Dia mulai terbangun dari tidurnya yang panjang. Sejenak, pandangannya berpendar mengingat-ingat tempat tersebut, karena rasanya dia belum pernah ke sini sebelumnya. Mata merahnya yang cerah di kegelapan, tampak seperti mata seorang putri yang baru terbangun dari tidurnya.
"Aku ada di mana?" gumamnya. Sekujur tubuh mendadak terasa sakit dan tidak bisa digerakkan.
"Apakah ini gua? Seharusnya aku berada di kamarku." Sembari mencoba bangkit, dia melihat sekitar untuk memastikan lagi. Akan tetapi, tubuhnya tidak mendukung hal itu hingga dia terjatuh seketika.
"Arghh, apa yang terjadi pada tubuhku? Mengapa rasanya sangat sulit digerakkan? Sebenarnya, apa yang terjadi selama aku tidur?" Rintihan pun lolos dari mulutnya. Dia memang tertidur sangat lama hingga membuat tubuhnya kaku. Terlebih lagi dia tertidur di atas batu yang keras.
"Anda telah dipindahkan oleh voice of world." Kembali terdengar suara yang tidak jelas dari mana asalnya.
"Suara itu, seperti suara yang kudengar dalam mimpi." Ciel bergeming. Rasanya dia sendiri tidak yakin itu mimpi atau bukan, karena apa yang dialaminya terlalu nyata jika disebut mimpi.
"Arghh, kepalaku sakit. Aku akan memikirkan itu nanti."
Dia berusaha menepi untuk bersandar pada batu tempatnya tidur. Walaupun diselimuti rasa sakit yang luar biasa, dia tetap memaksakan tubuhnya.
"Dingin, di sini terlalu dingin. Napasku bahkan mengeluarkan uap."
Tidak berangsur lama, tubuhnya mulai bisa digerakkan, meski tidak bisa secara bebas. Perlahan, Ciel mulai bangkit dan melihat sekeliling. Kalau saja tidak ada pencahayaan yang minim, pasti dia akan kesulitan melihat sekitar karena gelap.
Ciel terkejut saat mendapati pemandangan yang sangat indah, ukiran alam menakjubkan, dan suara aliran sungai yang tenang. Suasana ini membuatnya ingin berlama-lama di tempat ini.
Setelah melihat sekeliling, Ciel mencoba keluar dari gua dan berjalan-jalan untuk memeriksa sekitar. Dia kembali mendapati suatu hal yang luar biasa. Bintang-bintang di langit sangat cerah, bahkan cahaya bulan ikut menerangi malam yang gelap.
Tanpa Ciel sadari, justru dirinya jauh lebih indah daripada itu semua. Keindahan yang mengalahkan gemerlap bintang di langit tempatnya berpijak saat ini. Rambut perak cerah yang terurai terkena embusan angin ketika berjalan, juga mata merah cerah yang mampu menerangi dunia. Dia sangat indah.
Lelah berkeliling, Ciel memutuskan untuk duduk dan bersandar di sebuah pohon besar sembari melihat matahari terbit. Seketika dia teringat pada suara yang didengarnya beberapa kali.
"Oh, iya, tadi itu suara apa?" Dia bertanya kepada dirinya sendiri.
"Saya adalah eksistensi yang terlahir karena Anda. Saya berada terukir jauh di dalam jiwamu."
Baru saja bertanya, Ciel sudah mendengar suara itu lagi. Awalnya dia mengira itu perasaannya saja, tetapi perasaan aneh seakan mematahkan perkiraannya.
"Apa? Kamu siapa?" Dengan wajah kebingungan, dia mencoba untuk bertanya.
"Aku telah menunggumu, Tuan," kata suara itu.