Kedua pria tampan itu saling duduk berdua dan saling menatap satu sama lain. Evanz menatap dengan pandangan penuh hangat, sementara Derri menatapnya penuh sengit.
Padahal sebenarnya perasaan Evanz sungguh rapuh dan hancur begitu mengetahui fakta jika sepupunya ini menjalin hubungan dengan wanita yang di sukainya. Dan itu sungguh menyakitinya.
Evanz seharusnya tidak begitu sebab ia memiliki Elinna yang notabennya adalah kakak dari Eliza, si wanita yang dia sukai. Evanz juga tak seharusnya bersikap egois begini, ingin memiliki keduanya.
"Gue cukup terkejut."
Suara Derri menyentak kaget sekaligus menyadarkan Evanz dari lamunannya. Menebarkan senyum pada sepupunya ini yang masih memasang wajah bengisnya.
"Bahwa ternyata lo menjalin hubungan dengan Kakak Eliza."
"Gue pun," sahut Evanz. "Gue pun juga sama terkejutnya sepertimu. Tidak menyangka bahwa sepupuku yang tampan ini ternyata menjalin hubungan dengan calon adik iparku."
"Well, yang penting sekarang kita udah sama-sama tahu. Dan yang pasti kita sama-sama bahagia dong dengar kabar baik ini." ucap Derri yang seolah sudah menganggap dirinya dan Eliza berpacaran.
"Uhm, iya tentunya." Evanz mengangguk setuju.
"Tapi, ekspresi lo kok justru sebaliknya."
"Maksudnya?"
"Ya, raut wajah lo terlihat seperti tidak bahagia."
"Masa sih?" pancing Evanz mencoba tersenyum meskipun kali ini terkesan kaku.
"Ya begitulah," Derri mengendikkan kedua bahunya.
"Hmm, tapi—" ucapan Evanz terhenti ketika Elinna datang dengan membawa nampan berisi dua tiga gelas minuman dan beberapa bungkus camilan.
"Silakan dinikmati," ucap Elinna setelah ia meletakkan nampan itu di meja.
"Seharusnya tidak perlu repot-repot begini, Kakak." kata Derri tersenyum menatap Elinna yang ternyata lebih cantik dari Eliza.
Jiwa lelakinya nyaris tergoda akan kecantikan yang dimiliki Elinna. Selain cantik, kesan lainnya lagi yang Elinna miliki adalah seksi.
Ya, kata seksi memang cocok disematkan untuk wanita seperti Elinna.
"Tidak apa-apa, ini tidaklah merepotkan kok." kata Elinna berbasa-basi. Padahal sebenarnya ia juga malas sampai harus repot-repot dan turun tangan begini.
Biasanya yang melakukan ini kan kakaknya Elyaz, dan Eliza. Tapi sayangnya gadis itu sepertinya tengah merajuk dan lebih memilih mengurung diri di dalam kamar.
"Aku minum ya, Kak." Derri mengambil segelas teh hangat tersebut.
"Di tiup dulu, soalnya masih panas." Derri mengangguk.
"Enak," puji Derri mengacungkan satu jempolnya pada Elinna yang tersenyum senang dan bangga.
"Sayang, kamu gak minum?" tanya Elinna menoleh pada sang kekasih yang hanya diam saja sembari memperhatikan interaksi antara Elinna dan Derri.
"Iya nanti aku minum," ucap Evanz lirih. Kentara sekali jika ia tidak bersemangat.
Evanz mencemaskan Eliza, gadis itu tak kunjung juga keluar dari kamarnya. Selain itu, Evanz juga masih bertanya-tanya tentang apa yang membuat Eliza terlihat kesal dan marah.
Apa mungkin karena Derri?
Ya, meskipun Derri mengatakan jika ia dan Eliza menjalin sebuah hubungan asmara. Nyatanya Evanz masih meragu sebelum mendengar pengakuan langsung dari mulut Eliza sendiri.
Dan orang yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan dirinya. Ketiganya kompak menoleh ke arah Eliza yang sudah berganti baju dan bersiap pergi untuk siaran malam.
Derri bangkit berdiri dan mendekati pada Eliza yang justru menghindarinya. "Kamu udah mau pergi?" tanya Derri sedikit kecewa akan reaksi Eliza.
"Iya," sahut Eliza singkat. "Kakak, aku pergi siaran dulu ya." pamitnya pada Elinna yang mengangguk dan tersenyum.
Eliza melirik sekilas pada Evanz yang tersenyum menatapnya, namun tak Eliza hiraukan sama sekali.
"Biar aku antar!" ajak Derri ketika Eliza sudah menyentuh handle pintu utama rumahnya.
Eliza memejamkan matanya berusaha bersabar. Kenapa Derri selalu dan terus mengganggunya?
Tak mengerti kah pria itu jika ia sungguh merasa terganggu dengan kehadirannya.
"Bolehkan aku mengantarmu?" tanya Derri sehati-hati mungkin dan penuh harap.
Eliza ragu antara ingin menerima ajakan Derri atau tidak. Sejujurnya ia memang tak ingin menerima ajakan pria itu yang sebenarnya sudah berbaik hati menawarkan diri untuk mengantarkannya. Tapi, kalaupun Eliza menerima tawarannya maka bisa saja Derri besar kepala dan berbangga diri. Parahnya Eliza takut kalau Derri mengira bahwa Eliza sudah luluh dan mau menerima cintanya. Haduh! Yang terakhir itu yang gawat. batin Eliza meringis.
"Dek?" panggil Elinna seraya menyentuh lembut tangan sang adik. "Gimana? Derri udah nungguin tadi tuh jawaban dari kamu."
"Uhm...." sahut Eliza tampak berpikir, menimbang-nimbang jawaban yang tepat sebelum pada akhirnya ia mengangguk setuju.
Melihat itu, kekecewaan dan amarah pun langsung menyelimuti diri Evanz. Harapannya pupus sudah begitu melihat anggukan kepala Eliza. Sial! Padahal dirinya sudah sangat berharap semoga Eliza menolak ajakan sepupunya.
Shiittt! umpat batin Evanz yang terlampau kesal.
Derri tersenyum senang dan bangga, ia bahkan dengan sengaja memamerkan senyumannya pada Evanz yang terlihat sedih dan murung.
"Ayo Eliza," ajak Derri yang dengan sangat berani dan lancangnya menyentuh tangan Eliza yang kaget dan hendak melepaskannya. Seakan tahu apa yang ingin Eliza lakukan, Derri pun dengan cepat langsung mengeratkan genggaman tangannya.
Jujur, Eliza sangat risih jalan bersama Derri sembari bergandengan tangan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumahnya.
Dengan penuh kelembutan dan perhatiannya Derri membukakan pintu mobil dan mempersilakan Eliza untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Terima kasih," ucap Eliza.
"Your welcome, baby."
Detik itu juga Eliza merasa mual ingin muntah. Panggilan baby dari Derri benar-benar menghancurkan moodnya. Astaga!
***
"Kenapa Derri lama sekali?" tanya Evanz tanpa sadar berdecak kesal.
Elinna menggeleng samar, tak percaya pada kekasihnya ini yang entah sudah berapa kali bertanya demikian.
"Ya biarin aja kali, kan mereka saling suka dan sayang."
Mendengar itu, Evanz melirik tajam Elinna. "Apa maksud dari ucapan kamu itu?"
"Haduh, sayang! Kamu kenapa sih kok jadi bawel begini?" cibir Elinna kesal. "Kenapa? Kamu cemburu?" tuding Elinna santai.
"Loh, kok kamu malah ngomong kayak gitu?"
"Ya habisnya dari tadi kamu nanyain Derri mulu, kenapa lama? Aneh aja sih."
"Aku nanya gitu karena aku khawatir sama sepupu aku. Takutnya terjadi sesuatu pula, ini udah hampir satu jam lebih." Evanz menunjukkan arloji yang dikenakannya pada Elinna.
"Yakin cuma khawatir sama Derri aja?" pancing Elinna.
"Ya, sama adik kamu juga."
Elinna menghela nafas kesal lalu meraih ponselnya, menghubungi nomor seseorang sembari menghidupkan loud speaker.
Panggilan pertama dan kedua tidak diangkat, dan pada panggilan telepon ketiga barulah Eliza angkat dan tanpa Elinna tanya Eliza sudah mengatakan lebih dulu bahwa ia tengah sibuk siaran. Dan tak lupa Eliza mengatakan bahwa Derri menunggunya sampai selesai siaran, lalu setelahnya Eliza mematikan sambungan telepon sepihak.
"Udah dengar sendiri kan?" ucap Elinna sedikit ketus, "adik aku aman dan dia saat ini sedang siaran."
Setelah mengatakan itu Elinna bangkit berdiri dan beranjak meninggalkan Evanz sendirian. Ia begitu kesal pada kekasihnya yang sukses membuatnya terbakar oleh cemburu.
Elinna tidak bodoh, ia tahu jelas bahwa Evanz bukannya mengkhawatirkan Derri. Melainkan menghawatirkan Eliza, adiknya.
***
sorry untuk keterlambatan up nya ya.
selamat hari raya idul Fitri, minal aidzin walfaizin ?