Kabar Penting

2001 Kata
Bermenit-menit sudah berlalu tapi dua orang itu masih saja berbicara, entah apa yang mereka bicarakan sejak tadi tapi sejujurnya Jun Cheol merasa khawatir dan memikirkan bagaimana keadaan Ajeng disana. Karena pasti Jun Cheol telah cukup lama di sini dan hasil yang diinginkan Jun Cheol belum juga terlihat, malah kini Jun Cheol merasa kesal dan ingin memaki-maki mereka tapi Jun Cheol berusaha keras menahan segala amarah yang menekan hatinya dengan begitu kuat. Hingga akhirnya kedua orang itu menyelesaikan pembicaraan mereka dan tak lama Jun Cheol langsung mempertanyakan perihal wallpaper aneh itu karena perasaan Jun Cheol semakin merasa tak tenang dan begitu takut entah takut karena apa Jun Cheol tidak mengerti. "Saya tidak memiliki banyak waktu di sini jadi anda harus menjawab pertanyaan saya dengan cepat! Apa anda mengerti? Kalau begitu saya akan bertanya perihal berapa banyak wallpaper itu terjual selama ini," tanya Jun Cheol serius. Mendengar pertanyaan Jun Cheol membuat salah satu pegawai itu berpikir sejenak sambil ia menghitungnya dengan serius, lalu saat ia menjawab pertanyaan Jun Cheol tak lama Jun Cheol kembali bertanya lagi perihal wallpaper aneh itu yang masih terasa janggal dimata Jun Cheol. "Karena wallpaper itu unik jadi penjualannya cukup banyak yang terjual dan kalau saya tidak salah hitung selama ini sudah terjual lebih dari 150 orang mas," ujar salah satu pegawai itu. "Lumayan banyak ya ... lalu apakah wallpaper ini biasa dibeli untuk cafe? Apakah salah satu cafe yang tidak jauh dari sini juga membelinya?" tanya Jun Cheol semakin serius. "Cafe ya? Lumayan banyak juga yang membeli untuk cafenya, tidak jauh dari sini ya mas? Seingat saya ada satu kalau tidak salah pemiliknya adalah pria paruh baya ya mas? memangnya ada apa ya mas?" tanya salah satu pegawai itu kebingungan. "Begitu ya oh iya apa pria paruh baya itu mengatakan atau menceritakan sesuatu ke mas gak? Soalnya sepertinya dia orang yang ramah ya mas," tutur Jun Cheol lembut. "Dia cuma bilang perlu wallpaper itu karena wallpaper lamanya udah usang banget dan sebentar lagi bakal ada seorang gadis yang menyewa bangunan miliknya untuk beberapa waktu! Kalau tidak salah bangunannya akan di sewa untuk di jadikan cafe gitu mas dan saya hanya tau sampai situ saja mas," ucap salah satu pegawai itu sopan. Jun Cheol yang memahami ucapan salah satu pegawai itu membuat Jun Cheol mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, lalu tak butuh waktu lama Jun Cheol segera membeli wallpaper yang sama persis dan ia berjalan kembali ke cafe Ajeng dengan perasaan yang campur aduk dan semakin membuat pikiran Jun Cheol tak bisa merasa tenang walaupun sejenak. Namun saat diperjalanan menuju cafe Ajeng tiba-tiba Jun Cheol menerima pesan dari Ajeng yang semakin membuat Jun Cheol merasa dunianya menjadi gelap untuk beberapa menit, lutut Jun Cheol terasa lemas dan nyawanya seakan lenyap dari raganya saat ini. "Sekop!! Tolong gue! Tiba-tiba disini ada banyak orang yang masuk ke cafe gue terus mereka ngeberantakin cafe gue sekop! Jin Young nyuruh gue ke kamar gue di lantai atas sekop! Lu dimana? Cepet kesini sekop! Gue takut," isi pesan Ajeng ketakutan. Tanpa berpikir panjang Jun Cheol semakin mempercepat langkahnya karena dirinya memang sebentar lagi akan sampai di cafe Ajeng, meski seluruh tubuhnya terasa lemas dan hati Jun Cheol berulang kali memanjatkan doa kepada pemilik semesta tapi sudut hatinya menjerit takut jika hal yang sangat ia hindari malah kembali terjadi saat ini. Jun Cheol benci mendapat kabar penting yang membuat jantungnya seakan-akan jatuh dari tempatnya, jika hal ini candaan Jun Cheol akan memarahi Ajeng dan Jin Young yang keterlaluan tapi jika hal ini kenyataan maka Jun Cheol tak akan memaafkan dirinya sendiri. Ia benci jika harus menggores luka di tempat yang sama, terlebih lukanya yang terdahulu belum juga mengering ataupun menutup dan masih terasa menyakitkan meski kejadiannya telah lama sekali tapi sampai detik ini sesak itu masih tak ingin Jun Cheol rasakan. Lalu bagaimana bisa perasaan yang sama kembali menekan dirinya dengan begitu kuat bahkan terlalu kuat hingga Jun Cheol merasa saat ini dunia kembali tak adil padanya, setelah bermenit-menit dilalui Jun Cheol akhirnya Jun Cheol sampai di cafe Ajeng. Benar saja! Sekumpulan orang yang berbadan besar sedang memberantaki cafe Ajeng dan beberapa orang lagi berusaha membuka pintu kamar Ajeng, melihat hal ini membuat Jun Cheol kehilangan kendali dirinya lalu tanpa basa-basi Jun Cheol berlari menarik orang berbadan besar itu hingga membuat mereka yang ingin membuka kamar Ajeng malah terpelanting kebelakang. Beberapa orang berusaha menyerang Jun Cheol tapi saat ini Jun Cheol sangat fokus hingga ia tak segan-segan memukul bahkan menendang siapapun yang mencoba mendekati kamar Ajeng, sedangkan Jin Young yang melihat Jun Cheol sudah sampai di cafe dan ia berusaha keras untuk melindungi Ajeng membuat Jin Young menghela nafasnya lega. Meski sejujurnya Jin Young tau Jun Cheol akan kembali tertelan perih bila ia melindungi Ajeng seperti ini tapi melihat sorot mata Jun Cheol yang terlihat begitu hancur dan tak lagi terkendali membuat Jin Young hanya bisa mengikuti jalan yang sudah pasti akan menyayat Jun Cheol lagi. Jin Young berpikir mau sekeras apapun Jin Young melarang Jun Cheol untuk pergi dari sini sekarang pasti rekan sekaligus teman terdekatnya tak akan mau mendengarkannya, terlebih hal ini sekali lagi menyentuh hal yang selalu Jun Cheol hindari. Walaupun hal ini tidak bisa mereka hindari tapi Jin Young berharap banyak agar kabar penting yang dulu menghancurkan Jun Cheol tak lagi menghancurkan Jun Cheol untuk kedua kalinya, karena Jin Young sudah melihat seberapa hancurnya pemuda tangguh itu selama ini. Nyawa Jun Cheol memang tetap di raganya tapi perlahan-lahan ada hal yang diseret keluar dari dalam hatinya dengan begitu kejam dan Jun Cheol tak pernah menyangka sebelumnya bahwa hal yang dirinya pikir tak akan pernah terjadi justru terjadi jelas dimatanya. Jin Young mendapatkan beberapa lebam karena dirinya sibuk mengamankan Ajeng di tempat yang ia pikir cukup aman, sedangkan Jun Cheol tak terluka sedikitpun meski telah banyak orang yang ia hadapi tapi keahliannya dalam taekwondo memang tidak bisa diremehkan. Jun Cheol yang merasa tak akan ada habisnya jika terus seperti ini, akhirnya ia mencoba memukul mundur mereka dengan menekan leher salah satu orang yang ada di tangan Jun Cheol saat ini hingga akhirnya mereka perlahan-lahan pergi dari cafe Ajeng saat melihat tatapan mata Jun Cheol yang tajam dan tak main-main dengan ucapannya barusan. "Saya tidak keberatan jika harus mematahkan atau menggoreskan luka pada tangan dan kaki kalian jadi sebelum saya melakukannya lebih baik kalian pergi dari sini sekarang juga! Sebelum kesabaran saya benar-benar habis," geram Jun Cheol marah. Setelah kepergian segerombolan orang yang entah datang darimana akhirnya Jin Young bisa duduk dengan tenang untuk istirahat sejenak, sementara Jun Cheol yang khawatir dengan Ajeng membuat Jun Cheol mengetuk-ngetuk pintu kamar Ajeng lembut untuk memberi taunya bahwa keadaan cafe sekarang sudah aman dan membaik. "Ajeng! Anda bisa keluar sekarang ini saya," ujar Jun Cheol lembut. Ajeng yang mendengar suara Jun Cheol membuat Ajeng bergegas membuka pintu kamarnya dan tak lama ia memeluk Jun Cheol erat karena Ajeng masih shock setelah melihat kejadian yang terjadi dengan begitu cepat. Melihat Ajeng yang ketakutan dan shock seperti ini membuat Jun Cheol menepuk-nepuk lembut punggung Ajeng agar ia merasa lebih tenang tapi entah mengapa sudut hati Jun Cheol merasa marah dan ia tak terima bila Ajeng sengaja diperlakukan seperti ini. Lalu tiba-tiba Jun Cheol teringat ucapan pria paruh baya yang sempat menantangnya tadi dan melihat hal ini membuat Jun Cheol mengepalkan tangannya kesal, tak lama Ajeng akhirnya merasa lebih tenang dan Jun Cheol pun mengusap-usap kepala Ajeng lembut. "Anda tidak perlu takut Ajeng, ada saya disini dan saya tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada anda jadi tenang ya? Everything will be ok," tutur Jun Cheol menenangkan. Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Ajeng tersenyum lembut lalu tak lama suara deheman Jin Young menginstruksi Jun Cheol dan Ajeng yang sedang saling tatap-menatap sambil tersenyum dengan bahagia saat melihat keduanya baik-baik saja. Sedangkan Jin Young yang melihat pemandangan tak biasa seperti ini tanpa sadar membuat Jin Young terkekeh geli hingga mengalihkan pandangan Jun Cheol dan Ajeng jadi menatap dirinya, lalu Jin Young yang sadar ditatap oleh Jun Cheol dan Ajeng memilih untuk mengajak ngobrol mereka bertiga agar suasana menjadi santai dengan diselingi candaan ringan. "Jun! Mana wallpapernya? Udah ketemu belum?" ucap Jin Young lembut. "Udah mau bongkar sekarang atau gimana?" tanya Jun Cheol serius. "Orang-orang tadi gak bakal kesini lagi kan sekop?" tanya Ajeng bingung. "Tenang aja Ajeng! Ada sekop eh maksudnya ada Jun Cheol disini kok! Mau bongkar sekarang ayok! Besok juga gak masalah Jun," canda Jin Young senang. "Yaudah sekarang aja ... lebih cepat lebih bagus bukan?" tutur Jun Cheol dingin. "Emang mereka gak bakal kesini kalo ada sekop, Jin Young?" ucap Ajeng meyakinkan dirinya. Disaat Jin Young ingin menjawab pertanyaan Jun Cheol dan Ajeng, sayangnya ucapan Jin Young terhenti karena tiba-tiba ponsel Jun Cheol berdering. Dengan perasaan enggan akhirnya Jun Cheol mengangkat panggilan telepon itu dengan dingin, lalu tak lama Jun Cheol dan orang yang menelponnya malah terdengar berdebat hebat. "Tentu dong Ajeng! Oh iya juga sih Jun tapi ...," tutur Jin Young terhenti. "Halo siapa ini," ucap Jun Cheol dingin. "Bagaimana dengan hal hebat yang anda tantang pada saya? Sudah cukup untuk memukul mundur anda agar berhenti bukan? Atau anda ingin melihat hal yang menyakitkan lainnya lagi? Semua keputusan ada ditangan anda sekarang," ucap pria paruh baya itu senang. "Jadi mereka orang yang anda suruh? Licik sekali ... memukul mundur apanya? Buktinya saya masih bisa melindungi hal yang ingin anda hancurkan tuh pak tua! Semakin anda mengusik saya maka semakin dekat jalan anda menuju penjara pak tua," geram Jun Cheol dingin. "Rupanya anda benar-benar ingin mati muda ya pak detektif? Baiklah kalau begitu anda harus menunggu hadiah lainnya dari saya pak detektif," sahut pria paruh baya itu datar. "Bukan tugas anda yang mengatur kapan saya mati pak tua ... silahkan anda lakukan apapun semau anda maka dengan begitu saya akan semakin mudah menemukan pengecut seperti anda yang berlindung dibalik bayang-bayang semu," sindir Jun Cheol dingin. "Anda terlalu percaya diri pak detektif? Anda pikir saya sendirian? Ahahaha anda konyol juga ya ternyata! Terlalu konyol hingga membuat saya yakin bahwa anda bukan apa-apa buat saya! Mau lihat seberapa kuat kami pak detektif?" balas pria paruh baya itu senang. "Anda bisa lihat siapa yang akan tertawa diakhir pak tua! Untuk apa saya melihat pengecut yang memuakkan seperti kalian? Sangat tidak berguna sama sekali," ujar Jun Cheol datar. "Kita lihat siapa yang tidak berguna di akhir pak detektif," sindir pria paruh baya itu kesal. "Tentu saja! Kita lihat siapa yang akan membusuk di penjara," balas Jun Cheol dingin. Panggilan telepon pun di matikan oleh pria paruh baya itu tapi Jun Cheol menyeringai setelah telepon tersebut terputus, sedangkan Jin Young dan Ajeng yang melihat wajah Jun Cheol yang terlihat tak biasa membuat mereka berdua penasaran dan bertanya pada Jun Cheol. "Orang itu lagi Jun? Muka anda kenapa menyeringai seperti itu?" tanya Jin Young khawatir. "Lu kenapa sekop? Lah muka lu aneh gitu?" tanya Ajeng bingung. Jun Cheol yang mendengar ucapan Ajeng dan Jin Young membuat dirinya menjelaskan apa yang ada dikepalanya saat ini, sementara Jin Young dan Ajeng mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Jun Cheol dengan serius dan seksama. "Iya Jin Young, saya habis merekam ucapan pak tua itu melalui panggilan telepon tadi jadi saya merasa cukup senang karena berhasil menjerat pak tua itu dengan lidahnya sendiri! Saya baik-baik saja Ajeng, aneh bagaimana?" tutur Jun Cheol menjelaskan. Sementara Ajeng dan Jin Young yang mendengar penjelasan Jun Cheol membuat mereka berdua terkejut tapi raut wajah mereka senang, karena artinya perlahan satu persatu bukti mulai naik kepermukaan dan akan membongkar keburukan yang mencoba disembunyikan menjadi rahasia kotor yang memuakkan dimata Jun Cheol. Melihat Ajeng dan Jin Young yang terkejut membuat Jun Cheol menenangkan mereka berdua karena ada hal yang perlu melakukan saat ini daripada mengurusi hal yang tidak jelas dari pria paruh baya yang memuakkan itu. "Ada hal lain yang perlu kita lakuin daripada kaget kayak gini toh dia sendiri yang gak bisa menjaga rahasia yang dia mulai sendiri jadi bukan salah saya yang merekam kekonyolan pak tua itu dalam berbicara! Karena sepertinya dia mulai bosan dengan hidupnya hingga ia membuat kuburannya sendiri karena ulah yang tak di sadarinya," tutur Jun Cheol menenangkan. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN