episode 16

1027 Kata
Semilir angin membelai lembut rambut seorang pria yang duduk di bawah tiang terbuat dari kayu, matanya menerawang memperhatikan tanaman bunga yang mulai bermekaran, angannya melayang pada seorang gadis yang ia tinggalkan di kota saat melihat bunga seruni putih yang telah mekar, hatinya terhiris pilu mengingat dirinya belum bisa kembali, selain rencana pembalasan dendam yang belum punya kesempatan untuk memulainya, tubuhnya juga masih memerlukan pengobatan, meski pengobatan tradisional. Dahinya menyerngit saat rasa sakit itu menghujam salah satu tubuhnya, ia memjamkan matanya menahan sakit itu, meski pun telah lama ia mengidap penyakit itu tapi dirinya juga belum terbiasa menikmati rasa sakitnya. "Suamiku. " Suara lembut seorang gadis kecil menyentakkan dari lamunannya, ia kembali membuka matanya lalu menoleh pada gadis itu, seorang gadis yang 2 bulan ini pura-pura menjadi istrinya. Ranze sugaru meski hanya pura-pura gadis itu selalu memperlakukannya dengan baik, melayaninya sebagai seorang istri kecuali urusan hubungan intim karena bagaimana pun juga ini hanya pura-pura. Ranze melangkahkan kakinya menghampiri sang suami pura-pura, ia mendudukkan diri disamping pria itu, matanya memperhatikan seorang pria yang entah sejak kapan membuatnya tidak bisa memikirkan apapun selain dirinya," Apa perutmu sakit lagi? " "hn, " jawab pria itu lemah. Sesungguhnya gadis itu bingung, sebenarnya pria itu sakit apa? Kalau hanya sakit lambung biasa kenapa saat penyakitnya kambuh ia terlihat sangat pucat bahkan sering sekali punyakitnya kambuh meskipun dirinya sudah berusaha menjaga pola makan pria itu, tapi seakan tidak ada hasilnya. "Ranze. " Gadis itu mendongakkan pandangannya menatap mata suami gadungannya. "jangan khawatir, aku baik-baik saja, " ucap pria itu berusaha menenangkan istri gadungannya. "Sebenarnya kau ini sakit apa? " tanya Ranze penasaran. Fransis tidak tau harus menjawab apa, dia tidak ingin membuat gadis baik itu semakin khawatir padanya. Tapi jika tidak jujur gadis itu juga pasti akan terus bingung. "Ranze, aku-." Hampir saja dia mengatakannya kalau saja panggilan sang kakek tidak menginstupsinya. "Makabe. Aku ingin bicara denganmu." Fransis sengaja menyembunyikan jati dirinya dari semua orang dan meminta kakek dan Ranze untuk memanggilnya begitu. "Iya, kek. " Pria itu bangkit lalu melangkahkan kakinya mengikuti sang kakek. Ranze hanya menatap sedih punggung pria yang disayanginya itu. **** Dalam sebuah ruangan yang terdominasi dari kayu, bahkan semua perabotannya juga dari kayu, mulai dari kursi,meja serta almari. Kakek tua itu memperhatikan Fransis yang terlihat terus memegangi perutnya, ia tau pasti pria itu kembali merasakan sakit, sebenarnya dirinya sudah tau kalau pria itu bukan mengidap penyakit lambung biasa melainkan kangker lambung stadium akhir. "Tuan Lonenlis. Apakah kau tidak ingin kembali kekota? Penyakit mu semakin parah, aku tidak yakin bisa menyembuhkan mu. "Mata kakek tua itu memandang keluar jendela, disana ada berbagai jenis tanaman obat dan sudah digunakan untuk mengobati pria yang sudah dianggap sebagai cucunya. Tapi melihat kondisi pria itu yang semakin buruk, membuatnya merasa sedih dan bersalah, sebagai seorang tabib yang sangat dipercaya di kampungnya ia justru gagal mengobati satu-satunya pria yang disayanginya. Fransis memandang sendu punggung kakek tua itu, bukannya ia tak tau kalau sang kakek sudah menyerah atau dia juga tidak menyalahkan kakek tua itu, tapi jika dia kembali sekarang hanya untuk berobat maka sahabatnya yang sudah menikamnya dari belakang pasti akan mencoba menyakitinya lagi. Ia harus menyiapkan sebuah rencana yang matang untuk menghancurkan kedok pria itu. "Aku akan kembali ke kota. Tapi bukan untuk berobat, melainkan mengambil milikku kembali. Kek, tolong izinkan aku membawa Ranze bersamaku. " Kakek tua itu tersenyum, sepertinya pria yang sudah dianggap sebagai cucunya itu mempercepat rencana pembalasan dendamnya, tapi dia masih memikirkan seorang gadis kecil yang sangat mencintai pria itu, ia memiliki mimpi menjadi orang kantoran, ada baiknya jika dia juga memintak pria itu memberikan kesempatan untuknya memenuhi mimpinya. Kakek itu membalikkan tubuhnya, bibirnya masih menyunggingkan sebuah senyum, pandangannya menyorot langsung ke mata pria itu. "Tuan Lonenlis. Aku akan menginzinkanmu membawanya jika kau mampu mewujudkan mimpinya." Fransis memandang kakek tua itu penuh tanda tanya, dia sendiri tidak tau apa impian gadis kecil itu, dia juga tidak pernah cerita apapun mengenai mimpinya." Apakah mimpinya itu, kakek?" "Menjadi pegawai kantoran. Aku rasa kau bisa melakukannya, meski dia hanya seorang gadis desa yang pendidikannya juga tidak terlalu tinggi, tapi aku yakin dia tidak akan membuatmu dalam masalah. " Kakek tua itu berusaha meyakinkan Fransis, bagaimana pun tubuhnya sudah tua renta, tidak mungkin bisa membantu cucunya itu mewujudkan impiannya. Fransis tertegun, ia selama ini tidak menyadari gadis kecil yang berperan menjadi istri pura-puranya memiliki mimpi seperti itu, kadang ia juga heran kenapa kebanyakan manusia sangat ingin menjadi pegawai kantoran, apalagi seorang wanita. Kenapa seorang wanita tidak berpikir kalau menjadi ibu rumah tangga saja?. Seulas senyum terukir dibibirnya, mimpi gadis kecil yang sudah menolongnya itu tentu saja akan dia wujudkan, anggap saja sebagai balas budi, "Baik, kakek. Aku berjanji padamu akan mewujudkan impiannya dan selalu menjaganya selama aku masih hidup. " **** Ferdinan memperhatikan ruang kerjanya, iya, sudah dua bulan ruang presiden direktur di perusahaan Lonenlis menjadi ruang kerjanya, sudah dua bulan juga ia berpura-pura menjadi seorang Fransis Lonenlis, meski begitu pria itu tak bisa melakukan banyak hal untuk perusahaan itu, bahkan hampir saja ada sebuah kecurangan yang tidak dirinya ketahui kalau saja Gino Hernandez tidak menegurnya. Ia sadar meski sekarang wajahnya sama dengan sahabatnya itu, tapi kemampuannya tidaklah sama, perlakuan Seiran juga tidak sama, gadis itu terkesan dingin dan selalu menghindarinya, mungkin ini yang dinamakan bahwa cinta itu adanya dalam hati, dan dengan hatilah seseorang dapat membedakan siapa yang dicintainya. Matanya beralih pada bingkai fto sang sahabat yang masih terpajang indah di atas meja kerja, disamping sebuah vas bunga, ia sengaja tidak membuangnya agar rasa bersalahnya pada sang sahabat yang telah dia khianati tidak terlalu mendominasi dirinya. Langkah kakinya perlahan menuju figora itu, tangannya terulur untuk menyentuhnya, entah kenapa penyesalan mendadak memenuhi relung hatinya," Frans. Apakah kau di alam sana sangat membenciku? Apakah kau mengutukku? Maafkan aku, Frans. Hiks... Hiks... Aku terlalu serakah, menghianatimu, mencelakaimu bahkan mengambil kekasih mu. Tapi Frans, aku sangat mencintainya, dia segalanya bagiku. Sekarang, Seiran bahkan jarang menemuiku, apa yang harus aku lakukan agar dia mencintaiku? " Engkau menangis, engkau bersedih... Aku juga merasakan sama,,, Kau memanggilku,,, Kau merindukan ku,,, Aku juga merasakan sama,,, Dalam hatiku hanya,,, Ada dirimu sayang,,, Dalam impian ku hanyalah dirimu,,, Rasakanlah aku dengan cintamu,,, Maka kau, 'kan, lihat aku didepanmu...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN