Amarah Rangga

1606 Kata
Di sebuah cafe di kota Jakarta, kini Rangga berada, bersama teman-temannya. Di mana dia sedang menonton bola bersama. Di riuhnya suara manusia, dan di balik tawa Rangga, perasaan Rangga tetap masih tidak enak. Pikirannya terus berputar-putar, tentang Alya dan Evan yang sedang makan bersama. Entah sudah berapa batang rokok yang telah dia habiskan. Dani yang melihat Rangga dengan sikap seperti itu pun merasa heran padanya. "Lu kenapa sih? Kaya yang lagi banyak pikiran?" tanya Dani. Rangga menghisap sebatang rokok dan mengepulkan asapnya. Rangga membuang puntung rokok ke dalam asbak, dia menuangkan bir ke gelas kecil yang ada di hadapannya, dan langsung meminumnya dengan sekali tegukkan. Rangga hanya menggelengkan kepalanya. Lalu kembali menghisap rokok yang diapit diantara kedua jarinya. Dani berdesah pelan, dia tidak puas dengan jawaban dari Rangga. "Gua nggak percaya ya, lu nggak kenapa-napa! Biasanya kalau lagi kayak gini Lu pasti lagi ada masalah! Keliatan banget dari raut wajah lo!" sahut Dani. "Jangan sotoy lu!" cibir Rangga sambil mendelikkan matanya. "Yee bukan sotoy, Lu kira gua kenal sama lo baru ini? Gue udah lama kenal sama lu!" papar Dani. Kali ini Rangga tidak menggubris ucapan dari Dani. Dia hanya terfokus pada layar besar yang ada di hadapannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, dan layarnya pun menyala memperlihatkan pesan masuk. Tanpa sengaja Dani melihat nama pengirim pesan itu di layar ponsel Rangga. Dia langsung menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya itu dengan tatapan heran. "Tumben lu nggak ngebales chat dari Alya? Biasanya lu langsung gercep kalau ada chat dari dia akhir-akhir ini?" tanya Dani yang penasaran. "Bukan urusan lo!" balasnya. Kini Dani mulai paham kenapa Rangga seperti itu, dia mengangguk-anggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum meledek. "Gue tahu kenapa lu jadi kayak gini!" Kekehnya. Rangga langsung menatap tajam ke arah Dani, sedangkan pria itu masa bodoh saat ditatap tajam oleh Rangga. "Lu lagi berantem sama si Alya? Tumben sampai segala ini?" Tawanya pelan. "Siapa juga yang lagi berantem sama si Alya? Nggak ada yang lagi berantem sama dia!" ungkapnya. "iya, iya, nggak percaya gue. Eh salah maksudnya percaya gue!" Ledek Dani yang kini sedang menertawakan Rangga. "Lu lagi deket ya sama si Alya?" tanya Dani kali ini serius. "Apa sih? Perasaan dari dulu juga emang gua deket sama si Alya!" Ucap Rangga menegaskan. Dani menggelengkan kepalanya sambil tertawa pelan. "Rangga, Rangga, kayaknya lu mulai suka ya sama si Alya?" Rangga langsung menatap horor ke arah Dani, "Jangan sok tahu lo!" "Gua bukannya sok tahu, tapi Gua ngelihat dari gerak-gerik lo! Lagian wajar aja kok kalau suka sama si Alya. Lagian kalian udah lama jadi sahabat kan, nggak ada yang murni di antara cowok sama cewek bersahabat, pasti diantara salah satu dari mereka, memiliki rasa!" jelas Dani. Rangga menekan pipi dalamnya dengan lidah, menekan-nekan pipinya mencerna ucapan dari Dani. "Gue udah anggap dia jadi adik gue sendiri, ya lebih dari itu. Cuman gue sedikit kecewa aja sama dia!" Akhirnya Rangga pun mulai menceritakan Kenapa dia seperti itu. "Kecewa karena?" "Kemarin mantan pacarnya itu datang nemuin dia, Alya jelas-jelas nolak itu cowok. Tapi pas tadi gua ke kantornya mau ngajak dia balik bareng, eh soalnya dijemput sama mantannya." Mendengar penjelasan dari Rangga, Dani langsung tertawa. Rangga langsung menoleh ke arah Dani dengan tatapan heran. "Lu ngetawain gue?" Perlahan ketawa Dani pun mereda, dia tidak mau membuat Rangga semakin meradang. "Bentar, bentar lu jealous?" Rangga langsung mengerutkan dahinya. "Big No! Gue nggak cemburu, gue cuman kecewa aja sama sikap dia. Tiba-tiba berubah kayak begitu, lihat muka gua bonyok, habis dipukul kemarin sama mantannya!" "Jadi luka lu itu gara-gara mantannya si Alya?" Rangga mengangguk pelan membenarkan ucapan dari Dani. Tapi setelah itu sahabatnya malah kembali menertawakan Rangga. Rangga membuang napasnya tidak peduli, melihat tingkah Dani yang sedang menertawakannya. "Sorry, sorry kalau gue ngetawain lo. Habis miris banget sih nasib lo, kok bisa-bisanya lo dipukul sama mantannya Alya? Lu ngapain sih Ga?" "Gue cuman ngecoba buat ngelindungin dia, soalnya dia kayak ketakutan gitu. Sekarang malah jalan bareng! Siapa yang nggak kesel coba?" Kini Dani paham dari mana rasa kesal Rangga hari ini. "Lu udah minta penjelasan ke Alya?" Rangga menggelengkan kepalanya, "belum, ngapain juga gua minta penjelasan ke dia? Gue kan bukan siapa-siapa dia!" Balas Rangga sambil menaikkan sebelah bahunya. Dani menepuk pundak Rangga, "lu coba tanyain penjelasan dia, Siapa tahu dia ngelakuin itu karena terpaksa!" papar Dani. Rangga terdiam sejenak, sambil menghisap sebatang rokok, yang entah sudah ke berapa dia menghisapnya. Lagi-lagi ponselnya berbunyi, tampak nama ayah di layar ponselnya. Dani yang melihat ponselnya Rangga pun, menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya. "Alya ngehubungin lo tuh, dia lagi butuh bantuan katanya!" ucap Dani. "Ada Evan, Kenapa juga harus ke gua!" Mendengar nama itu disebut, Dani mengerutkan keningnya dan langsung menatap ke arah Rangga. "Evan? Bukannya lu kemarin nyuruh gua buat cari info tentang nama dia ya?" tanya Dani Rangga menganggukkan kepalanya pelan. Dani sedikit ternganga, saat tahu alasannya kenapa Rangga mencari nama Evan. "Jadi karena itu lu cari nama si Evan? Fix sih lu ini cemburu!" katanya. "Apa sih? Emangnya Gua nggak boleh cari tahu si Evan? Dia yang udah bikin gua kayak begini! Ya gua mau bales dia lah!" ucapnya. "Lu yakin?" "Yakin! Berisik lu, mending gua balik aja!" Rangga langsung beranjak dari tempat duduknya, tidak lupa membawa sebungkus rokok dan pematik miliknya. "Ngga jangan marah dong Ngga!" Namun percuma saja Rangga sudah pergi meninggalkan Dani seorang diri. Dani membuang nafasnya pelan, melihat makanan dan minuman yang berserak di atas meja. "Yah, gua yang bayar ini mah!" --- Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia mempererat tangannya pada setir, entah kenapa bayangan Alya yang sedang bergandengan tangan dengan Evan terus hadir di pikirannya. "Sialan kenapa gua kepikiran terus sih?" cibirnya kesal. "Lagian kan bukan urusan gua Kalau dia pilih si Evan, tapi terus gua gimana dong? Berarti gua harus cari cewek buat dikenalin ke Mama?" Rangga memukul setir mobil miliknya, dia merasa frustasi saat ayah lebih memilih Evan. Tiba-tiba saja kepala Rangga terasa sedikit sakit, dia mampir ke minimarket untuk membeli obat. Namun tanpa disengaja, dia melihat seorang pria yang dia kenal—Evan. Rangga menyipitkan matanya takut dia salah melihat, tapi nyatanya dia tidak salah melihat pria itu. "Bukannya itu Evan ya? Lah kok dia sama cewek sih? Ternyata dia masih selingkuh aja!" Rangga langsung meraih ponselnya dan mengambil gambar Evan dan wanita itu. Rangga berhasil mengambil beberapa foto Evan. "Emang sialan tuh cowok, Gua hajar juga tuh!" Rangga langsung turun dari mobilnya, dan berjalan menghampiri Evan. "Woy!" Evan menoleh ke arah Rangga, wajahnya tidak terlihat terkejut. Wajah Evan benar-benar datar, tidak menggambarkan ekspresi apapun. "Emang cowok b******k ya! Baru juga lo tadi sore jalan sama sahabat gue! Sekarang lu jalan sama cewek lain! Lu nggak punya hati apa?" seru Rangga. Evan hanya tersenyum miring, mendengar ucapan dari Rangga. "Kenapa memangnya? Bukan urusan lu! Dia cuman temen gua, sama kaya lu dan Alya, jadi gak bisa lu nyimpulin gua selingkuh!" ucap Evan. Rangga mengepalkan tangannya kesal, rahangnya mengeras mendengar ejekan dari Evan. "Gua sama Alya beda, gua bener-bener pure sama Alya kalau kita sahabatan. Kalau lu jelas-jelas bukan sahabat, emang ada sahabat sampe cium pipi?" tanya Rangga. Evan tertawa pelan mendengar gertakan dari Rangga, dia berjalan mendekati Rangga. Kini ke dua pria itu saling berhadapan. "Terus emangnya ada sahabat tapi suka tidur bareng?" Rangga menatap tajam ke arah Evan, dia benar-benar membuat Rangga murka. Entah dari mana dia mendapatkan info itu? Karena itu sudah lama terjadi, dan mereka tidak melakukan hal apa pun, hanya sekedar tidur. Rangga tersenyum smirk mendengarnya, dan menatap tajam ke arah Evan. "Kenapa lu sirik ya? Sedangkan lu sebagai pacarnya gak bisa tidur bareng sama Alya. Inget ya, sampe lo macam-macam sama Alya! Gua gak akan tinggal diam!" papar Rangga. "Lo! Dan gua pastikan Alya akan menjadi milik gua!" ucap Evan. "Good luck!" Rangga membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Evan. "Rangga!" panggilnya. Rangga menghentikan langkahnya, dan sedikit menoleh ke arah Evan. "Satu hal yang lu gak tahu! Bagi gua Alya itu barang murah!" Rangga mengepalkan tangannya, mendengar sahabatnya di nilai seperti itu. "B A N G S A T!" BUGH!! Evan langsung tersungkur ke bawah saat mendapatkan pukulan dari Rangga. Rangga yang melihat Evan tersungkur, langsung mendekat dan memegang kerahnya. "Lu bener-bener b******k tahu gak! Gua pastiin lu gak bisa dapetin Alya!" Rangga kembali menghajar Evan hingga babak belur. Sampai seorang satpam datang dan memisahkan mereka. Napasnya tersengal-sengal karena menahan emosi. Tatapannya begitu tajam ke arah Evan, kini Rangga di jauhkan dari Evan. Sedangkan Evan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Seorang wanita yang bersama dengan Evan, menghampiri Evan dan membantunya untuk berdiri. Evan membalas tatapan Rangga, dia tersenyum miring melihat Rangga emosi padanya. "Awas lu!" tunjuk Rangga dan pergi dari sana. Ia masuk ke dalam mobil, dengan sedikit membantingkan pintunya. Rangga memegang setir itu erat, dia mendengus kasar. "Cowok yang kaya gitu ternyata yang dia mau!" Rangga berdecak kesal, lalu dia menghidupkan mobilnya dan segera pergi dari sana. Sesampainya di rumah, Rangga langsung masuk ke dalam kamarnya. Untung saja saat itu ibunya tidak ada di ruang tengah. Rangga langsung melihat ponselnya dan membaca pesan dari Alya. Rangga menautkan kedua alisnya, saat membaca beberapa pesan dari Alya. Rangga mengetik di atas layar ponselnya. Rangga: Apa? Tidak ada balasan dari Alya, tapi pesan Rangga sudah dibaca oleh gadis itu. Rangga melemparkan ponselnya di atas tempat tidur, dia membuka bajunya hingga memperlihatkan otot-otot tubuhnya. Berjalan ke balkon kamarnya, dengan bertelanjang d**a, Rangga mengepalkan tangannya kuat. Rahangnya mengeras, ucapan Evan masih terngiang di dalam pikirannya. "b******k!" Rangga mengusap wajahnya kasar, ingin sekali dia menghajar habis-habisan Evan. Dan rasanya ingin sekali Dia segera memberitahu Alya. Tapi melihat Alya yang tidak membalas pesannya, Rangga pun mengurungkan niatnya. "Jadi kayaknya lu udah lebih milih cowok itu ya!" gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN