Part 9

1178 Kata
Vina memperhatikan dua sejoli yang sedang kasmaran di hadapannya dengan tatapan tajam dengan berbagai pikiran di kepalanya. Tangan kanannya menopang dagu sementara tatapannya tak pernah lepas dari wajah sumringah Anggi yang tak pernah lepas dari senyuman saat sedang berbicara dengan Alvin, padahal obrolan mereka tidak lepas dari seputar pelajaran. Kemudian tatapannya beralih pada kakak kembarnya, pemuda itu sesekali mengacak pelan rambut Anggi yang membuat sang kekasih protes karena membuat tatanan rambutnya menjadi berantakan. Namun anehnya Vina tidak menemukan ekspresi kemarahan di sana melainkan hanya tatapan merajuk dan manja di saat yang bersamaan. Ia bahkan sering memergoki Alvin menatap layar ponselnya sambil tersenyum tipis saat berkirim pesan dengan Anggi, padahal obrolan mereka hanya obrolan biasa yang terkadang membuatnya bingung dengan sikap kakaknya itu yang sudah seperti orang gila. “Apa pacaran memang semenyenangkan itu?” gumamnya lebih kepada dirinya sendiri yang bahkan ia sendiri tidak sadar isi pikirannya ia suarakan dengan keras sehingga Anggi yang sedang sibuk menulis di depannya mendongak menatapnya. “Kenapa, Na?” Wajah bingung Anggi semakin menjadi-jadi tatkala gadis di depannya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia sempat berpikir mungkin saja gadis itu merasa bosan karena diajak ke perpustakaan olehnya yang memang menjadi tempat terkutuk baginya. Namun kali ini ada yang tampak berbeda dari gadis cantik dan tinggi itu, ia tidak menolak ajakannya seperti biasa melainkan langsung mengangguk dan ikut dengannya tanpa mengeluarkan protes sedikit pun. “Nggak, aku lagi baca buku.” Vina mengangkat buku di depannya, berpura-pura fokus membaca isinya sehingga tidak sadar bahwa bukunya terbalik. Anggi tertawa pelan, ia dengan tenang memperbaiki posisi buku Vina agar membuat gadis itu sadar bahwa bukunya terbalik. “Bukumu terbalik, Na. Atau kamu memang punya kebiasaan membaca buku dengan tulisan terbalik?” Tawanya semakin lebar tatkala melihat Vina yang menggaruk kepalanya seperti orang bodoh. Alvin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adik kembarnya yang memang selalu membuat orang-orang di sekitarnya bingung dengan kelakuan anehnya. “Biarkan saja, Nggi. Otaknya memang berbeda dengan kita.” Vina hanya mencibir tanpa suara sebagai tanggapan atas ucapan Alvin yang sedikitnya melukai hatinya, meskipun tatapannya tetap tajam dan menusuk masuk sampai ke tulang-tulang Alvin yang bergidik ngeri di tempatnya. Beruntunglah mood-nya hari ini tidak sedang dalam keadaan buruk, jika tidak mungkin ia sudah mencekik leher kakaknya itu dengan satu tangan saat ini. Ia kembali membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia yang menurutnya lebih mudah dicerna oleh otak standarnya dibandingkan dengan buku pelajaran lainnya. “Yo, Na. Tumben kamu belajar? Kesambet setan?” Adit yang baru muncul di dalam perpustakaan mengacak-acak kasar rambut Vina yang memang hari ini ia urai tidak seperti biasanya yang selalu ia kuncir kuda. Pemuda itu tampak puas melihat hasil karya tangannya yang membuat Vina tampak seperti orang gila yang tidak pernah menyisir rambutnya selama bertahun-tahun. Vina menatap Adit yang datang bersama Bayu dengan tatapan membunuhnya, napasnya naik turun menahan emosinya yang sebentar lagi meledak. Ia bahkan tidak mempunyai keinginan untuk merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulah tangan nakal pemuda di depannya yang hanya menampilkan senyum bodohnya tanpa merasa bersalah. “Dasar setan! Adit s****n!” Teriakan membahana Vina membuat orang-orang yang berada di perpustakaan serentak menoleh padanya dengan tatapan terganggu dan tentu saja tak lupa Bu Narti si penjaga perpustakaan langsung menegurnya dengan tatapan tajam. “Siapa itu yanag teriak? Kalau mau membuat keributan silakan lakukan di luar, jangan di perpustakaan di mana orang-orang sedang belajar.” Vina menoleh pada Bu Narti sambil merapikan kembali rambutnya yang berantakan. Tatapannya melembut menatap perempuan paruh baya itu. “Maaf, bu.” Kemudian tatapannya kembali menajam saat matanya bertumpu pada Adit yang kini berpura-pura serius membaca buku Bahasa Indonesia yang tadi sedang dibacanya. “Sini kamu.” Sekonyong-konyong tangan kanannya langsung menarik pemuda itu yang membuat si pemilik mengaduh kesakitan. “Aduh, aduh, sakit, Na. Ampun, tadi cuma bercanda.” Adit hanya bisa pasrah saat tubuhnya ditarik keluar dari perpustakaan diikuti tatapan penasaran orang-orang di sana. Ia hanya mampu berdoa dalam hati agar nyawanya masih menempel di tubuhnya setelah ini. Ia tidak mau mati muda apalagi sebelum mencicipi nikmatnya pacaran. Bayu yang memang datang bersama dengan Adit hanya geleng-geleng kepala melihat dua orang yang baru saja meninggalkan perpustakaan. “Kubilang juga apa, Dit. Jangan mengganggu singa yang sedang tidur.” Kemudian ia fokus membaca buku Kimia yang ia ambil dan sesekali bertanya pada Alvin atau Anggi bagaimana cara menyelesaikan soal yang menurutnya sulit. ***** Vina sesekali memberikan tatapan tajamnya saat bertatapan dengan Adit yang masih berusaha memperbaiki seragam sekolahnya yang berantakan. Rambutnya yang ia rapikan pagi ini sudah berantakan dengan bentuk yang tidak karuan dan jangan lupakan telinganya yang masih memerah akibat ulah tangan kejam Vina yang benar-benar tak memberinya ampun sedikit pun. “Makanya jangan macam-macam kalau tidak mau menerima akibatnya,” ancam Vina sambil memperlihatkan kepalan tangannya yang tidak akan segan-segan ia berikan pada siapa pun yang mengganggunya termasuk kakaknya sendiri. Ia benar-benar tak pandang bulu jika sudah gelap mata. Bagas yang baru tiba dari kantin sambil membawa beberapa camilan di kantong plastik hitam yang ditentengnya tak bisa menahan tawanya saat melihat penampilan Adit yang cukup menggenaskan saat ini. “Kamu kenapa, Dit? Seperti habis diamuk singa aja.” “Memang iya, dan itu singanya.” Adit menunjuk Vina dengan dagunya tak menyadari tatapan membara dari gadis itu yang seperti bisa membakar seluruh isi kelas saat ini. Ia malah sibuk tertawa bersama Danu dan tak menyadari nyawanya sewaktu-waktu bisa melayang kapan saja saat ini. Angga yang duduk di samping Vina saja sampai merinding menyadari aura membunuh yang keluar dari tubuh gadis itu. Ia menoleh pada Adit dan Bagas, memberikan kedua pemuda itu tanda X dan memperingati mereka agar tidak memancing amarah Vina yang sudah bersiap meledak kembali saat ini. Ia yakin jika saat ini Vina kembali mengamuk maka ia juga sudah dipastikan akan menerima akibatnya juga dan tentu saja ia ingin menghindari itu. Beruntungnya Bagas dan Adit menyadari tanda yang diberikan oleh Angga sehingga mereka berdua memilih untuk bungkam. Mereka bahkan tak bisa menggerakkan mulut mereka untuk mengunyah roti yang sedang mereka makan dan langsung menelannya bulat-bulat yang membuat mereka tersiksa sendiri. Mereka saling senggol dengan tatapan horror menatap sosok gadis di depannya yang sudah seperti sosok kuntilanak saat ini. Keringat sebesar biji jagung jatuh mengaliri pelipis mereka akibat keringat dingin padahal kipas di dalam kelas cukup dingin untuk membuat mereka tetap segar dari keringat. Angga menghela napas lega sembari mengusap dadanya dan tak lupa bersyukur dalam hati. Namun kemunculan Danu di ambang pintu membuat ketakutannya yang sudah hilang kini muncul kembali. Perasaannya sudah tidak enak saat melihat raut wajah pemuda jangkung itu yang memperhatikan penampilan Adit yang berantakan dan saat ia menoleh pada Vina ia tertawa keras, “Kamu kenapa, Na? Udah kayak kuntilanak yang muncul di siang bolong.” “Mampus.” Angga menepuk jidatnya dengan dramatis dan sebelum ia menjadi salah satu korban dari gadis di sampingnya. Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi dari sana dan langsung tancap gas saat Vina mulai bergerak dari posisinya. Di ambang pintu ia bertabrakan dengan Bagas dan Adit yang ternyata memiliki pemikiran yang sama dengannya, mereka bertiga saling berpandangan dan kemudian berteriak seperti orang kesetanan. “Lari! Ada kuntilanak mengamuk!” *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN