Kalina menutup mulutnya, tangisnya pecah begitu mendengar penjelasan Herman. "Leukemia?" ucap Kalina dengan suara seraknya.
"Herman, ini semua hanya bercanda 'kan?" tanya Kalina, perempuan itu masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Herman.
"Gak Lin, semua jelas..." jawab dokter Herman menunjukan kertas putih di depannya. Hasil lab kemarin sudah keluar, dan hasilnya sangat mengecewakan Kalina.
Kalina menangis, Herman mengusap lembut bahu Kalina. "Apa yang harus aku lakukan Her? Bagaimana jika Benua tahu semuanya?" tutur Kalina masih dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Apa kita sembunyikan semuanya, dari Benua?" ujar Kalina lagi.
"Kenapa harus di sembunyikan?" tanya dokter Herman.
"Karena, Benua sedang menyukai seorang gadis. Aku takut kalau Benua tau tentang penyakitnya. Dia akan menjauh dari gadis itu, aku tau Her. Hanya Gadis itu yang bisa membuat Benua bahagia..." jelas Kalina Herman mengangguk.
"Ya sudah jika itu mau kamu, kita sembunyikan penyakit Banua..." ujar Herman menyetujui.
****
Benua tertawa, ketika melihat raut wajah kesal Gemi. "Lo tuh curang tau gak!" seru Gemi.
"Saya gak curang, tapi saya pintar..." ucap Benua.
"Mana ada itu namanya curang!" seru Gemi memindahkan kuda Benua.
Mereka berada di rumah Benua, awal niat mereka akan belajar. Namun ketika kebosanan melanda, mereka memilih bermain catur untuk mengusir ke bosannan.
"Cepat jalan!" perintah Benua, Gemi pun menjalankan permainannya.
Benua tersenyum."Skakmat..." kata Benua sembari tersenyum.
"Ahh, lo curang!" ujar Gemi kesal.
"Kalah-kalah aja Gem..." kata Benua mengoleskan bedak tabur pada wajah Gemi. Gemi menatap lekat Benua mengamati wajah Benua.
"Wajah lo pucat, lo masih sakit?" tanya Gemi meletakan tangannya pada kening dan pipi Benua.
"Gak kok, saya sudah baik 'kan...." jawab Benua tersenyum, meskipun begitu, lelaki itu sangat senang karena Gemi yang memegang kening dan pipinya.
Benua menatap lekat Gemi, membuat Gemi salah tingkah. "Gem, apa kamu pernah pacaran?" tanya Benua menatap lekat Gemi.
Gemi terdiam, apa yang harus di jawab olehnya? Jika Gemi jujur, Gemi takut Benua akan pergi dari sisinya. Sementara itu, Benua tersenyum lelaki itu mengelus pipi Gemi.
"Tidak pa-pa, kalau kamu tidak mau jawab..." kata Benua masih dengan senyuman manisnya.
Gemi menggelengkan kepalanya, ia tidak mau ada rahasia antara dirinya dan Benua. "Pernah..." jawab Gemi akhirnya.
Benua mengangguk. "Kalau sekarang mau pacaran?" tanya Benua.
Dengan ekspresi kaget, Gemi menatap Benua. "Maksudnya?" tanya Gemi bingung.
Benua tersenyum. "Mau pacaran dengan saya?" ucap Benua menatap lekat mata Gemi. Gemi terdiam, apakah barusan Benua menembaknya?
Benua tertawa, ekspresi wajah Gemi sungguh dangat mengemaskan. "Kenapa ketawa?" Tanya Gemi tidak suka dengan Benua.
"Kamu lucu, saya suka..." kata Benua kaku. Kini giliran Gemi yang tertawa.
"Gemi boleh kah saya mencintai kamu?" tanya Benua cepat, membuat Gemi yang sedang tertawa tiba-tiba terdiam.
Benua menunggu jawaban dari Gemi. "Kalau gue bilang gak apa lo bakal tetap deketin gue? Atau malah menjauh dari gue?" ujar Gemi memberi Benua pertanyaan.
Benua nampak berpikir. "Gak. Kalau pun kamu tidak mau menjadi orang yang istimewa di hidup saya. Saya tidak akan menjauhi kamu. Kan dari awal saya mau jadi teman kamu..." jelas Benua membuat Gemi diam.
"Kalau gitu, gue mau. Mau jadi orang yang istimewa buat lo..." kata Gemi yakin. Benua menatap Gemi tak percaya.
"Serius?" tanya Benua memastikan. Gemi menganggukkan kepalanya.
Secara reflek, Benua memeluk Gemi. "Terimakasih, saya janji akan menjadi kekasih yang baik buat kamu..." kata Benua masih memeluk Gemi.
Benua melepaskan pelukannya, Lelaki itu tersenyum. Memegang tangan Gemi lalu menciumnya. "Semoga lo gak mengecewakan gue Ben...." ucap Gemi sembari tersenyum.
Kali ini, Gemi yang memeluk Benua. Meletakan kepalanya pada d**a bidang Benua. "Gue suka parfum lo..." kata Gemi menghirup dalam dalam aroma parfum Benua.
Benua tersenyum, lelaki itu mengecup puncak kepala Gemi. "Saya suka, wangi rambut kamu..." ujar Benua meresapi wangi rambut Gemi.
Gemi mendongak untuk melihat wajah Benua. Perempuan itu tersenyum dan juga di balas senyuman oleh Benua. Tangan Benua melingkar pada pinggang Gemi.
Tiba-tiba senyuman Gemi pudar. Bayangan dirinya bersama Bumi dulu kembali terulang. Hal itu membuat Gemi mendorong kuat Benua untuk menjauh darinya.
Brukk...
Gemi mendorong Benua dengan air mata yang menetes di pipinya. "Gemi, kamu kenapa?" tanya Benua panik, lelaki itu mengabaikan rasa sakit pada bahu nya yang terbentur sofa.
Perlahan, Gemi menengok kearah Benua. "Gemi," panggil Benua lembut.
Gemi menyakinkan kan diri, bahwa yang ada di hadapan nya adalah Benua bukan Bumi. "Gemi," lagi Benua memanggil Gemi.
Gemi tersadar dari lamunannya, perempuan itu lantas memeluk tubuh Benua. "Maaf.....hiks," Gemi menangis di d**a Benua.
Benua mengelus puncak kepala Gemi. "Kamu kenapa?" tanya Benua lembut.
Haruskan Gemi menceritakan semua nya kepada Benua? "Maaf..." hanya kata itu yang dapat Gemi ucapkan.
"Tidak pa-pa. Saya sayang sama kamu..." ucap Benua mencium puncak kepala Gemi.
"Gue juga sayang sama lo..." balas Gemi memeluk erat tubuh Benua.
Benua....Benua.....Benua.....
Kata itu terus Gemi ulangi dalam benaknya. Ia ingin sekali menghapus nama Bumi, di dunia ini. Benua melepaskan pelukannya, lelaki itu menghapus air mata Gemi sembari tersenyum. "Saya pengen lihat kamu tersenyum..." kata Benua sembari menyunggingkan senyumannya.
Gemi tersenyum. "Terimakasih..." ucap Benua tulus.
"Selalu tersenyum untuk saya. Apapun yang terjadi..." kata Benua masih dengan senyuman manisnya.
*****
Gemi mengelus kepala Benua yang berada di pangkuannya. Lelaki itu sedang merebahkan tubuhnya, dengan paha Gemi sebagai bantalan. Benua membuka matanya, lalu tersenyum melihat wajah Gemi di atasnya. Lelaki itu bangkit dan duduk di sebelah Gemi.
Kini giliran Gemi yang menyandarkan kepalanya pada bahu Benua. "Lo pernah pacaran?" tanya Gemi, tanpa melihat Benua.
"Belum," jawab Benua menyandarkan kepalanya pada kepala Gemi.
"Kalau first love? Ada?" tanya Gemi lagi.
"Ada, dulu waktu SMP..." jawab Benua jujur. Gemi mengangguk. Perempuan itu melingkarkan tangannya pada pinggang Benua.
Benua mengecup kening Gemi. "Kenapa hm?" ujar Benua.
"Lo gak ada rasakan sama first love lo itu?" tanya Gemi takut.
Benua tertawa. "Ya gak lah. Itu kan dulu waktu cinta monyet." jawab Benua, Gemi tersenyum perempuan itu mendongakkan wajahnya dan mengecup rahang bawah Benua.
Benua terdiam, ini kali pertama ia di cium oleh perempuan kecuali Mamanya. "Kenapa kok kaget gitu?" tanya Gemi menatap lurus mata Benua.
"Udah nakal ya sekarang..." ledek Benua membuat Gemi tertawa.
"Emang kenapa? Baru juga di rahang belum di bibir..." balas Gemi masih tertawa.
Tangan Benua terulur untuk memegang dagu Gemi. Membuat Gemi menatap kearahnya. Benua sedikit menunduk, sementara Gemi sudah terhipnotis dengan tatapan mata Benua.
Gemi tidak sadar, kalau wajah Benua sudah sangat dekat dengannya.
Cup.
Benua menempelkan bibirnya pada bibir Gemi. Hanya menempelkan, hidung mereka bersentuhan. Tak berlangsung lama, karena Benua langsung menarik Gemi dalam pelukannya.
"Saya sayang sama kamu..." ucap Benua, menenggelamkan wajah Gemi pada lehernya.
Tangan Gemi melingkar pada bahu Benua. Perempuan itu meresapi aroma tubuh Benua. "Gue juga, sayang banget sama lo..." balas Gemi membuat Benua tersenyum.
Mereka melepaskan pelukan mereka. Benua menatap wajah Gemi, tangannya terulur untuk mengelus sudut bibir Gemi. "Maaf sudah cium bibir kamu tanpa izin..." ujar Benua tulus.
Gemi sedikit berpikir. "Kenapa minta maaf?" tanya Gemi membuat Benua tersenyum lalu mencubit pipi Gemi gemas.
"Kan, bibir anggota tubuh kamu. Dan saya sudah lancang menciumnya..." jelas Benua, Gemi tersenyum. Perempuan itu sedikit mengangkat pantatnya dan mengecup bibir Benua.
"Impaskan..." kata Gemi sembari tersenyum manis.
"Dasar nakal..." ujar Benua yang sedikit syok. Gemi tertawa, perempuan itu berbaring dan menjadikan paha Benua sebagai bantalan.
Benua mengelus rambut Gemi, menatap bola mata gadisnya. "Btw, kita gak jadi belajar?" tanya Gemi melihat tumpukan buku di meja.
"Huem belajar lah..." balas Benua sembari mengambil salah satu buku paket.
Begitu juga dengan Gemi, mereka saling melempar pertanyaan. Dan candaan. Membuat wanita yang mengintip di balik tembok tersenyum.
"Semoga kamu bisa sembuh nak..." kata perempuan tersebut.
****
"Kenapa sih Ma, Benua harus minum obat setiap hari. Emang sakit Benua parah 'ya? " tanya Benua, membuat Kalina dan Bumi berhenti menyendokkan makanannya.
Kalina tersenyum, ia tidak ingin menunjukan sisi rapuhnya kepasa Benua. "Gak pa-pa kok sayang. Itu kan cuma vitamin... " jawab Kalina setenang mungkin.
"Kok vitamin banyak banget..." protes Benua.
"Biar daya tahan kamu kuat. Kan bentar lagi lomba. " balas Kalina mengusap puncak kepala Benua.
"Kamu udah jadian ya sama Gemintang? " tanya Kalina, membuat Bumi tersedak makanannya.
"Benua hati-hati dong, " ucap Kalina memberikan segelas air kepada Bumi.
Bumi meminum air putih yang di berikan oleh Kalina. Sementara Benua menatap kearah Bumi. "Jadi Gimana? Benua beneran jadian sama Gemi? " tanya Kalina membuat Benua menoleh kearah sang Mama.
Benua tersenyum malu-malu, sembari tersenyum. "Aduh, Mama seneng loh dengernya... " kata Kalina.
"Ma, Bumi udah selsai. Bumi mau ke kamar dulu..." pamit Bumi kepada Kalina. Kalina mengangguk, Benua juga mengikuti langkah Bumi.
"Bumi... " panggil Benua membuat langkah Bumi terhenti. Dua orang dengan wajah dan perawakan sama itu saling berhadapan.
Bumi masih menunggu adiknya untuk berbicara. "Saya mohon, jangan kamu ganggu lagi Gemi. " pinta Benua.
"Saya gak bisa kalau harus memilih kamu atau Gemi. Saya mohon sebesar apa pun masalah kalian jangan membuat Gemi jauh dari saya... " kata Benua.
"Udah? " ujar Bumi nampak jenggah dengan perkataan Benua. Bumi pergi, meninggalkan Benua lalu masuk kedalam kamarnya.
Bumi duduk di meja belajarnya, lelaki itu menarik laci di bawah meja. Terlihat foto satu tahun yang lalu, foto dirinya bersama dengan Gemi. Perempuan polos yang ia permainkan.
Bumi tak pernah melakukan hal itu, meniduri Gemi? Tidak Benua tidak melakukan hal itu. Tatapan polos dari seorang Gemi membuat Bumi tidak tega untuk melakukan hal itu.
Memang benar, awal dari semuanya Bumi dan teman-tamannya menjadikan Gemi sebagai bahan taruhan. Bahkan Gemi adalah mantan pacarnya yang paling lama menjalin hubungan dengannya. Mengapa begitu? Karena Sosok Gemi membuat Bumi jatuh hati.
Yah Bumi sudah jatuh hati dengan Gemi sejak dulu. Selama ini, Sikap Bumi semata mata hanya untuk pencintraan di depan teman-temannya.
Bumi gengsi jika harus mengaku bahwa diri nya menyukai Gemi. Maka dari itu, Bumi seolah olah membenci Gemi.
Sekarang Gemi sudah menjadi milik Benua adiknya, lalu apa yang harus ia lakukan? Tidak mungkin bukan Bumi merebut Gemi dari adiknya. Dan tidak mungkin juga Gemi mau dengan dirinya. Yang hanya lelaki pengecut.