Jam sudah menunjukan pukul 5 sore tetapi laki-laki berkacamata itu belum meninggalkan tempatnya sama sekali bahkan sorot cahaya senja masih terpantul pada kacamatanya, suara deburan ombak seakan menemani keheningan suasana saat ini. Ia masih terpaku menatap takjub selembar kertas yang ada di jemarinya, bahkan ini sudah yang ketiga kalinya ia mengulang kata demi kata di kertas itu tetapi pikirannya masih sulit mencerna setiap kata bertinta hitam itu. Pikirannya berkelana begitu bingung ingin menganggapi seperti apa kertas itu, rasanya mengedipkan matanya sulit ia lakukan padahal mungkin sudah 30 menit yang lalu Titania memberikan kertas ini padanya sebelum perempuan itu berlalu meninggalkannya sendiri disini. Jemarinya dengan pelan melipat kertas yang dibacanya sejak tadi lalu menyimp

