"Selamat siang, nona. Saya Sania, assisten rumah tangga yang disewa oleh Tuan Paul," ucap seorang wanita berambut segi pendek yang nyaris menyerupai rambut seorang laki-laki yang berdiri di depannya. "O... silahkan, masuk," jawab Yasmin. Tak ada senyuman karena dia masih marah pada kejadian tadi malam. "Kamar kamu yang pintu kedua ya?" Sania mengangguk. "Baik, nona." Wanita itu pun langsung menarik kopernya masuk ke kamar kedua. Sementara Yasmin mengambil duduk di depan televisi. Pandangannya memang menghadap benda persegi pipih itu, tapi pikirannya kemana-mana. Dia berharap tontonan di televisi bisa membuatnya melupakan kejadian tadi malam, namun nyatanya tidak demikian. Semua detik demi detik kejadian tidak ada yang luput dari ingatannya. Terekam begitu jelas dalam benaknya. Setelah

