Aku bahagia saat melihat senyummu tapi aku tersiksa saat melihat senyuman itu bukan untukku.
Abi tampak resah dengan tidurnya. Ia teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu. Ia meraba dadanya yang selalu bergetar kala mengingat sosok Lidya. Lalu pandangan matanya beralih menatap ketempat tidur. Disana ada Salwa sedang terlelap dalam tidurnya.
Sungguh ia sangat berdosa jika mengkhianati Salwa. Wanita itu begitu mencintainya begitu juga dengan dirinya. Tapi saat menatap Lidya, Abi merasakan gejolak lain dalam dirinya. Sebelumnya ia tak pernah merasakan ini saat bersama Salwa.
Sejak Lidya hadir dalam hidupnya, Abi sadar jika waktunya bersama Salwa sedikit berkurang. Abi pergi ke kantor pagi dan akan pulang menjelang malam. Saat itu Salwa sudah kelelahan dan membutuhkan istirahat. Saat itulah ia selalu menghabiskan waktunya bersama Lidya.
Abi mengusap layar ponselnya dan mencari kontak Lidya. Ia mengirimkan sebuah pesan pada wanita itu.
Abi : kamu sibuk?
Abi menatap lama layar ponselnya yang mati dan beberapa menit kemudian ada pesan masuk dari Lidya.
Lidya : nggak kok, Bi. Ada apa?
Abi : bisa ketemu?
Lidya : sekarang?
Abi : aku tunggu di tempat biasanya.
Lidya memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menatap wajah Davin yang terlelap. Tangannya perlahan terulur mengusap lembut pipi Davin.
"Kamu masih lama ya tidurnya?" lirih Lidya. Ia membuang nafas panjang sebelum buliran bening itu mengalir dari kedua matanya. "Kamu inget nggak sih sekarang tanggal berapa?"
Lidya terkekeh pelan, tangannya bergerak dengan kasar menyeka airmatanya. "Kamu nggak pengen gitu ngucapin met ultah sama aku?"
Hening. Davin masih saja diam. Hal itu membuat hati Lidya terasa teriris. Ia kembali menyeka pipinya yang basah karena airmata. Hanya terdengar bunyi mesin EKG yang menghiasi malam-malamnya.
"Happy birthday!"
Lidya membelalakan matanya lalu menoleh kebelakang. Lilian muncul dari balik pintu sambil membawa kue blackforest kesukaan Lidya.
"Mami?" seru Lidya beranjak dari tempatnya dan berlari menghampiri Lilian. "Mami!!"
"Met ulang tahun ya, Sayang. Semoga panjang umur dan sehat selalu!"
"Amien! Makasih, Mi!" sahut Lidya sambil memeluk erat Lilian. "Mami baru pulang dari kantor?" tanya Lidya setelah melepas pelukannya.
Lilian mengangguk pelan. "Make a wish donk habis gitu tiup lilinnya!"
Lidya mengangguk senang. Ia memejamkan matanya, kedua telapak tangannya menangkup didepan d**a. Satu pinta Lidya, ia hanya ingin Davin sembuh dan normal seperti dulu lagi.
Setelah membuka matanya, Lidya meniup lilih berwarna merah itu.
"Selamat ya, Sayang. Maaf Mami nggak bisa bikin acara buat kamu!" Lilian meletakkan kue coklat itu diatas nakas.
"Makasih, Mi. Bagiku ini sudah lebih dari cukup!"
Lilian mengusap lembut pucuk kepala Lidya. Bahagia sekali ia mendapatkan menantu seperti Lidya. Disaat kondisi Davin seperti ini, Lidya tetap setia menemani anaknya. Bahkan Lidya tidak mau sedetikpun meninggalkan rumah sakit ini. Lidya ingin terus bersama Davin.
"Mm, Sayang. Mami nggak bisa lama-lama ya disini,"
Lidya tersenyum lantas mengangguk. "Iya, Mi. Lidya ngerti kok. Mami pasti capek banget ngurusin perusahaan. Mami sekarang pulang aja ya. Istirahat yang cukup dan jangan mikirin Dave. Dave aman sama aku!"
Tangan keriput Lilian terulur dan kembali mengusap pucuk kepala Lidya. "Mami dan Dave merasa beruntung sekali memiliki kamu sayang! Besok pagi Mami akan mampir!"
"Mami hati-hati ya dijalan. Lidya nggak bisa nganter!"
"Iya, Sayang. Kamu disini jangan kebanyakan begadang ya. Lihat tuh kantung mata kamu. Makannya juga jangan sampe telat!" pesan Lilian. Lidya hanya mengangguk lalu memeluk Lilian. "Mami titip Dave sama kamu!"
"Lidya akan jaga amanat Mami!"
Lilian mengurai pelukannya dan melangkah keluar dari kamar Davin.
Sepeninggal Lilian, Lidya kembali duduk dikursi sebelah tempat tidur Davin. Ia benar-benar lupa akan janjinya pada Abi.
Setengah jam menunggu tak ada hasil membuat Abi melakukan tindakan. Ia melangkah cepat menuju ruang rawat Davin. Kenapa Lidya tidak datang?
Pintu kamar Davin sedikit terbuka membuat Abi bisa mendengar apa yang terjadi didalam sana. Mata Abi menatap pergerakan Lidya yang saat ini sedang memangku kue coklat. Diatas kue itu berdiri dua buah lilin berbentuk angka.
"Happy birthday to me, happy birthday to me, happy birthday happy birthday happy birthday to me!" Lidya tersenyum lalu jemarinya mengambil potongan kue itu lalu melahapnya.
Dada Abi sangat terasa sesak saat melihat cairan bening itu keluar dari kedua mata Lidya. Hari ini harusnya hari bahagia untuk Lidya. Mungkin hal inilah yang membuat Lidya melupakan janjinya dengan Abi.
Avi mengurungkan niatnya untuk menghampiri Lidya. Ia benar-benar tak bisa melihat wanita itu begitu rapuh. Langkah kaki Abi kembali masuk kedalam kamar Salwa. Disana wanita itu masih tampak terlelap.
Avi berpikir keras, kira-kira apa yang akan ia lakukan agar wanita bermata hazel itu tersenyum?
"Permisi. Dengan Mbak Lidya!"
Lidya mengernyit menatap seorang laki-laki dengan pakaian berwarna hijau itu. "Iya saya sendiri. Ada apa ya, Mas?"
"Apa bisa berangkat sekarang, Mbak?"
"Hah? Berangkat? Berangkat kemana, Mas?" tanya Lidya balik. Ia benar-benar bingung. Seingatnya ia tak memesan ojek online tapi tiba-tiba ada yang menjemputnya. "Bentar, Mas!"
Lidya merogoh saku celananya dan membaca pesan dari Abi.
Abi : kamu ikut Mas ojol itu ya. Aku tunggu!
Lidya sekarang mengerti kenapa tiba-tiba ada ojol menjemputnya. Ini semua karena Abi.
"Bentar ya, Mas!" Lidya kembali kedalam dan menghampiri Davin. Seperti biasanya, ia selalu berpamitan pada Davin kemanapun ia pergi. "Ayo, Mas!"
Lidya tersenyum lebar saat mendapati Abi berdiri diatas sana. Ia perlahan menaiki anak tangga satu persatu.
"Lama ya nunggunya?"
Abi menoleh lalu tersenyum. "Selama apapun aku bakalan tetep nungguin kamu!" Abi mengulurkan tangannya, membantu Lidya naik dan disambut oleh Lidya.
"Thanks!"
Mereka duduk berdampingan sambil bersila. Menatap kelap-kelip lampu yang berada di kejauhan.
"Happy birthday ya!" ucap Abi tiba-tiba. Lidya menoleh dengan tatapan bingungnya. Bagaimana Abi bisa tau soal hal ini?
"Kok tau, sih?"
Abi terkekeh pelan sambil mengacak rambut Lidya dengan gemas. "Taulah. Aku tadi setengah jam nungguin kamu ditaman belakang!"
"Maaf, Bi. Tadi mertuaku dateng. Aku bener-bener lupa!"
"Iya, sih. Kan mereka lebih penting daripada aku!"
"Kok gitu ngomongnya?"
Abi kembali terkekeh. Ia tak tau kenapa bisa mengatakan hal itu. "Canda doang!" elaknya. "Mau kado apa?"
"Hah? Kado?" tanya Lidya balik. Abi mengangguk tapi belum sempat Lidya mengutarakan keinginannya, Abi merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci lengkap dengan gemboknya. "Apa ini, Bi?" tanya Lidya saat Abi meletakkan benda itu diatas telapak tangannya.
"Kunci sama gembok!" jawab Abi santai.
"Aku tau. Tapi kenapa kamu kasih aku benda ini? Artinya apa?" Lidya benar-benar menunggu jawaban Abi. Apa ini artinya Abi berharap ia mau membuka pintu hatinya?
"Artinya banyak sih tergantung dari pemiliknya aja memaknainya kayak gimana!" jawaban Abi yang berbelit-belit membuat Lidya bingung. "Nggak usah dipikrin. Anggep aja gembok ini kamu dan aku kuncinya!"
Lidya mengamati benda berwarna merah muda itu. Ia masih belum mengerti akan penjelasan Abi. "Aku nggak ngerti, Bi!"
"Suatu saat nanti kamu pasti ngerti, Lid!"
Lidya memilih diam dan menggenggam benda pemberian Abi. "Bi," panggilnya lirih.
"Hm!"
"Thanks ya!" Lidya tiba-tiba menyandarkan kepalanya dibahu Abi. Ternyata hari ulang tahunnya tak seburuk apa yang ia pikirkan. Masih ada Abi yang selalu ada disampingnya, yang selalu menghiburnya.
Kepala Abi menoleh sedikit menatap Lidya. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyuman.
Ingin sekali ia menjelaskan arti gembok itu tapi Abi tak bisa. Ia teringat akan Davin dan Salwa. Mungkin lebih baik Abi menyimpan perasaannya saja.
Lidya duduk di dekat taman rumah sakit sambil memperhatikan kado dari Abi. Semalaman ia tak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan kado ini. Dan seharian ini Lidya hanya duduk termenung sambil menggenggam gembok kecil itu.
"Ngelamunin apa, Lid?"
Lidya menoleh cepat saat mendengar suara itu. "Salwa?" serunya sumringah.
Salwa mengatur kursi rodanya agar lebih dekat dengan Lidya. "Aku kesepian, seharian ini kamu nggak maen ke kamarku!" keluh Salwa.
Lidya seketika merasa tak enak. Ia langsung memeluk Salwa dari samping. "Maaf. Aku lagi nggak mood. Takutnya nanti kamu kena imbasnya!"
"Kenapa? Kamu ada masalah?"
Lidya mengurai pelukannya lalu menatap wajah Salwa yang terbingkai hijab warna tosca. Apa perlu ia menceritakan kegalauan hatinya? Bagaimana pendapat Salwa nanti kalau ia tau soal perasaannya pada orang lain sedangkan Salwa tau jika ia sudah bersuami.
Lidya menggeleng pelan lalu tersenyum. "Udah nggak apa, kok. Lihat kamu ada disini seketika badmoodku ilang!"
"Dih, bisa ya gitu?"
Lidya dan Salwa tertawa serempak. Suara tawa mereka terdengar begitu renyah. Tapi suara tawa Salwa mereda perlahan saat matanya menangkap sosok Abi dari kejauhan.
"Itu suami aku dateng!" ucap Salwa sambil melambaikan tangannya kearah Abi. Abi membalasnya dengan semangat sambil tersenyum.
Lidya ikut menolehkan kepalanya dan seketika tawanya memudar melihat sosok Abi tengah berjalan menghampirinya. Tak jauh beda dengan Lidya, Abi juga terlihat syok dengan apa yang dilihatnya.
Sedang apa Salwa bersama dengan Lidya?
"Sayang, sini deh!" panggil Salwa dengan suara manjanya. Abi mengangguk dan tersenyum kaku lalu berdiri disebelah kursi Salwa. "Aku belum sempet ngenalin Lidya sama kamu. Lidya ini yang selalu nemenin aku saat kamu lagi kerja. Dia udah aku anggep seperti adek aku sendiri!"
Abi mengedip pelan. Jadi yang diceritakan Lidya beberapa waktu yang lalu adalah Salwa?
"Tapi sayangnya dia lumpuh, Bi!"
Ucapan Lidya beberapa waktu lalu tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Kenapa ia tidak sampai berpikir sejauh ini? Bisa ia lihat sorot mata penuh luka terpancar dari mata hazel itu.
"Lid, kenalin. Namanya Abi, dia suami aku!"
Surabaya, 14 Juni 2018
ayastoria