan seperti itu supaya Ajeng tak lagi salah paham dengan apa yang ia lakukan untuk Ajeng. Hingga panggilan telepon dimatikan oleh Jun Cheol karena Jun Cheol hanya mendengar suara nafas Ajeng yang mulai teratur tanda gadis cantik itu sudah masuk ke dalam alam mimpinya, Jun Cheol tau harusnya dirinya bisa lebih tegas mengutarakan apa yang ia rasakan. Hanya saja ada hal yang perlu ia selesaikan dan tak seharusnya Jun Cheol mencari kebahagiaan dirinya sendiri sampai Jun Cheol lupa bahwa ada kebahagiaan lain yang tertutupi rahasia dan belum bisa Jun Cheol pecahkan, karena itulah Jun Cheol masih bimbang untuk membuat Ajeng yakin dengan kesungguhan yang ada pada dirinya. "Membuat anda yakin dengan segala hal yang saya lakukan adalah harapan yang sedang saya perjuangkan untuk anda tapi jauh dari itu semua, saya tidak ingin melibatkan bahkan melihat anda terluka hanya karena keegoisan saya yang ternyata membuat anda dalam bahaya! Saya tidak ingin itu terjadi," lirih Jun Cheol sedih. Dalam keheningan malam yang terasa membingungkan menurutnya tak lama Jun Cheol mulai jatuh terlelap ke alam mimpinya, ada harapan yang terselip dalam hatinya dan perlahan mentari pun hadir dengan sinarnya yang menyilaukan hingga menggangu Jun Cheol yang sibuk terlelap. Namun dengan enggan Jun Cheol bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap untuk mandi tapi tak lama terdengar suara Jin Young membangunkannya membuat Jun Cheol tersenyum senang lalu Jun Cheol segera menyahutinya dengan semangat. "Jun Cheol!! Bangun Jun! Hari ini kita perlu ke rumah Barra bukan?" teriak Jin Young serius. "Sudah bangun Young-ah! Iya benar, kita akan ke rumah Barra!" sahut Jun Cheol semangat. Jin Young yang mendengar suara Jun Cheol membuatnya mengulas senyuman terbaiknya karena Jin Young merasa lega walaupun kemarin malam mereka berdua berada di situasi yang kurang baik tapi setidaknya Jun Cheol tidak berubah dan masih seperti biasanya. Padahal semalam Jin Young sempat berpikir jika masalah hadir diantara dirinya dan Jun Cheol dirinya tidak yakin bagaimana cara menyelesaikan masalah itu, untungnya Jun Cheol lebih sabar dan lebih dewasa darinya hingga mereka berdua berhasil melewati masa-masa sulit itu. Disaat Jin Young sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua tak lama suara sapaan Jun Cheol terdengar oleh Jin Young hingga membuatnya terkekeh geli melihat kelakuan tak biasa dari teman terbaiknya itu, sementara Jun Cheol memang sengaja ingin menghibur Jin Young yang mungkin terluka karena ucapannya semalam. "Pagi Young-ah! Buset pagi-pagi udah rajin aja nih anak, buruanlah anda nyari istri biar ada yang nyiapin sarapan buat anda Jin Young!" sapa Jun Cheol semangat. "Ahahahahahahahahahahahaha!" tawa Jin Young senang. Jin Young yang mendengar ucapan Jun Cheol membuatnya menyahutinya dengan candaan tapi Jun Cheol justru tersedak saat dirinya sedang meminum air mineral lalu tak lama ia mendengar candaan Jin Young yang seakan-akan meledeknya dengan santai. "Menyiapkan anda sarapan adalah hal yang biasa saya lakukan Jun! Yang ada harusnya anda yang segera mengikat gadis yang selalu anda lindungi Jun! Ahahaha!" canda Jin Young senang. Melihat Jun Cheol yang tersedak karena terkejut membuat Jin Young merasa khawatir hingga ia menepuk-nepuk punggung Jun Cheol lembut agar pemuda itu merasa membaik, sedangkan Jun Cheol yang sudah merasa mendingan membuatnya berterima kasih dan mulai mengajak bicara Jin Young tentang apa yang akan mereka lakukan disana. "Astaga Jun! Pelan-pelan kalo minum! Apakah anda baik-baik saja?" ujar Jin Young khawatir. "Terima kasih Young-ah! Saya sudah pelan-pelan ... anda saja yang meledek saya, baiklah hari ini kita memeriksa rumah Barra dimulai dari ruangan yang sering dikunjungi lalu izin memeriksa ruang kerja mendiang ayahnya lalu setelah itu kita juga perlu memeriksa kamar mendiang ayah Barra dan ruangan yang menjadi favoritnya," tutur Jun Cheol menjelaskan. Mendengar penjelasan Jun Cheol membuat Jin Young menganggukkan kepalanya mengerti lalu tak lama Jin Young menyahuti ucapan Jun Cheol sambil menyantap nasi goreng yang ia masak, lalu tak lama mereka berdua larut dalam diskusi yang terdengar serius. "Sama-sama Jun! Lah anda duluan nyuruh saya nyari istri, dikira nyari istri itu segampang nyari buah di toko? Baik Jun! Perlukah kita memeriksa tempat yang jarang dikunjungi orang lain? Biasanya tempat yang jarang dikunjungi orang juga perlu kita periksa Jun," ujar Jin Young serius. "Buah ada di super market bukan di toko Young-ah! Boleh juga nanti kita liat setiap sudut yang terlihat memungkin untuk kita periksa, kalau ada ruang bawah tanah kita juga perlu memeriksa nya tapi jangan lupa untuk izin dengan Barra ya Jin Young!" ucap Jun Cheol serius. "Oh iya juga ya Jun! Baiklah saya mengerti Jun Cheol, mau berangkat sekarang? Coba hubungi Barra dulu Jun, siapa tau dia lupa dengan apa yang anda katakan?" ujar Jin Young serius. "Oke saya hubungi Barra dulu," sahut Jun Cheol lembut. Setelah mendengar ucapan Jun Cheol membuat Jin Young segera bergegas merapihkan alat makan Jun Cheol dan juga dirinya, sedangkan Jun Cheol pergi menelpon Barra sambil duduk di ruang TV dengan santai hingga sesekali ia memindahkan channel TV. "Halo, Barra! Anda baru bangun tidur?" ujar Jun Cheol serius. Tak lama Barra yang mendengar suara Jun Cheol membuatnya sejenak mengerutkan dahinya bingung karena untuk beberapa menit ia lupa dengan ucapan Jun Cheol, mendengar ucapan ini membuat Jun Cheol mengingatkan Barra tentang rencana yang sudah dibicarakan kemarin. "Iya Jun Cheol? Hah gimana? Memangnya ada apa Jun Cheol," ucap Barra bingung. "Anda lupa dengan ucapan saya kemarin kah Barra?" tanya Jun Cheol serius. "Ucapan kemarin? Lupa? Ah maaf Jun, saya masih mengumpulkan nyawa saya karena saya baru saja bangun tidur, jadi gimana-gimana? Ada apa Jun?" ucap Barra serius. "Iya kemarin saya bilang, saya dan Jin Young akan memeriksa rumah anda karena kami perlu mencari bukti agar kasus mendiang ayah bisa terpecahkan Barra! Sekarang anda sudah paham dengan apa yang saya ucapkan?" tutur Jun Cheol menjelaskan. Setelah mendengar penjelasan Jun Cheol membuat Barra akhirnya mulai teringat dengan apa yang dikatakan Jun Cheol kemarin dan Barra pun menyahutinya dengan senang hati hingga tak lupa dirinya mengirimkan lokasi rumahnya untuk Jun Cheol dan Jin Young tuju. "Oh iya saya ingat sekarang! Baiklah kalian bisa datang ke rumah ayah saya kapanpun, silahkan saja mau berangkat kapan Jun? Alamat rumahnya akan saya kirimkan lewat pesan saja ya biar kalian bisa menunjukkan pada supir taxi oh atau kalian mau dijemput supir saya? Saya dengan senang hati mengizinkan kalian memeriksa rumah mendiang ayah saya," ujar Barra lembut. Sejenak Jun Cheol menimbang-nimbang ucapan Barra tapi Jun Cheol lebih memilih untuk pergi dengan naik taxi daripada dirinya dan Jin Young di jemput supir Barra tapi mereka berdua belum bisa melihat tangan kanan musuh yang mungkin sengaja diletakkan disekitar Barra yang bisa saja malah membahayakan mereka bertiga. "Syukurlah jika anda sudah ingat Barra, kalau beberapa menit lagi kami berangkat bagaimana? Oke kirimkan saja alamatnya Barra! Sepertinya saya lebih memilih agar kami berdua pergi naik taxi saja Barra karena saat ini sudah mulai terlihat ada orang lain yang mungkin saja suruhan pria tua itu jadi daripada menambah masalah lebih baik kami naik taxi untuk menghindari hal itu yang mungkin saja terjadi," tutur Jun Cheol serius. Barra yang mendengar penjelasan Jun Cheol membuatnya mengerti dan Barra setuju dengan apa yang dipikirkan Jun Cheol karena saat ini semuanya masih terlihat abu-abu untuk mereka bertiga, lalu tak lama panggilan telepon dimatikan karena Jun Cheol harus bersiap-siap. "Silahkan saja Jun Cheol! Baiklah kalau begitu kalian hati-hati dijalan! Sebenarnya saya setuju dengan apa yang anda pikirkan Jun Cheol! Akan lebih baik jika seperti ini," sahut Barra lembut. "Oke kami berdua perlu bersiap-siap, nanti kalau kami sampai, akan kami kabari secepatnya! Baiklah saya tutup teleponnya Barra ... permisi," ujar Jun Cheol lembut. Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Barra menyahutinya dengan gumaman lalu tak lama panggilan telepon pun dimatikan oleh Jun Cheol karena dirinya perlu untuk segera bersiap-siap sebelum Jin Young kembali meneriaki dirinya. Setelah bersiap-siap akhirnya Jun Cheol dan Jin Young keluar dari apartemen mereka untuk segera pergi ke rumah Barra karena hari semakin siang dan selama di perjalanan mereka berdua memilih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga tanpa sadar mereka berdua sudah sampai di alamat yang dituju, sesampainya di depan gerbang yang menjulang tinggi membuat Jun Cheol dan Jin Young terdiam selama beberapa detik lalu tak lama Jun Cheol memberi kabar pada Barra bahwa dirinya dan Jin Young sudah ada di depan rumahnya. "Saya dan Jin Young sudah ada di depan gerbang rumah anda Barra," pesan Jun Cheol serius. Tak lama Jun Cheol dan Jin Young melihat Azka berlari menghampiri mereka berdua yang sibuk memeriksa sekeliling rumah ke mendiang ayah Barra, suara sapaan Azka mengalihkan fokus Jin Young dan Jun Cheol yang tak sengaja merasa aneh dengan rumah yang berada tak jauh dari rumah Barra saat ini. "Jun Cheol! Jin Young! Silahkan masuk biar saya antar ruangan Barra menunggu kalian, loh apa yang sedang kalian berdua lihat? Ada apa?" ujar Azka lembut. "Memang Barra ada dimana? Bukan apa-apa," sahut Jun Cheol datar. "Wah terima kasih ya Azka! Kami hanya melihat-lihat saja karena sepertinya rumah yang ada di sana berwarna tak biasa dan menarik perhatian kami saja," ucap Jin Young lembut. Untuk beberapa menit Azka mengerutkan dahinya bingung lalu tak lama Azka ikut melihat ke rumah yang diperhatikan Jun Cheol dan Jin Young, rumah itu hampir terlihat sewajarnya rumah lainnya hanya saja mungkin memang warnanya yang terlihat menarik perhatian. "Oh rumah yang itu, kalau tidak salah itu rumah teman dekat mendiang pak bagasura atau ayah dari pak Barra! Rumah itu memang terlihat menarik perhatian tidak heran jika kalian menatap rumah itu seperti itu, oh iya mari ikuti saya! Pak Barra sudah menunggu," ujar Azka serius. Jun Cheol dan Jin Young yang mendengar penjelasan dari Azka membuat mereka berdua diam selama beberapa menit karena entah mengapa rasanya ada yang aneh dari rumah itu tapi tak lama Jin Young dan Jun Cheol mengikuti Azka yang menunjukkan tempat Barra menunggu. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN