Waktu Ancaman Evan

1511 Kata
Di dalam mobil Evan, Alya hanya terdiam seribu bahasa. Dia tahu apa yang dia lakukan saat ini sangat beresiko, tapi mau bagaimana lagi? Demi untuk mengecoh Evan, sampai dia menemukan jalan keluarnya dari jeratan Evan. Sesekali Evan menoleh ke arah Alya yang terus terfokus pada kaca jendela mobil. "Kamu kok diem aja?" Tanya Evan membuka obrolan. Namun Alya tidak menjawab pertanyaan dari Evan, dia hanya diam dan fokus menatap jalan. "Al, aku bicara sama kamu ya. Kamu tahu kan kalau aku nggak suka jika diabaikan!" Peringat Evan. Alya membuang nafasnya kesal, mendengar Evan yang selalu mengancam dirinya. "Apa sih?" tanya Alya. "Jangan pernah abaikan aku Alya! Aku nggak suka itu!" jawabnya. "Hmm, berhenti nanti aku di depan. Biarin aku naik angkutan umum!" Evan langsung menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja, aku akan mengantarkan kamu sampai kantor!" ucapnya. Alya hanya bisa terdiam, membiarkan keinginan Evan untuk mengantarnya ke kantor. Sesampainya di kantor saat Alya akan turun, Evan langsung menggenggam tangan Alya. "Ingat waktu kamu tinggal 1 hari lagi! Setelah itu kamu akan menjadi milik aku Alya!" Alya langsung menepis tangan Evan yang menggenggam tangannya. Alya segera keluar dari mobil Evan, dia tidak mau berlama-lama bersama pria tersebut! Melihat Alya sudah keluar dari mobilnya, Evan pun hanya tersenyum miring, ya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Alya melangkahkan kakinya, masuk ke dalam kantor dengan kepala yang begitu berat. Alya memilih untuk ke kantin kantornya sebentar, untuk membeli kopi. "Vanilla lattenya satu ya bu!" "Baik neng!" Alya duduk di kursi yang ada di hadapan stand minuman kopi tersebut. Wajahnya terlihat lemas, dia benar-benar bingung mencari cara untuk lepas dari Evan. Sebenarnya ada jalan keluar dia untuk lepas dari Evan. Tetapi dia harus menghubungi Rangga, sedangkan dirinya saja semalam diabaikan oleh Rangga. Setidaknya Alya harus sadar posisi di kehidupan Rangga. "Neng Alya, ini kopinya!" ucap ibu penjual. Alya langsung mengerjapkan matanya, dia langsung segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil minuman yang telah dia pesan. "Bayarnya pakai Qris ya Bu!" Alya pun langsung membayar kopi tersebut. Dia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan kerjanya. Di sana dia bertemu dengan Fares, "eh Al, kemarin itu pa—" Namun saat Fares menyapa, Alya tidak mengubris sapaan dari Fares. Alya terus melangkahkan kakinya melewati Fares seolah-olah dia itu tidak ada. Fares ternganga melihat Alya yang mengabaikannya. Dia langsung menoleh ke arah Alya yang terus berjalan melewatinya. "Serius gue di abaikan?" gumamnya tidak terima, Fares pun berjalan mengikuti Alya di belakangnya. Setelah Alya duduk, kini Fares berdiri di hadapannya. Melihat Alyas seperti mayat hidup. "Al woy?" Panggil Fares sambil melambaikan tangannya di depan wajah Alya. Untung saja Alya langsung menyadari, saat Fares melambaikan tangannya di depan wajah. "Astaga! Lu ngapain sih di depan gue? Bikin kaget aja tau nggak!" umpat Alya. "Lu yang bikin gue kaget, dari pas masuk ruangan lu kayak mayat hidup tau nggak! Gua panggil aja lu kagak nyaut, lah ini tiba-tiba marah ke gua!" jelasnya. Alya mengerutkan kening, sedikit tidak percaya dengan ucapan Fares. "Masa sih?" tanyanya. "Iya, ngapain juga gua sampai ikutin lo ke sini. Lo kenapa sih? Lagi banyak pikiran ya? Perasaan baru kemarin, lu dijemput sama pacar lo! Pasti lagi berantem ya sama cowok yang kemarin jemput lo!" tebak Fares. "Berisik bisa diam nggak sih lo?" kesal Alya, sambil menyalakan laptopnya. "Fix berarti bener lo lagi berantem! Lagian kok lu punya pacar kayak begitu sih? Tahu gak dia judes banget loh! Males banget gue ngeliat wajah dia, mana sok cakep lagi!" ujarnya. Mendengar namanya saja Alya sudah mendadak mual, Alya membuang nafasnya kasar. Ingin sekali rasanya dia lepas dari jeratan Evan. Tapi ancaman itu kembali terngiang di dalam pikiran Alya. Jika besok dia belum juga menemukan jalan keluarnya, mungkin mau tidak mau dia akan berbicara sama Rangga. Ini hal paling menyebalkan di kehidupan Alya, meminta tolong pada orang yang selalu membuat dia kesal. "Woy Al, lu bener ya! Dari tadi gua ngoceh, lu malah bengong aja! Kenapa sih lu? Mau cerita nggak sama gue?" Alya menatap ke arah Fares, seketika terlintas di dalam pikirannya untuk meminta tolong kepadanya. Tapi sepertinya percuma, Fares tidak bisa melakukan apa pun. Alya segera menggelengkan kepalanya, "gue nggak kenapa-napa kok, udah sana lu kerja! Ganggu gua aja lo!" Fares berdecak kesal, sambil berjalan menuju meja kerjanya. "Sialan lu, gua tuh peduli sama Lo, malah dibilang ganggu!" ucap Fares sambil mencuatkan bibirnya ke depan. Alya hanya bisa membuang nafasnya kasar, sebenarnya Fares itu sangat baik. Jika terjadi sesuatu kepadanya, maka Fareslah orang pertama yang akan bertanya. Alya kembali lagi fokus kepada layar yang ada di hadapannya. Berusaha untuk tidak memikirkan ucapan Evan, Alya memutuskan lebih baik bekerja. --- Di dalam rumah Maya merasakan cemas kepada Alya, saat anaknya kembali dekat dengan Evan. Karena setahunya Evan itu pernah menghianati Alya, Kenapa Alya mau kembali kepada Evan. Firasat Maya pasti telah terjadi sesuatu kepada Alya, hanya saja Alya tidak mau mengatakannya kepada Maya. Pada akhirnya Maya mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia mencari kontak Rangga untuk menanyakan sesuatu kepadanya. Setelah mendapatkan kontak Rangga, Maya langsung memberikan pesan kepada Rangga. Maya: Rangga ini tante Maya, kamu sibuk gak? Maya membuang nafasnya kasar, saat sudah mengirimkan pesan kepada Rangga. Maya masih menggenggam ponselnya berharap Rangga tidak lama untuk membalas pesannya. Benar saja tidak lama ponselnya berbunyi, ada pesan balasan dari Rangga. Rangga: Enggak tante, ada apa? Maya: Ini tentang Alya, Ngga. Tidak butuh waktu lama Rangga langsung membalas kembali pesan dari Maya. Rangga: Alya? Kenapa sama Alya, Tan? Maya: Kalau kita ketemu bisa gak Ngga? Rangga: Bisa tante, jam makan siang ya. Nanti saya ke rumah tante. Maya: Jangan, kita ketemuan aja deket kantor kamu. Rangga: tapi kantor aku jauh tan. Maya: gak apa-apa, sekalian tante healing. Rangga: ok siap, Tan. Nanti Rangga kasih alamat cafenya. Maya: ok. Maya langsung segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Rangga. Karena pukul sudah jam 11.00 siang. Tidak butuh waktu lama Maya sudah siap dan akan segera pergi untuk menemui Rangga. Ponselnya berbunyi memperlihatkan Rangga mengirimkan pesan, di mana tempat untuk bertemu dengannya. Maya pun langsung memesan taksi online untuk segera sampai di tempat. Di dalam perjalanan Maya terjebak macet, Maya pun segera mengirimkan pesan kepada Rangga, kalau dirinya mungkin akan telat datang. Maya: Ngga, maaf ya kalau tante telat. Macet soalnya. Rangga: gak apa-apa Tante santai aja, Rangga juga masih di kantor. Kalau sudah dekat kasih tau ya, Tan. Maya: Ok. Sedangkan di sisi lain, Rangga yang masih berkutat dengan grafik, yang ditampilkan di layar laptopnya pun sedikit membuatnya pusing. Namun ada yang lebih membuatnya penasaran dari grafik yang ada di layar laptopnya. Yaitu ibunya Alya yang sampai ingin Bertemu dengannya. Rangga membuang nafasnya kasar, Ia menoleh jam yang ada di tangan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, Rangga pun pada akhirnya memutuskan untuk segera menuju cafe yang telah ditentukan. Saat Rangga akan pergi tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya terbuka. Sekretaris baru Rangga masuk dengan beberapa dokumen yang ada di tangannya. Rangga langsung menatap tajam ke arah sekretaris itu. Membuat wanita itu berdiri mematung, saat ditatap tajam seolah dia melakukan kesalahan. "Maaf pak, ini dokumen yang harus ditandatangan!" Ucap wanita itu. "Simpan Saja, saya ada urusan!" Tapi sekretarisnya itu bukannya pergi malah berdiam di depan meja kerja Rangga. "Kenapa kamu masih berdiri di situ?" Tanya Rangga dengan ketus. "Dokumen ini ditunggu sama pak Damar, pak." Rangga mengusap wajahnya kasar dia kembali duduk dan mengambil dokumen tersebut. "Kenapa kamu nggak bilang malah diem aja! Nggak becus!" umpat Rangga kesal. Sekretarisnya itu hanya bisa menundukkan kepalanya tidak berani menatap ke arah Rangga. Tidak lama Rangga langsung memberikan dokumen itu kepada sekretarisnya. "Sana!" Rangga kembali beranjak dari tempat duduknya. Dia segera menuju cafe yang telah dijanjikan dengan Tante Maya. Untung saja Rangga yang lebih dulu sampai di cafe tersebut, karena jaraknya lebih dekat Rangga. Rangga mencari tempat duduk yang sedikit lebih sepi. Karena dia pikir obrolannya dengan Tante Maya akan sedikit lebih sensitif. Tidak lama Tante Maya pun datang, Rangga langsung melambaikan tangannya, Tante Maya tahu kehadirannya di sana. Maya tersenyum dan segera menghampiri Rangga. "Udah lama Ngga?" Rangga langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak kok Tante baru aja. Tante mau makan, minum apa?" "Es jeruk aja deh kayanya seger, makannya apa di sini? Tante gak tau ngikut kamu aja deh," ucapnya. Rangga pun menganggukan kepalanya, dia memesan dua porsi nasi goreng 1 es jeruk dan ice cappucino. Setelah memesan makanan, Rangga pun segera kembali ke mejanya. "Jadi gimana tante? Ada apa dengan Alya?" Maya menarik napasnya dalam-dalam, "kamu tahu Evan kan mantannya si Alya?" Rangga menganggukkan kepalanya, tentu saja dia tahu Evan. Bahkan dia habis baku hantam dengannya kemarin. "Nah Alya itu, lagi deket lagi sama Evan. Kayak ada yang disembunyiin sama Alya, soalnya tiap Evan datang dia nggak kelihatan senang gitu loh," jelas Maya. Rangga mengerutkan keningnya, masih tetap fokus mendengarkan cerita dari Tante Maya. "Terus tante?" tanyanya. "Nah tante tuh jadi kayak khawatir gitu sama Alya, kamu tahu sendiri kalau Evan itu selingkuh. Terus kok mau-maunya Alya balik lagi ke Evan? Kalau boleh jujur tante nggak terima sama keputusan Alya, tapi seperti ada yang disembunyikan. Makanya Tante ke sini mau minta tolong sama kamu, Apa kamu tahu sesuatu tentang Alya dan Evan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN